Just another WordPress.com site

FanFiction

[Fanfiction] Cafe to Love

poster-cafetolove

TITLE: CAFE TO LOVE
ONESHOT STORY
AUTHOR: @ZERLIINDA

Waktu tepat menunjukkan pukul 2 siang, tanda kalau sekolah telah usai. Changmin segera merapikan buku-bukunya yang berserakan di meja dan lacinya, lalu memasukkannya ke dalam loker. Wajah Changmin begitu gembira setelah keluar dari ruang kelasnya. Ia langsung berlari menuju ke parkiran, dimana sepeda birunya yang imut diletakkan.
Changmin bergegas pergi meninggalkan halaman parkiran sekolah. Begitu keluar dari gerbang, ia membelokkan sepedanya ke kiri. Seharusnya ia berbelok ke kanan, ke arah rumahnya, tapi ada sebab kenapa ia membelokkan sepedanya ke arah yang berlawanan dari arah rumahnya.
Karena ia takut pulang ke rumah? Bukan, untuk apa Changmin takut pulang ke rumahnya. Atau karena ia ingin bermain dengan teman-temannya? Bukan juga. Ia lebih memilih belajar atau tidur siang, daripada bermain tidak jelas dengan teman-temannya. Satu alasannya, karena seorang perempuan.
Ya, sudah tiga minggu terakhir Changmin selalu pergi ke cafe yang terletak di dekat perpustakaan kota. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang perempuan sedang duduk sendirian di dalam cafe itu. Perempuan tadi duduk membelakangi jendela cafe, jadi Changmin tidak bisa melihat bagaimana wajah perempuan itu. Yang ia tahu pasti bahwa rambut perempuan tadi panjang berwarna hitam kecoklatan.
Entah apa yang terjadi pada dirinya, ia nekat masuk ke cafe itu dan membeli secangkir kopi hanya untuk melihat perempuan tadi. Hari ini ia sebenarnya tidak begitu yakin untuk pergi lagi ke cafe, karena sudah hampir seminggu ia tidak melihat perempuan itu.
Setelah memarkirkan sepedanya, ia segera masuk ke dalam cafe tersebut. Ia membeli secangkir vanilla latte. Diedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe. Dan apa yang ia cari selama hampir seminggu ini akhirnya ia dapati. Perempuan itu. Ia duduk di pojok ruangan. Sendirian, seperti biasanya.
Dengan gugup, Changmin berjalan menuju ke tempat perempuan itu.
“Maaf Nona, apa boleh aku duduk di kursi ini?” tanya Changmin hati-hati.
Perempuan tadi mengangkat kepalanya, hal yang mungkin tidak pernah ia lakukan. Deg. Changmin terpaku melihat wajah perempuan ini. Wajahnya begitu cantik, pipinya tirus, kelopak matanya yang lumayan besar.
“Silahkan,” –dan suaranyapun sangat lembut.
Suara dari perempuan tadi akhirnya menyadarkan Changmin ke dunia nyata, setelah tadi ia sempat terbang ke langit. Changmin menggumamkan kata ‘terimakasih’ sambil menarik kursi yang ada di hadapan perempuan tadi.
Setelah Changmin duduk, suasana diantara keduanya menjadi canggung. Changmin bingung harus bagaimana, sementara perempuan di hadapannya sibuk dengan laptopnya.
“Maaf kalau boleh tahu, Nona sedang apa?” tanya Changmin gugup.
“Ya?” tanya perempuan tadi yang sepertinya tidak mendengar apa yang dikatakan Changmin. Mungkin ia terlalu sibuk dengan kegiatannya.
“Kalau boleh aku tahu, Nona sedang apa? Kelihatannya serius sekali?” Changmin mengulang pertanyaannya. Kali ini ia tidak segugup tadi.
“Oh. Aku hanya sedang menulis cerita. Kau mau membacanya?” tawar perempuan itu.
“Eh?” Changmin terkejut. “Bo…boleh kah?”
“Tentu saja. Kebetulan ceritanya sudah selesai. Ini, bacalah!” ia membalikkan laptopnya ka arah Changmin. “Judulnya, Cafe to Love.”
Changmin membaca kalimat demi kalimat yang tertera di layar laptop. Karena ia sering membaca buku, jadi ia dapat membacanya dengan cepat. Ia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk membaca tulisan sebanyak 17 lembar.
Disitu diceritakan ada seorang laki-laki yang awalnya sangat benci untuk menghabiskan waktu luangnya untuk bermain—apalagi untuk pergi ke cafe—menjadi suka mengunjungi cafe karena ia bertemu secara tidak sengaja dengan seorang perempuan yang selalu ia lihat. Perempuan itu selalu duduk sendirian sambil menikmati kopi dan menulis sesuatu di notebooknya. Hingga suatu hari laki-laki itu memberanikan dirinya untuk bertemu dengan perempuan itu.
