Just another WordPress.com site

Posts tagged “TVXQ

[Fanfiction] Cafe to Love

poster-cafetolove

TITLE: CAFE TO LOVE
ONESHOT STORY
AUTHOR: @ZERLIINDA

Waktu tepat menunjukkan pukul 2 siang, tanda kalau sekolah telah usai. Changmin segera merapikan buku-bukunya yang berserakan di meja dan lacinya, lalu memasukkannya ke dalam loker. Wajah Changmin begitu gembira setelah keluar dari ruang kelasnya. Ia langsung berlari menuju ke parkiran, dimana sepeda birunya yang imut diletakkan.
Changmin bergegas pergi meninggalkan halaman parkiran sekolah. Begitu keluar dari gerbang, ia membelokkan sepedanya ke kiri. Seharusnya ia berbelok ke kanan, ke arah rumahnya, tapi ada sebab kenapa ia membelokkan sepedanya ke arah yang berlawanan dari arah rumahnya.
Karena ia takut pulang ke rumah? Bukan, untuk apa Changmin takut pulang ke rumahnya. Atau karena ia ingin bermain dengan teman-temannya? Bukan juga. Ia lebih memilih belajar atau tidur siang, daripada bermain tidak jelas dengan teman-temannya. Satu alasannya, karena seorang perempuan.
Ya, sudah tiga minggu terakhir Changmin selalu pergi ke cafe yang terletak di dekat perpustakaan kota. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang perempuan sedang duduk sendirian di dalam cafe itu. Perempuan tadi duduk membelakangi jendela cafe, jadi Changmin tidak bisa melihat bagaimana wajah perempuan itu. Yang ia tahu pasti bahwa rambut perempuan tadi panjang berwarna hitam kecoklatan.
Entah apa yang terjadi pada dirinya, ia nekat masuk ke cafe itu dan membeli secangkir kopi hanya untuk melihat perempuan tadi. Hari ini ia sebenarnya tidak begitu yakin untuk pergi lagi ke cafe, karena sudah hampir seminggu ia tidak melihat perempuan itu.
Setelah memarkirkan sepedanya, ia segera masuk ke dalam cafe tersebut. Ia membeli secangkir vanilla latte. Diedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe. Dan apa yang ia cari selama hampir seminggu ini akhirnya ia dapati. Perempuan itu. Ia duduk di pojok ruangan. Sendirian, seperti biasanya.
Dengan gugup, Changmin berjalan menuju ke tempat perempuan itu.
“Maaf Nona, apa boleh aku duduk di kursi ini?” tanya Changmin hati-hati.
Perempuan tadi mengangkat kepalanya, hal yang mungkin tidak pernah ia lakukan. Deg. Changmin terpaku melihat wajah perempuan ini. Wajahnya begitu cantik, pipinya tirus, kelopak matanya yang lumayan besar.
“Silahkan,” –dan suaranyapun sangat lembut.
Suara dari perempuan tadi akhirnya menyadarkan Changmin ke dunia nyata, setelah tadi ia sempat terbang ke langit. Changmin menggumamkan kata ‘terimakasih’ sambil menarik kursi yang ada di hadapan perempuan tadi.
Setelah Changmin duduk, suasana diantara keduanya menjadi canggung. Changmin bingung harus bagaimana, sementara perempuan di hadapannya sibuk dengan laptopnya.
“Maaf kalau boleh tahu, Nona sedang apa?” tanya Changmin gugup.
“Ya?” tanya perempuan tadi yang sepertinya tidak mendengar apa yang dikatakan Changmin. Mungkin ia terlalu sibuk dengan kegiatannya.
“Kalau boleh aku tahu, Nona sedang apa? Kelihatannya serius sekali?” Changmin mengulang pertanyaannya. Kali ini ia tidak segugup tadi.
“Oh. Aku hanya sedang menulis cerita. Kau mau membacanya?” tawar perempuan itu.
“Eh?” Changmin terkejut. “Bo…boleh kah?”
“Tentu saja. Kebetulan ceritanya sudah selesai. Ini, bacalah!” ia membalikkan laptopnya ka arah Changmin. “Judulnya, Cafe to Love.”
Changmin membaca kalimat demi kalimat yang tertera di layar laptop. Karena ia sering membaca buku, jadi ia dapat membacanya dengan cepat. Ia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk membaca tulisan sebanyak 17 lembar.
Disitu diceritakan ada seorang laki-laki yang awalnya sangat benci untuk menghabiskan waktu luangnya untuk bermain—apalagi untuk pergi ke cafe—menjadi suka mengunjungi cafe karena ia bertemu secara tidak sengaja dengan seorang perempuan yang selalu ia lihat. Perempuan itu selalu duduk sendirian sambil menikmati kopi dan menulis sesuatu di notebooknya. Hingga suatu hari laki-laki itu memberanikan dirinya untuk bertemu dengan perempuan itu.
Setelah selesai, Changmin mendapati perempuan tadi menatapnya penuh harap. Changmin hanya tersenyum melihat itu.
“Bagaimana menurutmu? Ceritanya bagus tidak? Ada kurang apa tidak? Atau ada kata-kata yang salah penulisannya?” perempuan tadi langsung memburu Changmin dengan berbagai pertanyaannya.
Changmin yang melihat itu hanya terkekeh karena ia menganggap wajah perempuan itu lucu saat ia khawatir mengenai ceritanya yang tadi dibaca oleh Changmin.
“Kenapa kau tertawa? Ceritanya jelek ya? Sudah kuduga, seharusnya aku tidak menulis cerita seperti itu.” Wajahnya berubah menjadi kecewa. Changmin jadi tidak enak.
“Bu..bukan seperti itu, Nona.” kata Changmin cepat.
“Lalu?”
“Ceritanya bagus—sangat bagus, malah. Aku sangat suka dengan ceritanya. Alurnya, penggunaan kata-katanya, itu semua sudah tepat menurutku.” Changmin tersenyum ketika mengutarakan pendapatnya tentang cerita tadi.
“Jinjja?” Rasa senang itu terlihat sekali dari wajahnya yang manis. “Terima kasih.” Ia tersenyum lebar, membuat kedua matanya juga ikut tersenyum. Manis sekali.
“Sama-sama.” Changmin ikut tersenyum membalas senyuman dari perempuan tadi. “Kalau boleh tahu, Nona dapat inspirasi cerita ini darimana?”
“Ah itu, entah kenapa sejak aku berkunjung ke cafe ini aku mendapat inspirasi untuk menulis cerita seperti ini. Sepertinya cafe ini sangat cocok untuk tempat kencan atau menemukan kekasih, ya? Banyak teman-temanku yang berpacaran hanya karena tidak sengaja bertemu di cafe, salah satunya cafe ini.” Perempuan itu mengoceh panjang lebar.
Changmin hanya tersenyum mendengarkan sambil matanya terus menatap ke arah perempuan itu. Sepertinya ia benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan perempuan ini.
“Hei!” Changmin langsung tersadar dari lamunannya setelah perempuan tadi mengibaskan tangannya di depan wajah Changmin. “Kau melamun? Atau kau sedang sakit” Perempuan itu menempelkan tangannya ke dahi Changmin, dan itu sukses membuatnya salah tingakah. Changmin buru-buru menjauhkan wajahnya dari tangan perempuan itu.
“A..aku tidak apa-apa, Nona.” Jawab Changmin gugup.
“Oh, syukurlah kalau kau tidak apa-apa.” Perempuan itu kembali tersenyum. “Sudah setengah empat, aku harus pulang sekarang. Aku ada les matematika.” ucapnya sambil bergegas memasukkan laptopnya ke dalam tas dan beranjak dari kursinya.
“Nona?!” Changmin segera berlari kecil mengejar perempuan itu.
Ia berhenti berjalan dan berbalik. “Ya?”
“Boleh tahu, Nona sekarang kelas berapa?” tanya Changmin penasaran.
“Oh, aku sekarang kelas 1 SMA. Ohya, aku Eunra, Kim Eunra.”
“Bagaimana kalau kita belajar matematika bersama? Kebetulan aku juga sama denganmu. Namaku Changmin, Shim Changmin.”
Eunra terlihat berpikir sebentar sebelum kemudian seulas senyum terukir di wajahnya. “Baiklah kalau begitu. Besok pukul 2 siang, aku tunggu kau disini ya.” Changmin mengangguk setuju. Sebuah bis datang dari arah barat, dan saat itu juga Eunra melambaikan tangannya kearah Changmin. “Aku pulang duluan ya. Sampai besok, Changmin~”
Changmin membalas lambaian tangan itu, dan kedua matanya terus melihat bis itu, sampai bis itu hilang dari pandangannya setelah berbelok ke kanan. Ia berjalan menuju parkiran, dan mengambil sepedanya. Hari ini ia pulang dengan perasaan yang sangat senang. Tentu saja karena ia berhasil bertemu dengan perempuan yang telah mencuri perhatiannya sejak beberapa waktu yang lalu. Apalagi ia juga bisa mengajak Eunra untuk berlajar matematika bersama. Nasibnya benar-benar beruntung hari ini.
Ia kembali teringat dengan cerita yang ditulis Eunra. Inti dalam cerita itu sangat mirip dengan apa yang dialami Changmin terhadap Eunra. Semoga saja memang benar.
Ini pasti akan jadi akhir yang menyenangkan, pikirnya yakin.


[Fanfiction] In Your Arms

edit-minsica

Author: @zerliinda
Casts: TVXQ Shim Changmin and SNSD Jung Jessica
Length: oneshot

==============================================================================================

Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Jessica hanya menangis di kamarnya. Ini sering dilakukannya semenjak beberapa tahun yang lalu. Momen-momen bersama orang yang dicintainya seakan berputar di kepalanya seperti rekaman sebuah film dokumenter. Semuanya. Tidak ada hal yang dilewatkan oleh Jessica.
Jessica sebenarnya bukan orang yang suka menangis. Tapi keadaannyalah yang memaksanya menjadi seperti itu. Ditinggalkan oleh seorang kekasih yang sangat dicintainya, itu jelas membuatnya tak bisa menahan airmatanya setiap ia teringat kembali oleh momen-momen yang diciptakan oleh mereka berdua.

“Oppa mau membicarakan apa? Kedengarannya serius sekali sampai mengajakku kesini?” tanya Jessica pada lelaki jangkung yang sekarang duduk tepat di hadapannya.
Terlihat Changmin menghela nafasnya sejenak. “Saat pertama kali Oppa melihatmu di halte, entah kenapa sejak saat itu Oppa jadi susah tidur. Yang ada di pikiran Oppa hanyalah kau, Sica. Oppa juga tidak tau kenapa. Tapi sekarang Oppa tau apa artinya itu…” Sekali lagi Changmin menghela nafasnya. “Saranghae. Maukah kau menjadi kekasihku, Sica?”
Jessica terlihat terkejut dengan pernyataan Changmin barusan. Ia tidak menyangka kalau cintanya pada lelaki jangkung ini ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. “Nado saranghae, Oppa.” Jessica tersenyum.
“Jinjja? Apakah aku tidak salah dengar? Kau menerimaku, Sica?”
Jessica hanya mengangguk sambil tersenyum manis. “Gomawo, jagi.” ucap Changmin senang.

Jessica kembali meneteskan air matanya. Samar-samar ia mendengar lagu milik Krissy dan Ericka yang berjudul In Your Arms yang mengalun dari ruang tengah apartmentnya.

Remember those nights, we stayed up just laughing on the phone
Remember that time you said that “I would never let you go”
Remember that time when I said that we could never ever be
But I know it’s a lie because deep down inside

Refleks, ingatan Jessica kembali lagi ke masa lalu. Saat dimana ia dan kekasihnya itu masih bersama.

“Yaa Oppa?” panggil Jessica saat mereka tengah berjalan menuju apartment jessica.
“Ne, jagi?”
“Nanti malam menginap di apartmentku ya? Katanya sih nanti malam ada film bagus, aku ingin nonton dan ditemani Oppa~ mau ya?” pinta Jessica manja.
“Hmm… baiklah. Tapi nanti jangan lupa imbalannya ya~” Changmin mengedipkan sebelah matanya sambil menyeringai mesum.
Seakan menyadari apa yang dimaksut Changmin, Jessica langsung berteriak kesal. “Yah! Dasar byun!” Jessica memukul lengan kekasihnya itu.
“Aww aww. Ampun jagi, ampuun!” merasa bahwa Jessica tidak akan berhenti memukulnya, Changmin langsung memeluk Jessica. “Kalau kau terus memukul Oppa, Oppa akan menciummu sekarang.”
Jessica merasakan panas di pipinya. Ia hanya diam di pelukan Changmin yang hangat itu. Mereka melanjutkan perjalanan ke apartment Jessica sambil bergandengan tangan.

“Oppa?” panggil Jessica sambil menyandarkan kepalanya di bahu Changmin.
“Hmm?”
“Kalau misalnya tiba-tiba aku berubah menjadi jelek, gemuk, dan tidak menarik lagi, apa Oppa masih mencintaiku?”
“Mmm tergantung~”
“Tergantung apa?”
“Tergantung sejelek mana penampilanmu~”
Jessica menegakkan badannya. “Yaa apa maksut Oppa?!” tanya Jessica kesal.
Changmin terkekeh geli melihat ekspresi kesal pada wajah Jessica yang entah kenapa membuatnya terlihat lucu. Changmin menyandarkan kepala Jessica lagi di bahunya. “Tidak tidak, Oppa hanya bercanda, jagi. Oppa tidak akan meninggalkanmu walaupun kau berubah sejelek apapun.” jawab Changmin lembut sambil mengelus pelan rambut Jessica.
“Benarkah?” jessica melihat ke arah Changmin. Changmin hanya mengangguk.
“Oppa janji tidak akan pernah meninggalkanmu.” ucap Changmin lagi.
“Makasih Oppa. Hehehe.”
Suasana menjadi hening seketika. Mereka kembali melanjutkan menonton film.
Changmin merasakan hembusan nafas lembut Jessica. Ia menoleh ke arah Jessica, dan mendapatinya telah tertidur pulas di bahu Changmin. Changmin hanya tersenyum melihatnya. Perlahan ia mengangkat tubuh Jessica dan kemudian membawanya ke kamarnya. Ia menyelimuti tubuh Jessica lalu mengecup lembut keningnya. “Goodnight, princess.”