Setelah selesai, Changmin mendapati perempuan tadi menatapnya penuh harap. Changmin hanya tersenyum melihat itu.
“Bagaimana menurutmu? Ceritanya bagus tidak? Ada kurang apa tidak? Atau ada kata-kata yang salah penulisannya?” perempuan tadi langsung memburu Changmin dengan berbagai pertanyaannya.
Changmin yang melihat itu hanya terkekeh karena ia menganggap wajah perempuan itu lucu saat ia khawatir mengenai ceritanya yang tadi dibaca oleh Changmin.
“Kenapa kau tertawa? Ceritanya jelek ya? Sudah kuduga, seharusnya aku tidak menulis cerita seperti itu.” Wajahnya berubah menjadi kecewa. Changmin jadi tidak enak.
“Bu..bukan seperti itu, Nona.” kata Changmin cepat.
“Lalu?”
“Ceritanya bagus—sangat bagus, malah. Aku sangat suka dengan ceritanya. Alurnya, penggunaan kata-katanya, itu semua sudah tepat menurutku.” Changmin tersenyum ketika mengutarakan pendapatnya tentang cerita tadi.
“Jinjja?” Rasa senang itu terlihat sekali dari wajahnya yang manis. “Terima kasih.” Ia tersenyum lebar, membuat kedua matanya juga ikut tersenyum. Manis sekali.
“Sama-sama.” Changmin ikut tersenyum membalas senyuman dari perempuan tadi. “Kalau boleh tahu, Nona dapat inspirasi cerita ini darimana?”
“Ah itu, entah kenapa sejak aku berkunjung ke cafe ini aku mendapat inspirasi untuk menulis cerita seperti ini. Sepertinya cafe ini sangat cocok untuk tempat kencan atau menemukan kekasih, ya? Banyak teman-temanku yang berpacaran hanya karena tidak sengaja bertemu di cafe, salah satunya cafe ini.” Perempuan itu mengoceh panjang lebar.
Changmin hanya tersenyum mendengarkan sambil matanya terus menatap ke arah perempuan itu. Sepertinya ia benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan perempuan ini.
“Hei!” Changmin langsung tersadar dari lamunannya setelah perempuan tadi mengibaskan tangannya di depan wajah Changmin. “Kau melamun? Atau kau sedang sakit” Perempuan itu menempelkan tangannya ke dahi Changmin, dan itu sukses membuatnya salah tingakah. Changmin buru-buru menjauhkan wajahnya dari tangan perempuan itu.
“A..aku tidak apa-apa, Nona.” Jawab Changmin gugup.
“Oh, syukurlah kalau kau tidak apa-apa.” Perempuan itu kembali tersenyum. “Sudah setengah empat, aku harus pulang sekarang. Aku ada les matematika.” ucapnya sambil bergegas memasukkan laptopnya ke dalam tas dan beranjak dari kursinya.
“Nona?!” Changmin segera berlari kecil mengejar perempuan itu.
Ia berhenti berjalan dan berbalik. “Ya?”
“Boleh tahu, Nona sekarang kelas berapa?” tanya Changmin penasaran.
“Oh, aku sekarang kelas 1 SMA. Ohya, aku Eunra, Kim Eunra.”
“Bagaimana kalau kita belajar matematika bersama? Kebetulan aku juga sama denganmu. Namaku Changmin, Shim Changmin.”
Eunra terlihat berpikir sebentar sebelum kemudian seulas senyum terukir di wajahnya. “Baiklah kalau begitu. Besok pukul 2 siang, aku tunggu kau disini ya.” Changmin mengangguk setuju. Sebuah bis datang dari arah barat, dan saat itu juga Eunra melambaikan tangannya kearah Changmin. “Aku pulang duluan ya. Sampai besok, Changmin~”
Changmin membalas lambaian tangan itu, dan kedua matanya terus melihat bis itu, sampai bis itu hilang dari pandangannya setelah berbelok ke kanan. Ia berjalan menuju parkiran, dan mengambil sepedanya. Hari ini ia pulang dengan perasaan yang sangat senang. Tentu saja karena ia berhasil bertemu dengan perempuan yang telah mencuri perhatiannya sejak beberapa waktu yang lalu. Apalagi ia juga bisa mengajak Eunra untuk berlajar matematika bersama. Nasibnya benar-benar beruntung hari ini.
Ia kembali teringat dengan cerita yang ditulis Eunra. Inti dalam cerita itu sangat mirip dengan apa yang dialami Changmin terhadap Eunra. Semoga saja memang benar.
Ini pasti akan jadi akhir yang menyenangkan, pikirnya yakin.