+++
Sore ini jessica hanya duduk sambil memeluk lututnya di sofa yang menghadap ke jendela. Saat ini diluar sedang hujan deras. Dan tentu saja udaranya menjadi sangat dingin. Lagi-lagi Jessica teringat oleh lelaki itu. Saat itu, dimana mereka memulai kisah manis mereka.

“Ah, sial! Aku kelupaan tidak membawa payung hari ini!” umpat jessica.
Hari ini hujan deras kembali mengguyur kota Seoul. Itu memaksa Jessica harus tertahan di halte bus. Ia harus berusaha bertahan di halte ini atau kalau tidak mencari tumpangan payung.
Jessica melirik jam yang melingkar manis di tangan kirinya. 4.30 p.m. Sudah 45 menit Jessica menunggu di halte ini, tapi hujannya juga tak kunjung reda. Baru saja ia akan nekat hujan-hujanan, tetapi sebuah suara menghentikannya.
“Butuh tumpangan payung, nona?” tanya seorang lelaki.
Jessica membalikkan badannya menatap sosok lelaki tadi. Badannya tegap, tinggi, wajahnya juga tampan. “I-iya.”
“Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Ayo!” ajaknya.
Jessica sempat melamun sebentar ketika memandang wajah tampannya itu. “Nona?” lelaki tadi mengibaskan tangannya di depan wajah jessica, dan itu sukses membuat Jessica tersadar dari lamunannya.
“E-eh. Baiklah.” Jessica berjalan mendekat ke arah lelaki tadi. Jadilah mereka pulang bersama.
“Shim Changmin. Kau bisa memanggil Changmin.”
“Jung jessica. Kau bisa memanggilku Sica. Senang berkenalan denganmu Changmin-ah.”
“Nado.” ia tersenyum.
“Mmm sudah sampai rumahku. Kau mau mampir dulu?”
“Tidak usah, Sica. Aku langsung pulang saja.”
“Oh yasudah. Terimakasih ya.” ucap Jessica lalu berjalan menuju teras rumahnya.
“Sama-sama. Aku pulang dulu. Annyeong~”

+++

Jessica memutuskan untuk kembali ke apartmentnya setelah menghabiskan waktunya di pantai. Begitu ia akan beranjak dari tempatnya, seorang lelaki yang tengah berdiri membuatnya berhenti melangkah.
“Op-Oppa?!” tanya Jessica memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar kekasihnya yang sudah lama dirindukannya.
“Ne, Sica. Ini Oppa.” lelaki tadi tersenyum. Senyum itu, senyum yang sangat Jessica suka. “Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya dengan penuh harap. Jessica hanya mengangguk kemudian kembali duduk di tempatnya yang tadi.
“Oppa minta maaf.” ucapnya lalu menunduk.
“Untuk?”
“Maafkan Oppa sudah meninggalkanmu. Oppa sebenarnya tidak bermaksut meninggalkanmu. Oppa hanya menuruti perintah Appa untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Dan waktu itu… Oppa tidak sempat berpamitan padamu. Maaf, Sica.”
Tanpa terasa, air mata Jessica kembali menetes. Changmin—lelaki tadi yang mendengar sebuah isakan, langsung menoleh ke arah Jessica.
“jagi, kau kenapa? Kenapa kau malah menangis? Oppa minta maaf, jagi.” Changmin yang tidak tahan melihat Jessica, langsung memeluk tubuh kecil perempuan itu.
“Aku merindukanmu Oppa, sangat.” isak Jessica dalam pelukan Changmin.
Changmin membelai lembut rambut Jessica. “Nado. Sudahlah, jangan menangis lagi, ne?”
Changmin melepaskan pelukannya. Ia menatap dalam kedua mata Jessica. Tanpa terasa jarak antara mereka semakin lama semakin dekat. Dan, cup. Sebuah kecupan hangat menghapus jarak diantara mereka.
“Oppa, berjanjilah kalau kau tidak akan meninggalkanku lagi seperti kemarin. Oppa tau? Aku hampir gila karena mengira bahwa Oppa sudah tidak ada.” ucap Jessica
“Ne, Oppa janji jagi. Maafkan Oppa ya?” pinta Changmin.
Jessica hanya mengangguk sambil tersenyum.

END


[FANFICTION] CONFESSION

TITLE: CONFESSION

AUTHOR: LINDAA (@lzerlindaa)

CASTS: 

– LEE SOO YEON

– JUNG YUNHO

– SHIM CHANGMIN

HAPPY READING ~

========================================================

 

“Hahaha nggak mungkinlah Min. Aku nggak mungkin jatuh cinta sama Yunho yang sombongnya setinggi langit itu,” kataku.

“Tapi Lee SooYeon, tidak menutup kemungkinan kalau kau bisa jatuh cinta pada Yunho,” ujar Changmin, sahabat dekatku sejak kecil.

“Maksudmu apa, Min?”

“Yah kau pasti tau kan alasannya, pertama karena Yunho memiliki wajah yang tampan dan IQ-nya juga tinggi, kedua karena umm yah kau tahu kan kalau dia pewaris tunggal JK corp?” tanyanya.

“Uhm yeah dia memang mendekati perfect, tapi sayangnya aku tidak menyukai sifatnya itu. Kau tentu tahu kan dia seperti apa orangnya?” tanyaku balik.

“Sombong dan menyebalkan.” Jawabnya tanpa melepaskan pandangannya dari layar TV.

“Nah itu kau sudah tau. Jadi tak mungkin kan kalau aku jatuh cinta padanya? Hahaha,” tawaku. “Sudah ah, aku mau ke café seberang dulu. Kau mau ikut?” tawarku pada Changmin yang masih asyik menonton film.

“Tidak usah, aku mau menyelesaikan film ini dulu, setelah itu aku mau menyelesaikan seluruh tugas kuliahku malam ini juga, jadi besok-besok aku tidak akan terbebani oleh tugas itu lagi,”

“Okelah. Kalau bisa kerjakan punyaku sekalian ya. Daah hahaha,” tawaku lagi.

“Hei aku titip vanilla latte ya!” teriaknya sebelum aku menutup pintu.

CONFESSION

Hai. Perkenalkan namaku Lee SooYeon. Aku berumur 19 tahun dan kini tengah berkuliah di salah satu perguruan terbaik di Seoul. Aku tinggal di Seoul bersama sahabatku, Shim Changmin. Changmin juga seumuran denganku dan satu perguruan tinggi denganku. Kami berdua bersahabat sejak kami masih kecil.

Sekarang aku tengah jalan kaki menuju ke café langgananku yang letaknya hanya di seberang rumahku.

Aku segera menempati tempat duduk yang letaknya agak pojok dan memesan minuman pada salah satu pelayan café ini. Beberapa menit setelahnya, minuman pesananku datang. Bukannya langsung meminumnya, aku malah menatap kosong pada kepulan asap kopi yang masih panas itu.

Entah kenapa saat aku melihat ke cangkir kopi itu, di kepalaku langsung muncul wajah Yunho saat sedang tersenyum.

Aku tersadar dari lamunanku saat seorang pelayan mengantarkan minuman pesanan Changmin. Aku langsung menghabiskan kopiku dan membayarnya, lalu cepat-cepat pergi dari situ.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke rumah. Saat aku melewati taman kota, tempat itu terlihat sepi, mungkin karena ini sudah hampir tengah malam dan tadi juga sempat turun hujan walau tidak begitu deras.