[Fanfiction] In Your Arms

edit-minsica

Author: @zerliinda
Casts: TVXQ Shim Changmin and SNSD Jung Jessica
Length: oneshot

==============================================================================================

Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Jessica hanya menangis di kamarnya. Ini sering dilakukannya semenjak beberapa tahun yang lalu. Momen-momen bersama orang yang dicintainya seakan berputar di kepalanya seperti rekaman sebuah film dokumenter. Semuanya. Tidak ada hal yang dilewatkan oleh Jessica.
Jessica sebenarnya bukan orang yang suka menangis. Tapi keadaannyalah yang memaksanya menjadi seperti itu. Ditinggalkan oleh seorang kekasih yang sangat dicintainya, itu jelas membuatnya tak bisa menahan airmatanya setiap ia teringat kembali oleh momen-momen yang diciptakan oleh mereka berdua.

“Oppa mau membicarakan apa? Kedengarannya serius sekali sampai mengajakku kesini?” tanya Jessica pada lelaki jangkung yang sekarang duduk tepat di hadapannya.
Terlihat Changmin menghela nafasnya sejenak. “Saat pertama kali Oppa melihatmu di halte, entah kenapa sejak saat itu Oppa jadi susah tidur. Yang ada di pikiran Oppa hanyalah kau, Sica. Oppa juga tidak tau kenapa. Tapi sekarang Oppa tau apa artinya itu…” Sekali lagi Changmin menghela nafasnya. “Saranghae. Maukah kau menjadi kekasihku, Sica?”
Jessica terlihat terkejut dengan pernyataan Changmin barusan. Ia tidak menyangka kalau cintanya pada lelaki jangkung ini ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. “Nado saranghae, Oppa.” Jessica tersenyum.
“Jinjja? Apakah aku tidak salah dengar? Kau menerimaku, Sica?”
Jessica hanya mengangguk sambil tersenyum manis. “Gomawo, jagi.” ucap Changmin senang.

Jessica kembali meneteskan air matanya. Samar-samar ia mendengar lagu milik Krissy dan Ericka yang berjudul In Your Arms yang mengalun dari ruang tengah apartmentnya.

Remember those nights, we stayed up just laughing on the phone
Remember that time you said that “I would never let you go”
Remember that time when I said that we could never ever be
But I know it’s a lie because deep down inside

Refleks, ingatan Jessica kembali lagi ke masa lalu. Saat dimana ia dan kekasihnya itu masih bersama.

“Yaa Oppa?” panggil Jessica saat mereka tengah berjalan menuju apartment jessica.
“Ne, jagi?”
“Nanti malam menginap di apartmentku ya? Katanya sih nanti malam ada film bagus, aku ingin nonton dan ditemani Oppa~ mau ya?” pinta Jessica manja.
“Hmm… baiklah. Tapi nanti jangan lupa imbalannya ya~” Changmin mengedipkan sebelah matanya sambil menyeringai mesum.
Seakan menyadari apa yang dimaksut Changmin, Jessica langsung berteriak kesal. “Yah! Dasar byun!” Jessica memukul lengan kekasihnya itu.
“Aww aww. Ampun jagi, ampuun!” merasa bahwa Jessica tidak akan berhenti memukulnya, Changmin langsung memeluk Jessica. “Kalau kau terus memukul Oppa, Oppa akan menciummu sekarang.”
Jessica merasakan panas di pipinya. Ia hanya diam di pelukan Changmin yang hangat itu. Mereka melanjutkan perjalanan ke apartment Jessica sambil bergandengan tangan.

“Oppa?” panggil Jessica sambil menyandarkan kepalanya di bahu Changmin.
“Hmm?”
“Kalau misalnya tiba-tiba aku berubah menjadi jelek, gemuk, dan tidak menarik lagi, apa Oppa masih mencintaiku?”
“Mmm tergantung~”
“Tergantung apa?”
“Tergantung sejelek mana penampilanmu~”
Jessica menegakkan badannya. “Yaa apa maksut Oppa?!” tanya Jessica kesal.
Changmin terkekeh geli melihat ekspresi kesal pada wajah Jessica yang entah kenapa membuatnya terlihat lucu. Changmin menyandarkan kepala Jessica lagi di bahunya. “Tidak tidak, Oppa hanya bercanda, jagi. Oppa tidak akan meninggalkanmu walaupun kau berubah sejelek apapun.” jawab Changmin lembut sambil mengelus pelan rambut Jessica.
“Benarkah?” jessica melihat ke arah Changmin. Changmin hanya mengangguk.
“Oppa janji tidak akan pernah meninggalkanmu.” ucap Changmin lagi.
“Makasih Oppa. Hehehe.”
Suasana menjadi hening seketika. Mereka kembali melanjutkan menonton film.
Changmin merasakan hembusan nafas lembut Jessica. Ia menoleh ke arah Jessica, dan mendapatinya telah tertidur pulas di bahu Changmin. Changmin hanya tersenyum melihatnya. Perlahan ia mengangkat tubuh Jessica dan kemudian membawanya ke kamarnya. Ia menyelimuti tubuh Jessica lalu mengecup lembut keningnya. “Goodnight, princess.”