Tapi sosok lelaki yang tengah duduk sendirian di bangku taman itu menarik perhatianku. Lelaki itu jika dilihat dari belakang seperti… Jung Yunho, mungkin?

Entahlah perasaanku mengatakan kalau lelaki itu adalah Yunho, prang yang paling menyebalkan yang pernah kukenal. Tapi untuk apa dia berada di taman kota tengah malam begini?

Aku mencoba mendekatinya perlahan. “Jung Yunho?” panggilku.

Ia seketika itu juga menoleh kearahku yang sekarang tepat berada di belakangnya. Dan tepat sekali dugaanku. Ia benar Jung Yunho. Syukurlah, kalau begitu aku tak perlu merasa malu karena salah orang.

Ia hanya menoleh sebentar, lalu kembali memunggungiku. Ada apa dengan orang ini, pikirku. “Boleh aku duduk?” tanyaku. Ia tetap diam. Aku kemudian berjalan dan duduk di sampingnya.

Lama kami terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya aku ingin mengajaknya ngobrol, tapi kurasa ia sedang tidak ingin diganggu.

“Kau pernah merasakan ditinggal selamanya oleh ibumu?” akhirnya ia membuka mulutnya juga.

“Tidak pernah. Kenapa?” tanyaku.

“Apa yang akan kau lakukan ketika ibumu sudah meninggal, lalu ayahmu menikah lagi dengan wanita lain yang hanya mengincar harta kekayaan keluargamu, dan ia sama sekali tidak mempedulikan keluarganya?”

“Entahlah. Aku belum pernah mengalami hal itu, jadi aku tidak tahu harus berbuat apa.” Jawabku. “Kau sedang ada masalah, Yunho?”

Ia menghembuskan nafasnya pelan, lalu mengangguk secara perlahan.

“Kau bisa berbagi masalahmu padaku, yah kalau kau mau sih. Kalau tidak juga tidak apa-apa,”

“Entahlah.” Jawabnya singkat. “Aku pulang dulu. Selamat malam.” Ucapnya lalu pergi meninggalkanku yang masih duduk di bangku taan itu.

Aku tetap duduk menungguinya sampai ia menghilang di perempatan jalan. Setelah yakin ia benar-benar tidak terlihat lagi, aku bangkit dan berjalan pulang ke rumah.

“Aku pulang!” ujarku sambil melepas sepatuku.

“Kau baru pulang? Lama sekali?” seseorang bertubuh jangkung keluar dari ruangan yang terletak di sebelah kamarku.

“Iya. Maaf tadi aku bertemu temanku sebentar. Ini pesananmu. Tapi sepertinya sudah agak dingin hehehe maaf,”

Changmin mengambil vanilla latte yang tadi kuletakkan di meja makan, kemudian meminumnya.

“Bagaimana tugas-tugasnya? Sudah kau kerjakan semua?” tanyaku sambil menyalakan televisi.

“95% sudah. Kurang sedikit lagi. Kau sudah mengerjakan tugas dari Dosen Kim?”

“Sudah sepertinya. Lihat saja di kamarku.” Jawabku. “Hei ada Lee Donghae di TV! Astaga, dia itu benar-benar tampan ya.” Ucapku.

“Ckckck dasar fangirl,” Changmin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sudah ya, aku mau melanjutkan tugasku lagi. Kalau kau butuh aku, aku ada di kamar. Dan terimakasih untuk vanilla latte-nya.”

“Oke.”

Pandanganku masih terus fokus ke layar televisi, namun entah kenapa pikiranku tertuju pada Yunho. Entahlah sepertinya Yunho tadi sedang mendapat masalah yang cukup berat. Biasanya aku tak pernah melihat wajahnya semurung tadi.

Aku menengok ke arah jam yang terletak tepat diatas TV. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku menguap lagi. Kumatikan televisi, dan berjalan menuju kamarku. Sebelum sampai ke kamar, aku terlebih dulu mengecek Changmin.

Aku melangkah masuk ke kamar Changmin, dan aku menemukannya tertidur di tumpukan buku-buku kuliahnya. Karena kasian padanya, aku berusaha memindahkan badan Changmin ke kasur. Setelah bersusah payah, akhirnya aku berhasil menidurkan Changmin di kasur.

Sampai di kamarku, aku segera menuju kasur dan menutup mataku.

[ONE WEEK LATER]

“Aku pergi dulu ya Min.” pamitku sambil memakai jaket coklat kesayanganku—hadiah dari kakaku, Lee Jinki.

“Kau mau pergi? Tengah malam begini? Apa kau sudah gila?”

“Tidak. Aku hanya ingin mencari udara segar di luar.” Jawabku.

“Oh. Yasudah. Jangan lama-lama ya!”

“Memang kenapa? Kau takut ya kalau kutinggal sendirian di rumah? Hahaha,” ejeku lalu tertawa keras, alhasil setelah itu aku mendapat lemparan bantal dari Changmin. “Hei jangan melempariku!”

“Sudah sana cepat pergi. Kalau boleh aku belikan vanilla latte lagi ya. Hehehe,”

Aku menutup pintu rumah lalu berjalan memutari kompleks perumahanku. Sampai di taman kota, aku kembali melihat Jung Yunho sedang duduk sendirian di salah satu bangku taman yang kosong. Aku melangkah menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya.

“Kau?!” tanya Yunho heran saat aku duduk di sampingnya. “Kenapa kau bisa ada disini? Tengah malam begini?”

“Aku tadi hanya berniat mencari udara segar, tapi begitu aku melihatmu ada disini, aku menghampirimu.” Jawabku. “Kau kenapa duduk sendirian di taman yang sepi begini? Masih ada masalah?”

“Begitulah.” Jawab Yunho pelan. “Ohya, ngomong-ngomong siapa namamu? Dari awal kita bertemu, aku belum pernah tau namamu, yah walaupun kita satu jurusan,”

Aku mengulurkan tanganku, “Lee SooYeon.”

“Senang berkenalan denganmu,” Yunho menyambut uluran tanganku dan tersenyum ramah. Saat ia tersenyum, baru kusadari ia begitu tampan dan mempesona. Hei, apa yang sedang kupikirkan ini.

“Kau tidak ingin berbagi masalahmu padaku? Siapa tau aku bisa membantu.” Tawarku.

Ia menghembuskan nafasnya, “Sebenarnya aku ingin bercerita, tapi…” ia menggantungkan kalimatnya. “Entahlah.”

“Aku tak akan memaksamu untuk menceritakan masalahmu padaku, kalau kau memang tidak mau bercerita, yasudah.”

Kami sama-sama terdiam, suasana kembali menjadi sunyi.

“Ibuku meninggal satu tahun yang lalu—tepat di hari ulangtahunku, 6 Februari…” Yunho mulai bicara. “Kemudian beberapa bulan yang lalu, ayahku menikah lagi dengan seorang wanita yang memang lumayan cantik. Tapi kau tahu, ibu tiriku itu hanya mengincar harta kekayaan ayahku saja. Ia sama sekali tidak peduli dengan keluarga kami. Jika ayahku sedang mendapat tugas di luar negeri, ibuku pasti menghabiskan uangnya untuk berpesta dengan teman-temannya. Ada satu hal yang paling fatal dari ibu tiriku itu…” ucapannya terhenti seketika.