+++
Sore ini jessica hanya duduk sambil memeluk lututnya di sofa yang menghadap ke jendela. Saat ini diluar sedang hujan deras. Dan tentu saja udaranya menjadi sangat dingin. Lagi-lagi Jessica teringat oleh lelaki itu. Saat itu, dimana mereka memulai kisah manis mereka.

“Ah, sial! Aku kelupaan tidak membawa payung hari ini!” umpat jessica.
Hari ini hujan deras kembali mengguyur kota Seoul. Itu memaksa Jessica harus tertahan di halte bus. Ia harus berusaha bertahan di halte ini atau kalau tidak mencari tumpangan payung.
Jessica melirik jam yang melingkar manis di tangan kirinya. 4.30 p.m. Sudah 45 menit Jessica menunggu di halte ini, tapi hujannya juga tak kunjung reda. Baru saja ia akan nekat hujan-hujanan, tetapi sebuah suara menghentikannya.
“Butuh tumpangan payung, nona?” tanya seorang lelaki.
Jessica membalikkan badannya menatap sosok lelaki tadi. Badannya tegap, tinggi, wajahnya juga tampan. “I-iya.”
“Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Ayo!” ajaknya.
Jessica sempat melamun sebentar ketika memandang wajah tampannya itu. “Nona?” lelaki tadi mengibaskan tangannya di depan wajah jessica, dan itu sukses membuat Jessica tersadar dari lamunannya.
“E-eh. Baiklah.” Jessica berjalan mendekat ke arah lelaki tadi. Jadilah mereka pulang bersama.
“Shim Changmin. Kau bisa memanggil Changmin.”
“Jung jessica. Kau bisa memanggilku Sica. Senang berkenalan denganmu Changmin-ah.”
“Nado.” ia tersenyum.
“Mmm sudah sampai rumahku. Kau mau mampir dulu?”
“Tidak usah, Sica. Aku langsung pulang saja.”
“Oh yasudah. Terimakasih ya.” ucap Jessica lalu berjalan menuju teras rumahnya.
“Sama-sama. Aku pulang dulu. Annyeong~”

+++

Jessica memutuskan untuk kembali ke apartmentnya setelah menghabiskan waktunya di pantai. Begitu ia akan beranjak dari tempatnya, seorang lelaki yang tengah berdiri membuatnya berhenti melangkah.
“Op-Oppa?!” tanya Jessica memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar kekasihnya yang sudah lama dirindukannya.
“Ne, Sica. Ini Oppa.” lelaki tadi tersenyum. Senyum itu, senyum yang sangat Jessica suka. “Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya dengan penuh harap. Jessica hanya mengangguk kemudian kembali duduk di tempatnya yang tadi.
“Oppa minta maaf.” ucapnya lalu menunduk.
“Untuk?”
“Maafkan Oppa sudah meninggalkanmu. Oppa sebenarnya tidak bermaksut meninggalkanmu. Oppa hanya menuruti perintah Appa untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Dan waktu itu… Oppa tidak sempat berpamitan padamu. Maaf, Sica.”
Tanpa terasa, air mata Jessica kembali menetes. Changmin—lelaki tadi yang mendengar sebuah isakan, langsung menoleh ke arah Jessica.
“jagi, kau kenapa? Kenapa kau malah menangis? Oppa minta maaf, jagi.” Changmin yang tidak tahan melihat Jessica, langsung memeluk tubuh kecil perempuan itu.
“Aku merindukanmu Oppa, sangat.” isak Jessica dalam pelukan Changmin.
Changmin membelai lembut rambut Jessica. “Nado. Sudahlah, jangan menangis lagi, ne?”
Changmin melepaskan pelukannya. Ia menatap dalam kedua mata Jessica. Tanpa terasa jarak antara mereka semakin lama semakin dekat. Dan, cup. Sebuah kecupan hangat menghapus jarak diantara mereka.
“Oppa, berjanjilah kalau kau tidak akan meninggalkanku lagi seperti kemarin. Oppa tau? Aku hampir gila karena mengira bahwa Oppa sudah tidak ada.” ucap Jessica
“Ne, Oppa janji jagi. Maafkan Oppa ya?” pinta Changmin.
Jessica hanya mengangguk sambil tersenyum.

END


[FANFICTION] CONFESSION

TITLE: CONFESSION

AUTHOR: LINDAA (@lzerlindaa)

CASTS: 

– LEE SOO YEON

– JUNG YUNHO

– SHIM CHANGMIN

HAPPY READING ~

========================================================

 

“Hahaha nggak mungkinlah Min. Aku nggak mungkin jatuh cinta sama Yunho yang sombongnya setinggi langit itu,” kataku.

“Tapi Lee SooYeon, tidak menutup kemungkinan kalau kau bisa jatuh cinta pada Yunho,” ujar Changmin, sahabat dekatku sejak kecil.

“Maksudmu apa, Min?”

“Yah kau pasti tau kan alasannya, pertama karena Yunho memiliki wajah yang tampan dan IQ-nya juga tinggi, kedua karena umm yah kau tahu kan kalau dia pewaris tunggal JK corp?” tanyanya.

“Uhm yeah dia memang mendekati perfect, tapi sayangnya aku tidak menyukai sifatnya itu. Kau tentu tahu kan dia seperti apa orangnya?” tanyaku balik.

“Sombong dan menyebalkan.” Jawabnya tanpa melepaskan pandangannya dari layar TV.

“Nah itu kau sudah tau. Jadi tak mungkin kan kalau aku jatuh cinta padanya? Hahaha,” tawaku. “Sudah ah, aku mau ke café seberang dulu. Kau mau ikut?” tawarku pada Changmin yang masih asyik menonton film.

“Tidak usah, aku mau menyelesaikan film ini dulu, setelah itu aku mau menyelesaikan seluruh tugas kuliahku malam ini juga, jadi besok-besok aku tidak akan terbebani oleh tugas itu lagi,”

“Okelah. Kalau bisa kerjakan punyaku sekalian ya. Daah hahaha,” tawaku lagi.

“Hei aku titip vanilla latte ya!” teriaknya sebelum aku menutup pintu.

CONFESSION

Hai. Perkenalkan namaku Lee SooYeon. Aku berumur 19 tahun dan kini tengah berkuliah di salah satu perguruan terbaik di Seoul. Aku tinggal di Seoul bersama sahabatku, Shim Changmin. Changmin juga seumuran denganku dan satu perguruan tinggi denganku. Kami berdua bersahabat sejak kami masih kecil.

Sekarang aku tengah jalan kaki menuju ke café langgananku yang letaknya hanya di seberang rumahku.

Aku segera menempati tempat duduk yang letaknya agak pojok dan memesan minuman pada salah satu pelayan café ini. Beberapa menit setelahnya, minuman pesananku datang. Bukannya langsung meminumnya, aku malah menatap kosong pada kepulan asap kopi yang masih panas itu.

Entah kenapa saat aku melihat ke cangkir kopi itu, di kepalaku langsung muncul wajah Yunho saat sedang tersenyum.

Aku tersadar dari lamunanku saat seorang pelayan mengantarkan minuman pesanan Changmin. Aku langsung menghabiskan kopiku dan membayarnya, lalu cepat-cepat pergi dari situ.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke rumah. Saat aku melewati taman kota, tempat itu terlihat sepi, mungkin karena ini sudah hampir tengah malam dan tadi juga sempat turun hujan walau tidak begitu deras.

Tapi sosok lelaki yang tengah duduk sendirian di bangku taman itu menarik perhatianku. Lelaki itu jika dilihat dari belakang seperti… Jung Yunho, mungkin?

Entahlah perasaanku mengatakan kalau lelaki itu adalah Yunho, prang yang paling menyebalkan yang pernah kukenal. Tapi untuk apa dia berada di taman kota tengah malam begini?

Aku mencoba mendekatinya perlahan. “Jung Yunho?” panggilku.

Ia seketika itu juga menoleh kearahku yang sekarang tepat berada di belakangnya. Dan tepat sekali dugaanku. Ia benar Jung Yunho. Syukurlah, kalau begitu aku tak perlu merasa malu karena salah orang.

Ia hanya menoleh sebentar, lalu kembali memunggungiku. Ada apa dengan orang ini, pikirku. “Boleh aku duduk?” tanyaku. Ia tetap diam. Aku kemudian berjalan dan duduk di sampingnya.

Lama kami terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya aku ingin mengajaknya ngobrol, tapi kurasa ia sedang tidak ingin diganggu.

“Kau pernah merasakan ditinggal selamanya oleh ibumu?” akhirnya ia membuka mulutnya juga.

“Tidak pernah. Kenapa?” tanyaku.

“Apa yang akan kau lakukan ketika ibumu sudah meninggal, lalu ayahmu menikah lagi dengan wanita lain yang hanya mengincar harta kekayaan keluargamu, dan ia sama sekali tidak mempedulikan keluarganya?”

“Entahlah. Aku belum pernah mengalami hal itu, jadi aku tidak tahu harus berbuat apa.” Jawabku. “Kau sedang ada masalah, Yunho?”

Ia menghembuskan nafasnya pelan, lalu mengangguk secara perlahan.

“Kau bisa berbagi masalahmu padaku, yah kalau kau mau sih. Kalau tidak juga tidak apa-apa,”

“Entahlah.” Jawabnya singkat. “Aku pulang dulu. Selamat malam.” Ucapnya lalu pergi meninggalkanku yang masih duduk di bangku taan itu.

Aku tetap duduk menungguinya sampai ia menghilang di perempatan jalan. Setelah yakin ia benar-benar tidak terlihat lagi, aku bangkit dan berjalan pulang ke rumah.

“Aku pulang!” ujarku sambil melepas sepatuku.

“Kau baru pulang? Lama sekali?” seseorang bertubuh jangkung keluar dari ruangan yang terletak di sebelah kamarku.