“Apa?” aku mulai terbawa ceritanya.

“Saat ayahku pergi ke Jepang, aku melihat ibuku selingkuh dengan lelaki lain…” lanjutnya.

“Lalu bagaimana dengan ayahmu? Kau pernah menceritakan pada ayahmu tentang ibu tirimu itu?”

“Aku sudah berusaha menceritakannya pada ayahku, tapi ayahku tetap tidak percaya pada ceritaku…” ucapnya. “Suatu saat aku pernah mendengar obrolan ibu tiriku itu dengan selingkuhannya. Inti dari obrolan mereka adalah mereka ingin merebut perusahaan milik ayahku, JK corp.”

“Aku tidak tau harus bagaimana untuk membantumu. Aku belum pernah mengalami hal seperti itu. Maaf.” Kataku lalu menunduk.

Yunho menghembuskan nafasnya lalu tersenyum, “Tidak apa-apa. Bercerita denganmu sudah membuat hatiku sedikit lega. Pasalnya selama ini aku terus menyimpan masalah ini sendirian.” Katanya.

“Kalau memang kau butuh teman untuk curhat, kau bisa datang padaku hehe.” Kataku. “Sepertinya aku harus pulang sekarang. Selamat malam!”

Sebuah tangan langsung menyambar pergelangan tanganku, menahanku untuk berjalan. “Besok lusa aku tunggu kau di café ya. Jam 10 malam. Selamat malam!” ucapnya lalu pergi begitu saja.

Aku masih diam terpaku. “Yeah, good night.” Gumamku. Menit berikutnya aku berjalan pulang ke rumah.

[TOMORROW]

“WHAT?! Semalam kau bertemu Jung Yunho? Di taman?” ucap Changmin terkejut ketika aku menceritakan kejadian semalam.

Aku meminum tehku lalu mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Wah wah ketauan sekarang. Kau kemarin pergi tengah malam untuk menemui Yunho kan? Hahaha.” Tawa Changmin meledak, dan itu membuatnya yang sedang mengunyah roti jadi tersedak. “Uhuk uhuk..”

Aku menyodorkan air putih lalu menepuk punggungnya pelan. “Tidak juga sebenarnya. Karena tiba-tiba melihatnya saja, jadi aku menghampirinya.” Jawabku sambil memandang Changmin yang meminum air putih yang kusodorkan tadi.

“Terus kalian ngobrol atau malah bertengkar?”

“Ia curhat, percaya tidak percaya sih.” Jawabku lalu mengunyah rotiku. Changmin memandangku seakan tidak percaya. “Nah kan, sudah kutebak, pasti kau tidak akan percaya. Ia benar-benar curhat padaku, Changmin.”

“Memangnya dia curhat masalah apa?”

“Keluarganya. Ternyata keluarganya kurang harmonis.”

Changmin hanya ber-“O” ria sambil melanjutkan sarapan paginya. “Kau masih ingat Yoochun? Pagi ini ia akan datang kesini bersama temannya.”

“Park Yoochun maksutmu? Yang dulu waktu SMP terkenal playboy itu?” tanyaku memastikan dan dijawab anggukan mantap dari Changmin. “Ooh.”

Kira-kira 20 menit setelahnya, bel rumahku berbunyi. Changmin sambil membetulkan rambutnya segera membukakan pintu.

“YaaPark Yoochun! Apa kabarmu?” sapa Changmin sambil memeluk teman lamanya itu. “Katamu kau mau membawa temanmu? Mana orangnya?” Changmin celingak-celinguk mencari seseorang di balik bahu Yoochun.

“Hei hei hei kebiasaanmu tidak berubah ya dari dulu. Kau pasti membiarkan tamumu di luar. Kau tidak mengajakku masuk?” ujar Yoochun lalu tertawa, dan diikuti Changmin. “Ohya, temanku tadi mampir sebentar ke supermarket dekat sini. Nanti dia akan ke sini kok, tenang saja tadi ia sudah kuberi tau rumahmu.” Jawabnya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

“Yoochunnie Oppa~~” panggilku.

“Hei SooYeon! Bagaimana kabarmu sekarang?” tanyanya sambil memelukku.

“Baik-baik saja hehe. Ohya, kata Changmin, kau mau membawa temanmu kesini? Dimana dia?”

“Teman Yoochun sedang mampir ke supermarket dekat café, sebentar lagi ia akan ke sini.” Sahut Changmin dari arah dapur. “Duduklah Chun. Ini kubawakan kau cola dingin.”

Tak lama setelah itu bel rumahku berbunyi. “Nah itu pasti temanku.” Ujar Yoochun.

“Biar kubukakan saja.” Ujarku sambil berjalan menuju pintu. “Selamat da—Yunho?!” aku terkejut melihat siapa yang datang. Yunho?! Kenapa ia bisa ada disini? Apa dia teman Yoochun?

“SooYeon?!” Yunho juga sama terkejutnya denganku. Ternyata ia juga tidak tahu hal ini.

Yoochun dan Changmin menghampiriku yang masih berdiam diri di depan pintu. “Ya Jung Yunho, ayo masuk! Changmin, kenalkan ia Yunho, temanku. Dan Yunho, kenalkan ini Changmin dan itu Lee SooYeon.” Ucap Yoochun. “Yunho? SooYeon? Kalian baik-baik saja kan?” ucapan Yoochun tadi mampu membuatku dan Yunho terasadar.

“Eh? Iya?” ucapku dan Yunho—bersamaan.

“Kalian ini kenapa sih? Dasar aneh.” Kata Yoochun lalu kembali duduk bersama Changmin.

“Silakan masuk.” Ucapku mempersilakan Yunho untuk masuk. Yunho segera masuk dan duduk di sofa yang letaknya berhadapan dengan sofa yang kini tengah ditempati dua orang yang sudah lumayan lama tidak bertemu, Yoochun dan Changmin. Aku berjalan dan kemudian duduk di sebelah Yunho.

“Kalian sudah berkenalan?” tanya Yoochun.

“Kami sudah saling kenal, Oppa.” Jawabku.

“Oh baiklah kalau begitu.” Kata Yoochun lagi. “Umm Changmin dan aku akan pergi sebentar ke rumah teman kami yang lain. Kau tidak apa kan Yun, jika kutinggal sebentar?”

Yunho agak terkejut dengan itu, tapi kemudian ia memaksakan tersenyum pada temannya itu. “Tidak apa-apa kok. Hati-hati di jalan ya!”

Yoochun dan Changmin segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Sekilas aku melihat Changmin mengedipkan matanya jail ke arahku. Dasar Changmin menyebalkan!

Setelah pintu ditutup, rumahku terasa sepi sekali. Kami berdua walau duduk bersebelahan, tapi kami tidak mengucapkan sepatah katapun.

“Jadi kau tinggal disini ternyata.” Ucap Yunho memecah keheningan. “Pantas saja kau sering ke taman.”