“Iya. Maaf tadi aku bertemu temanku sebentar. Ini pesananmu. Tapi sepertinya sudah agak dingin hehehe maaf,”

Changmin mengambil vanilla latte yang tadi kuletakkan di meja makan, kemudian meminumnya.

“Bagaimana tugas-tugasnya? Sudah kau kerjakan semua?” tanyaku sambil menyalakan televisi.

“95% sudah. Kurang sedikit lagi. Kau sudah mengerjakan tugas dari Dosen Kim?”

“Sudah sepertinya. Lihat saja di kamarku.” Jawabku. “Hei ada Lee Donghae di TV! Astaga, dia itu benar-benar tampan ya.” Ucapku.

“Ckckck dasar fangirl,” Changmin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sudah ya, aku mau melanjutkan tugasku lagi. Kalau kau butuh aku, aku ada di kamar. Dan terimakasih untuk vanilla latte-nya.”

“Oke.”

Pandanganku masih terus fokus ke layar televisi, namun entah kenapa pikiranku tertuju pada Yunho. Entahlah sepertinya Yunho tadi sedang mendapat masalah yang cukup berat. Biasanya aku tak pernah melihat wajahnya semurung tadi.

Aku menengok ke arah jam yang terletak tepat diatas TV. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku menguap lagi. Kumatikan televisi, dan berjalan menuju kamarku. Sebelum sampai ke kamar, aku terlebih dulu mengecek Changmin.

Aku melangkah masuk ke kamar Changmin, dan aku menemukannya tertidur di tumpukan buku-buku kuliahnya. Karena kasian padanya, aku berusaha memindahkan badan Changmin ke kasur. Setelah bersusah payah, akhirnya aku berhasil menidurkan Changmin di kasur.

Sampai di kamarku, aku segera menuju kasur dan menutup mataku.

[ONE WEEK LATER]

“Aku pergi dulu ya Min.” pamitku sambil memakai jaket coklat kesayanganku—hadiah dari kakaku, Lee Jinki.

“Kau mau pergi? Tengah malam begini? Apa kau sudah gila?”

“Tidak. Aku hanya ingin mencari udara segar di luar.” Jawabku.

“Oh. Yasudah. Jangan lama-lama ya!”

“Memang kenapa? Kau takut ya kalau kutinggal sendirian di rumah? Hahaha,” ejeku lalu tertawa keras, alhasil setelah itu aku mendapat lemparan bantal dari Changmin. “Hei jangan melempariku!”

“Sudah sana cepat pergi. Kalau boleh aku belikan vanilla latte lagi ya. Hehehe,”

Aku menutup pintu rumah lalu berjalan memutari kompleks perumahanku. Sampai di taman kota, aku kembali melihat Jung Yunho sedang duduk sendirian di salah satu bangku taman yang kosong. Aku melangkah menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya.

“Kau?!” tanya Yunho heran saat aku duduk di sampingnya. “Kenapa kau bisa ada disini? Tengah malam begini?”

“Aku tadi hanya berniat mencari udara segar, tapi begitu aku melihatmu ada disini, aku menghampirimu.” Jawabku. “Kau kenapa duduk sendirian di taman yang sepi begini? Masih ada masalah?”

“Begitulah.” Jawab Yunho pelan. “Ohya, ngomong-ngomong siapa namamu? Dari awal kita bertemu, aku belum pernah tau namamu, yah walaupun kita satu jurusan,”

Aku mengulurkan tanganku, “Lee SooYeon.”

“Senang berkenalan denganmu,” Yunho menyambut uluran tanganku dan tersenyum ramah. Saat ia tersenyum, baru kusadari ia begitu tampan dan mempesona. Hei, apa yang sedang kupikirkan ini.

“Kau tidak ingin berbagi masalahmu padaku? Siapa tau aku bisa membantu.” Tawarku.

Ia menghembuskan nafasnya, “Sebenarnya aku ingin bercerita, tapi…” ia menggantungkan kalimatnya. “Entahlah.”

“Aku tak akan memaksamu untuk menceritakan masalahmu padaku, kalau kau memang tidak mau bercerita, yasudah.”

Kami sama-sama terdiam, suasana kembali menjadi sunyi.

“Ibuku meninggal satu tahun yang lalu—tepat di hari ulangtahunku, 6 Februari…” Yunho mulai bicara. “Kemudian beberapa bulan yang lalu, ayahku menikah lagi dengan seorang wanita yang memang lumayan cantik. Tapi kau tahu, ibu tiriku itu hanya mengincar harta kekayaan ayahku saja. Ia sama sekali tidak peduli dengan keluarga kami. Jika ayahku sedang mendapat tugas di luar negeri, ibuku pasti menghabiskan uangnya untuk berpesta dengan teman-temannya. Ada satu hal yang paling fatal dari ibu tiriku itu…” ucapannya terhenti seketika.

“Apa?” aku mulai terbawa ceritanya.