“Yeah begitulah.” Setelah aku berkata seperti itu, keadaan kembali hening. Kami berdua rasanya sulit untuk berbicara, sampai aku mencium bau gosong dari arah dapur, dan seketika itu juga aku baru sadar kalau tadi aku tadi sedang membuat roti. “Astaga! Rotiku!” seruku lalu berlari ke arah dapur, disusul Yunho.

“Ada apa sih?” tanya Yunho lalu ia duduk di kursi meja makan.

“Yaah rotiku gosong. Ah sial kenapa bisa sampai lupa gini sih?!” runtukku sambil mengeluarkan roti yang sudah gosong itu dari oven. Entah kenapa sepertinya aku merasa ada yang memperhatikanku. Aku menoleh ke arah Yunho, dan ternyata ia sedang membetulkan rambutnya. Kau ini memikirkan apa sih, Lee SooYeon, pikirku.

“Bagaimana kalau kita membuat roti itu lagi?” pertanyaan Yunho cukup membuatku tersadar dari lamunanku barusan.

“Tapi bahan-bahannya tidak cukup sepertinya.”

“Di dekat sini ada supermarket kan? Kita bisa beli disitu dulu.”

“Er.. Boleh juga idemu. Ayo!” aku mengambil jaket dan dompetku lalu berjalan menuju pintu, diikuti Yunho. Kami berdua berjalan bersama menuju ke supermarket yang letaknya di sebelah café langgananku.

Selama kurang lebih lima belas menit kemi berbelanja, kami kembali ke rumah. Setelah meletakkan jaket, kamipun berjalan menuju dapur. “Cooking time~~”

Saat aku tengah konsen membuat adonan kue, tiba-tiba saja Yunho memoleskan sesuatu di pipiku, seperti… tepung, mungkin? “Nah kena kau! Wajahmu lucu sekali kalau terkena tepung hahaha.” Tawa Yunho meledak setelah ia berhasil memoleskan tepung di pipiku.

“Yaa Jung Yunho! Awas kau ya! Kemari kau, kubalas perbuatanmu!” ancamku sambil mengambil tepung dan berlari mengejar Yunho. Alhasil kami berlari berkejar-kejaran sambil bermain tepung. Dan yah bisa dipastikan rumahku berantakan sekarang. Bagus. Padahalkan aku kemarin baru saja membereskan semuanya.

Setelah dirasa cukup bermainnya, aku kembali melanjutkan membuat kue. “Kau mau membantuku menyelesaikan semuanya atau kau pergi dari dapur?” tanyaku sedikit membentak.

“Baik baik, aku akan membantumu. Tapi yah karena aku tidak terlalu pandai memasak, bagaimana kalau aku membantumu membereskan rumahmu ini yang, uhm berantakan ini?” tawar Yunho, dan aku dengan senang hati mengiyakan tawarannya. Itu akan memperingkat waktu.

Sekitar dua jam kemudian, kami berdua telah selesai dengan tugas masing-masing. Akhirnya kueku tidak gosong lagi, dan rasanya juga lumayan lah—setidaknya itu kata Yunho. Kalau untuk tugas Yunho, hmm sepertinya dia melakukan tugasnya dengan baik. Terlihat bagaimana rapinya rumahku sekarang.

Kami berdua sama-sama duduk di sofa ruang tamu. “Yeah cukup melelahkan juga ya ternyata. Aku berkunjung ke rumah teman lama dari temanku, kemudian temanku itu meninggalkanku berdua denganmu di rumahmu, dan setelah itu aku malah bekerja membereskan rumahmu ini. Astaga.” Kata Yunho.

“Hei, yang membuat rumah ini berantakan kan juga kau. Kalau tadi kau tidak memulainya, rumah ini pasti masih dalam keadaan baik.”

“Iyaiya aku minta maaf.” Ucap Yunho. “Ohya, kalau boleh tau, Changmin itu siapamu? Pacarmu? Atau kakakmu? Dan kau tinggal berdua saja dengannya? Dimana orangtuamu?”

“Pacar? Hahaha tentu saja bukan. Yah walaupun banyak yang mengira kami berdua berpacaran, karena kami akrab sekali, tapi kami hanya sebatas sahabat. Kami bersahabat sejak kami masih sangat kecil. Dan yah yang kau lihat sekarang, kami tinggal berdua di rumah ini. Kami mendapat beasiswa berkuliah di Seoul—sebenarnya kami ini tinggal di Daegu—yasudah akhirnya kami memutuskan untuk tinggal bersama di Seoul. Lagipula orangtua kami juga tidak mempermasalahkan hal itu.” Jelasku.

“Ooh.” Sahutnya singkat.

“Yun!” “Yeon!” kami memanggil bersamaan dan itu langsung membuat kami tertawa. “Kau duluan saja lah.” Lagi-lagi kami mengucapkannya secara bersamaan. Hei, ada apa ini.

“Ladies first.” Yunho mempersilakanku sambil tersenyum.

“Aku minta maaf.” Sesalku. Yunho hanya menatapku heran. Seolah-olah matanya berkata, minta-maaf-untuk-apa-?

“Aku minta maaf karena aku salah menilaimu. Dulu aku selalu beranggapan kalau seorang Jung Yunho adalah seseorang yang sangat sombong dan menyebalkan. Bahkan dulu aku sempat memasukan namamu ke dalam daftar orang yang kubenci. Aku minta maaf, Yun.”

“Tapi semuanya sekarang berubah. Aku tak lagi menganggapmu sombong dan menyebalkan. Dan aku juga sudah mencoret namamu dari daftar orang yang kubenci.”—sekarang aku telah memsukan namamu menjadi orang yang kusayangi setelah orangtuaku, kakaku, dan Changmin, lanjutku dalam hati.

Bukannya marah atau apa, Yunho malah tersenyum. Senyum yang sangat kusuka. Senyum itu membuatnya semakin terlihat tampan dan mempesona. “Kau tidak perlu meminta maaf akan hal itu. Aku sudah terbiasa.” Jawab Yunho. “Memang banyak orang yang belum mengenalku, menganggapku adalah sosok yang sombong, menyebalkan, dan susah bergaul. Padahal, kalau kau ingin tahu, dulu aku tidak seperti ini. Dulu aku anak yang ramah dan menyenangkan, tapi semua itu berubah semenjak kematian ibuku.”

“Aku sangat dekat dengan ibuku. Dibandingkan dengan ayahku, aku lebih dekat dengan ibuku. Aku sering cerita kepadanya tentang teman-temanku ataupun kejadian-kejadian di sekolah, tak jarang juga aku sering curhat kepadanya kalau aku sedang ada masalah. Dan yah mungkin juga aku dekat dengan ibuku karena pekerjaan ayahku yang membuatnya cukup sering pergi ke luar negeri, dan jarang ada di rumah. Itulah sebabnya kenapa aku begitu dekat dengan ibuku. Kumohon kau mau memaklumiku, Yeonnie-ah.” Ucap Yunho. Kesedihan tampak jelas di matanya. Pasti ia merasa sangat sedih karena harus kembali mengingat ibunya. Aku sedikit kasihan padanya.

“Tentu aku akan memaklumimu.” Jawabku sambil tersenyum padanya. “Nah, sekarang giliranmu. Kau tadi mau mengatakan apa?”

Yunho terlihat terkejut kemudian menggaruk kepalanya salting. “Err..” ia masih menggaruk kepalanya salting. “Aku boleh meminta nomor ponselmu?”

“Tentu saja.” Kemudian aku menyebutkan serentetan angka, dan Yunho mencatatnya di ponselnya.

“Terimakasih.” Ucapnya sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. “Err… Yeon-ah!” panggilnya lagi.

“Ya?”

“A-aku…” belum selesai Yunho bicara, pintu rumahku tiba-tiba dibuka, dan munculah sosok tubuh jangkung dan teman lamanya.

“Yunho-ah, kau sudah selesai belum pacarannya? Kalau sudah, ayo kita pulang. Ini sudah mau sore.” Begitu Yoochun berkata seperti itu. Wajahku dan Yunho langsung memerah seketika.

“Aku tidak pacaran ya Chun.” Sanggah Yunho sambil menyembunyikan wajahnya yang sekarang sudah semerah tomat. Kemudian ia berdiri dan menyusul Yoochun yang berada di depan pintu. Aku mengikutinya dari belakang. “Kami berdua pulang dulu. Terimakasih Changmin-ah, senang berkenalan denganmu.” Ucap Yunho. “Terutama kau. Yeonnie-ah.” Ia tersenyum padaku. Astaga senyumnya tadi indah sekali ya Tuhan.

“Kau tadi ngapain saja dengan Yunho?” tanya Changmin dengan wajah mesumnya, setelah menutup pintu.

“YA! Pikiranmu ini mesum sekali sih! Aku tadi hanya membat ro—“ belum selesai aku menjawab pertanyaannya. Ia sudah berlari duluan ke arah dapur. Sudah bisa ditebak apa yang dilakukannya. Ya tepat sekali. Ia memakan roti yang kubuat tadi.

“Roti buatanmu ini enak sekali, Yeonnie-ah.” Ucap Changmin. Mulutnya penuh terisi roti.

“Ish kau ini. Telan dulu rotinya, baru kau bicara. Dasar kebiasaan.” Ujarku. “Umm aku ke kamar dulu ya. Ohya, sisakan beberapa roti untukku, jangan kau habiskan ya.”

Sesampainya di kamar, aku langsung tiduran di kasurku. Sambil memainkan ponsel di tanganku, pikiranku kembali tertuju pada Yunho. Sudah beberapa hari ini pikiranku full hanya terisi oleh Yunho, Yunho, dan Yunho. Astaga apakah aku sudah gila, sampai-sampai memikirkannya terus-terusan?

Pipiku bersemu merah saat mengingat kembali cara Yunho memanggilku. Yeonnie-ah. Memang sih seluruh orang yang sudah dekat denganku pasti akan memanggilku seperti itu. Tapi entah kenapa tadi rasanya waktu Yunho menyebutkan nama itu terkesan spesial.

Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Ada pesan masuk.

Hei Yeonnie-ah! Kau belum tidur kan? Maaf sebelumnya mengganggumu malam-malam begini. Aku hanya sekedar mau mengingatkan kalau besok aku akan menjemputmu ke café sekitar jam 4, oke? Kau bisa kan? Umm.. mungkin setelah itu aku akan mengajakmu jalan-jalan dulu sebelum pulang. Kuharap kau mau. Selamat malam ^^

 

– Yunho

 

Aku hanya tersenyum membaca pesan dari Yunho barusan.

“Aku pasti bisa kok Yun. Selamat malam juga, pangeran

tampanku.” Ucapku.

Kemudian aku meletakkan ponselku di meja kecil sebelah kasurku, lalu mulai memejamkan mataku.

[TOMORROW]

Sejak jam setengah 4 aku sudah bersiap diri. Kata Yunho semalam, ia akan menjemputku sekitar pukul 4.

“Yaa Yeonnie-ah. Kau ini sebenarnya kenapa sih? Daritadi mondar-mandir terus. Pusing aku melihatnya. Tak bisakah kau duduk menunggu dengan tenang? Atau jangan-jangan kau nervous ya karena mau diajak kencan sama Yunho? Hahaha.” Tawa Changmin, lalu mengambil kue yang ada di toples.

“Terserah kau lah, Min, mau bilang apa. Aku sedang tidak dalam mood yang baik.” Ucapku lalu melanjutkan acara ‘mondar-mandir’-ku.

Tak berapa lama setelahnya, bel rumah berbunyi. Itu pasti Yunho, ujarku senang dalam hati.

“Hei!” sapaku ketika membukakan pintu untuknya. Tak bisa kupungkiri, malam ini ia begitu tampan. Dengan pakaian biru muda bermotif kotak-kotak, ditutupi dengan jas berwarna biru tua. Ditambah lagi celana panjangnya yang berwarna hitam, ia semakin terlihat mempesona.

Yunho tidak menjawab sapaanku. Ia hanya diam sambil memandangiku dari atas sampai bawah. “Yunho? Kau kenapa? Ada yang salah denganku malam ini?” tanyaku sambil mengibaskan tanganku di depan wajahnya.

Neomu yeppeo.” Gumamnya, namun dapat terdengar jelas olehku. Berani taruhan, pasti sekarang wajahku semerah tomat begitu Yunho memujiku barusan.

Ia langsung tersadar dan menatapku. “Ayo!” ia mengulurkan tangan kanannya padaku. Bak seorang putri, aku menyambut uluran tangan pangeran tampanku itu.

Ups, apa aku barusan menyebutnya ‘pangeran tampanku’? Hahaha ternyata aku sudah sukses terpesona olehnya.

Di mobil kami hanya terdiam. Yunho sibuk menyetir, sementara aku terus saja memainkan jari-jariku di atas pahaku. Tak lama setelahnya, kami berdua sampai di sebuah café yang penampilan luarnya agak aneh. Kurang menarik. Aku sedikit tidak yakin dengan tempat itu, tapi Yunho terus memaksaku untuk turun.

“Tenanglah. Luarnya memang kurang menarik, tapi kau belum tau bagaimana dalamnya kan? Ayo!” Yunho menggandengku masuk ke dalam bangunan yang ia sebut ‘café’ itu.

Begitu kami memasuki bangunan tersebut, aku langsung terdiam memandangi bangunan café itu. Ternyata bagian dalamnya sangat berkebalikan dengan penampilan luarnya. Bagian dalamnya terlihat begitu indah. Tidak sia-sia aku menuruti ucapan Yunho tadi.

“Ayo! Kita ke bagian belakang saja!” ajak Yunho, masih tetap menggandeng tanganku.

Aku terdiam. Pipiku bersemu merah ketika melihat ke tanganku yang sedang digandeng Yunho. “Ups maaf.” Seketika itu juga ia langsung melepaskan gandengannya dan menggaruk kepalanya salting. Hihihi ia terlihat imut kalau sedang salting begitu.

Kami berdua berjalan beriringan menuju ke tempat yang di maksud Yunho.  Tak berapa lama, kami langsung menempati tempat yang agak sepi. Setelah memesan minuman, Yunho mulai mengajaku ngobrol.

“Yeonnie-ah!” panggilnya. Aku langsung mendongakan kepalaku, menatapnya. “Kau terlihat sangat cantik malam ini.” ia langsung tersenyum setelah selesai mengucapkan kalimatnya.