“Saat ayahku pergi ke Jepang, aku melihat ibuku selingkuh dengan lelaki lain…” lanjutnya.

“Lalu bagaimana dengan ayahmu? Kau pernah menceritakan pada ayahmu tentang ibu tirimu itu?”

“Aku sudah berusaha menceritakannya pada ayahku, tapi ayahku tetap tidak percaya pada ceritaku…” ucapnya. “Suatu saat aku pernah mendengar obrolan ibu tiriku itu dengan selingkuhannya. Inti dari obrolan mereka adalah mereka ingin merebut perusahaan milik ayahku, JK corp.”

“Aku tidak tau harus bagaimana untuk membantumu. Aku belum pernah mengalami hal seperti itu. Maaf.” Kataku lalu menunduk.

Yunho menghembuskan nafasnya lalu tersenyum, “Tidak apa-apa. Bercerita denganmu sudah membuat hatiku sedikit lega. Pasalnya selama ini aku terus menyimpan masalah ini sendirian.” Katanya.

“Kalau memang kau butuh teman untuk curhat, kau bisa datang padaku hehe.” Kataku. “Sepertinya aku harus pulang sekarang. Selamat malam!”

Sebuah tangan langsung menyambar pergelangan tanganku, menahanku untuk berjalan. “Besok lusa aku tunggu kau di café ya. Jam 10 malam. Selamat malam!” ucapnya lalu pergi begitu saja.

Aku masih diam terpaku. “Yeah, good night.” Gumamku. Menit berikutnya aku berjalan pulang ke rumah.

[TOMORROW]

“WHAT?! Semalam kau bertemu Jung Yunho? Di taman?” ucap Changmin terkejut ketika aku menceritakan kejadian semalam.

Aku meminum tehku lalu mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Wah wah ketauan sekarang. Kau kemarin pergi tengah malam untuk menemui Yunho kan? Hahaha.” Tawa Changmin meledak, dan itu membuatnya yang sedang mengunyah roti jadi tersedak. “Uhuk uhuk..”

Aku menyodorkan air putih lalu menepuk punggungnya pelan. “Tidak juga sebenarnya. Karena tiba-tiba melihatnya saja, jadi aku menghampirinya.” Jawabku sambil memandang Changmin yang meminum air putih yang kusodorkan tadi.

“Terus kalian ngobrol atau malah bertengkar?”

“Ia curhat, percaya tidak percaya sih.” Jawabku lalu mengunyah rotiku. Changmin memandangku seakan tidak percaya. “Nah kan, sudah kutebak, pasti kau tidak akan percaya. Ia benar-benar curhat padaku, Changmin.”

“Memangnya dia curhat masalah apa?”

“Keluarganya. Ternyata keluarganya kurang harmonis.”

Changmin hanya ber-“O” ria sambil melanjutkan sarapan paginya. “Kau masih ingat Yoochun? Pagi ini ia akan datang kesini bersama temannya.”

“Park Yoochun maksutmu? Yang dulu waktu SMP terkenal playboy itu?” tanyaku memastikan dan dijawab anggukan mantap dari Changmin. “Ooh.”

Kira-kira 20 menit setelahnya, bel rumahku berbunyi. Changmin sambil membetulkan rambutnya segera membukakan pintu.

“YaaPark Yoochun! Apa kabarmu?” sapa Changmin sambil memeluk teman lamanya itu. “Katamu kau mau membawa temanmu? Mana orangnya?” Changmin celingak-celinguk mencari seseorang di balik bahu Yoochun.

“Hei hei hei kebiasaanmu tidak berubah ya dari dulu. Kau pasti membiarkan tamumu di luar. Kau tidak mengajakku masuk?” ujar Yoochun lalu tertawa, dan diikuti Changmin. “Ohya, temanku tadi mampir sebentar ke supermarket dekat sini. Nanti dia akan ke sini kok, tenang saja tadi ia sudah kuberi tau rumahmu.” Jawabnya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

“Yoochunnie Oppa~~” panggilku.

“Hei SooYeon! Bagaimana kabarmu sekarang?” tanyanya sambil memelukku.

“Baik-baik saja hehe. Ohya, kata Changmin, kau mau membawa temanmu kesini? Dimana dia?”

“Teman Yoochun sedang mampir ke supermarket dekat café, sebentar lagi ia akan ke sini.” Sahut Changmin dari arah dapur. “Duduklah Chun. Ini kubawakan kau cola dingin.”

Tak lama setelah itu bel rumahku berbunyi. “Nah itu pasti temanku.” Ujar Yoochun.

“Biar kubukakan saja.” Ujarku sambil berjalan menuju pintu. “Selamat da—Yunho?!” aku terkejut melihat siapa yang datang. Yunho?! Kenapa ia bisa ada disini? Apa dia teman Yoochun?

“SooYeon?!” Yunho juga sama terkejutnya denganku. Ternyata ia juga tidak tahu hal ini.