Pasti sekarang wajahku sudah memerah seperti tomat, mendengar ia memujiku lagi. “Dan kaupun juga terlihat super tampan malam ini, Yunho-ah.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Ah, biasa saja kok. Hehe.” Lagi-lagi ia menggaruk kepalanya salting. Yunho-ah, tolong berhenti melakukan itu di hadapanku, atau kau akan membuatku kehilangan nafas, jeritku dalam hati.

Aku menggumamkan ‘terima kasih’ pada pelayan yang baru saja meletakkan minuman kami di meja. “Kau sering ke sini?” tanyaku.

“Umm cukup sering. Aku biasa ke sini kalau aku sedang bosan di rumah. Biasanya aku selalu sendirian ke sini, kau adalah wanita pertama yang kuajak ke café ini.”

Aku meminum perlahan kopi pesananku tadi. Yah walaupun masih panas, namun rasa nikmat itu tetap ada ketika aku meminumnya. Ketika aku meletakkan kembali gelas itu di atas meja, aku sadar kalau kopi tadi meninggalkan bekasnya di sekitar bibirku. Itu memang kebiasaanku kalau meminum kopi ataupun susu.

Tiba-tiba saja Yunho mengambil sapu tangannya dari saku, lalu membersihkan mulutku yang belepotan kopi itu. Aku hanya bisa diam ketika diperlakukan seperti itu.

“Kau tadi lucu sekali saat wajahmu belepotan kopi.” Yunho tersenyum jahil.

Kami terus mengobrol, sampai minuman kami habis. Dan saat itu kami baru menyadari kalau kami sudah hampir satu jam berada di café. Yunho buru-buru mengajaku kembali ke mobil. Katanya sih setelah ini aku akan dibawa ke suatu tempat. Tapi Yunho tak mau memberitahukan tempat apa itu.

“Sebelum sampai di tempat yang kumaksud, kau mau mengabulkan permintaanku?” tanya Yunho. Dari raut wajahnya, terlihat jelas kalau ia butuh jawaban ‘mau’. Dan tanpa ragu lagi, aku menganggukan kepalaku. “Terimakasih.”

Ia mengeluarkan sesuatu dari dashboard mobilnya. Aku memandanginya sebentar. “Itu saputangan kan? Kau mau apa?” tanyaku. Ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku, lalu mulai menutup mataku dengan saputangan tadi.

Aku bingung dengan sikapnya ini. Untuk apa ia menutup mataku seperti ini. Baru saja aku mau bertanya, tapi Yunho sudah berkata duluan. “Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Percayalah.” Ucap Yunho lalu tersenyum dan mulai menutup mataku dengan saputangannya.

Sekitar dua puluh menit setelahnya, mobil Yunho berhenti. Kurasa kami sudah sampai. Yunho terlebih dulu keluar dari mobil, lalu baru membukakan pintu untuku. Karena tau aku tidak bisa melihat apapun, Yunho menggandeng tanganku dan membawaku entah kemana.

“Sampai!” seru Yunho. Menit berikutnya ia mulai melepaskan sapu tangannya yang ada di mataku.

Begitu sapu tangan itu dilepas, aku terdiam memandang pemandangan yang ada di depan mataku sekarang. Takjub. Tempat ini begitu indah malam ini. Ini adalah taman, tempat dimana pertama kali kami bertemu.

Tempat ini yang biasanya hanya sebuah taman kecil biasa, sekarang disulap menjadi tempat yang menurutku sangat romantis. Disini terdapat beberapa lilin kecil yang membentuk tanda love berukuran besar. Tepat ditengah lilin terdapat sebuah bangku taman, yang di atasnya ada sebuah boneka beruang.

Tiba-tiba saja sebuah tangan menariku ke tengah lilin-lilin tersebut. “Kau menyukai ini?” tanya Yunho.

“Suka. Ini sangat indah, kau tahu. Apa ini semua kau yang membuat?” tanyaku dan dijawab anggukan kepala olehnya. “Kau romantis sekali.”

Yunho tersenyum mendengar jawabanku. Mungkin ia puas, karena kerja kerasnya tidak sia-sia. Setelah itu, Yunho langsung bersimpuh di hadapanku. Refleks aku langsung menutup mulut dengan kedua tanganku—terkejut dengan apa yang dilakukannya.

Ia menarik kedua tanganku dan menggenggamnya erat. “Would you be my wife?” ia melepaskan satu tanganku untuk mengambil sesuatu di sakunya. Aku terkesiap setelah menyadari kalau itu adalah cincin. Astaga se-serius inikah ia padaku?

“A-aku…” aku benar-benar bingung sekarang. Kukira awalnya ia hanya ingin menjadikanku sebagai pacarnya. Tapi nyatanya lebih dari itu. Bukannya aku ingin menolak, tapi aku hanya takut.

“Aku tau, kau pasti mengira awalnya aku hanya ingin menjadikanmu pacarku kan?” tepat sekali. “Iya, memang begitu rencana awalku. Tapi begitu aku menceritakanmu pada ayahku, Beliau tidak ingin kita berpacaran. Namun Beliau ingin kita segera menikah.”

“Tapi Yeonnie-ah, apa kalau aku memintamu menjadi pacarku, kau akan menerimaku?” tanyanya lagi.

Aku terdiam sejenak sebelum menjawab. “Mungkin ini memang keputusan yang terlalu cepat. Tapi sebelumnya aku juga sudah cukup mengenalmu Yunho-ah.” Jawabku.

“Aku mau menjadi istrimu.” Jawabku. Aku yakin pasti sekarang wajahku sudah memerah.

Dimasukkannya cincin itu di jari manisku, lalu ia segera berdiri dan memelukku erat. “Terimakasih.” Bisiknya lembut.

Kami berpelukan kurang lebih tiga menit. Setelah itu, Yunho mengendurkan pelukannya sehingga ada jarak diantara kami. Ia mengangkat daguku dengan telunjuknya, dan ia juga mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Lalu, cup. Ia menciumku dengan lembut.

– FIN –


東方神起 Yunho sexy gif *Q*

JUNG YUNHO.. WAE R U SO SEXY?! /melt/ ;A;


Jaejoongie… ARGH wae r u so handsome?? *O*

PrinceJJ

Check out Part 1 and Part 2

View original post 7 more words


#Happy27thJaejoong

HAPPY BIRTHDAY FOR MY LOVELY HUBBY KIM JAEJOONG!!
Wish all the best for you Oppa.. Cassies always give our love for you Oppa :*

#Happy27thJaejoong for @mjjeje :*


Kim Jaejoong last twitter update (7/1/12)

KIM JAEJOONG IS TWEETING NOW! HE SHARE SOME PICS. HAHAHA XD

@mjjeje : 어려지려면 셀카도 많이~~^^http://pic.twitter.com/afu2C2Pp

[TRANS] @mjjeje : If I want to become younger, I have to take many selcas too~~^^ http://pic.twitter.com/nl8L9GJo

@mjjeje : 이거 너무웃겨서 올려봐요~우리 페이스북에는 이런실사가 앞으로 올라올듯 ^^http://pic.twitter.com/D

[TRANS] @mjjeje : I’m uploading this because it’s too funny~ More of such pictures will probably be uploaded* onto our Facebook in future ^^http://pic.twitter.com/D

Sc: @mjjeje and @AllRiseXiahtic twitter