Yoochun dan Changmin menghampiriku yang masih berdiam diri di depan pintu. “Ya Jung Yunho, ayo masuk! Changmin, kenalkan ia Yunho, temanku. Dan Yunho, kenalkan ini Changmin dan itu Lee SooYeon.” Ucap Yoochun. “Yunho? SooYeon? Kalian baik-baik saja kan?” ucapan Yoochun tadi mampu membuatku dan Yunho terasadar.

“Eh? Iya?” ucapku dan Yunho—bersamaan.

“Kalian ini kenapa sih? Dasar aneh.” Kata Yoochun lalu kembali duduk bersama Changmin.

“Silakan masuk.” Ucapku mempersilakan Yunho untuk masuk. Yunho segera masuk dan duduk di sofa yang letaknya berhadapan dengan sofa yang kini tengah ditempati dua orang yang sudah lumayan lama tidak bertemu, Yoochun dan Changmin. Aku berjalan dan kemudian duduk di sebelah Yunho.

“Kalian sudah berkenalan?” tanya Yoochun.

“Kami sudah saling kenal, Oppa.” Jawabku.

“Oh baiklah kalau begitu.” Kata Yoochun lagi. “Umm Changmin dan aku akan pergi sebentar ke rumah teman kami yang lain. Kau tidak apa kan Yun, jika kutinggal sebentar?”

Yunho agak terkejut dengan itu, tapi kemudian ia memaksakan tersenyum pada temannya itu. “Tidak apa-apa kok. Hati-hati di jalan ya!”

Yoochun dan Changmin segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Sekilas aku melihat Changmin mengedipkan matanya jail ke arahku. Dasar Changmin menyebalkan!

Setelah pintu ditutup, rumahku terasa sepi sekali. Kami berdua walau duduk bersebelahan, tapi kami tidak mengucapkan sepatah katapun.

“Jadi kau tinggal disini ternyata.” Ucap Yunho memecah keheningan. “Pantas saja kau sering ke taman.”

“Yeah begitulah.” Setelah aku berkata seperti itu, keadaan kembali hening. Kami berdua rasanya sulit untuk berbicara, sampai aku mencium bau gosong dari arah dapur, dan seketika itu juga aku baru sadar kalau tadi aku tadi sedang membuat roti. “Astaga! Rotiku!” seruku lalu berlari ke arah dapur, disusul Yunho.

“Ada apa sih?” tanya Yunho lalu ia duduk di kursi meja makan.

“Yaah rotiku gosong. Ah sial kenapa bisa sampai lupa gini sih?!” runtukku sambil mengeluarkan roti yang sudah gosong itu dari oven. Entah kenapa sepertinya aku merasa ada yang memperhatikanku. Aku menoleh ke arah Yunho, dan ternyata ia sedang membetulkan rambutnya. Kau ini memikirkan apa sih, Lee SooYeon, pikirku.

“Bagaimana kalau kita membuat roti itu lagi?” pertanyaan Yunho cukup membuatku tersadar dari lamunanku barusan.

“Tapi bahan-bahannya tidak cukup sepertinya.”

“Di dekat sini ada supermarket kan? Kita bisa beli disitu dulu.”

“Er.. Boleh juga idemu. Ayo!” aku mengambil jaket dan dompetku lalu berjalan menuju pintu, diikuti Yunho. Kami berdua berjalan bersama menuju ke supermarket yang letaknya di sebelah café langgananku.

Selama kurang lebih lima belas menit kemi berbelanja, kami kembali ke rumah. Setelah meletakkan jaket, kamipun berjalan menuju dapur. “Cooking time~~”

Saat aku tengah konsen membuat adonan kue, tiba-tiba saja Yunho memoleskan sesuatu di pipiku, seperti… tepung, mungkin? “Nah kena kau! Wajahmu lucu sekali kalau terkena tepung hahaha.” Tawa Yunho meledak setelah ia berhasil memoleskan tepung di pipiku.

“Yaa Jung Yunho! Awas kau ya! Kemari kau, kubalas perbuatanmu!” ancamku sambil mengambil tepung dan berlari mengejar Yunho. Alhasil kami berlari berkejar-kejaran sambil bermain tepung. Dan yah bisa dipastikan rumahku berantakan sekarang. Bagus. Padahalkan aku kemarin baru saja membereskan semuanya.

Setelah dirasa cukup bermainnya, aku kembali melanjutkan membuat kue. “Kau mau membantuku menyelesaikan semuanya atau kau pergi dari dapur?” tanyaku sedikit membentak.

“Baik baik, aku akan membantumu. Tapi yah karena aku tidak terlalu pandai memasak, bagaimana kalau aku membantumu membereskan rumahmu ini yang, uhm berantakan ini?” tawar Yunho, dan aku dengan senang hati mengiyakan tawarannya. Itu akan memperingkat waktu.

Sekitar dua jam kemudian, kami berdua telah selesai dengan tugas masing-masing. Akhirnya kueku tidak gosong lagi, dan rasanya juga lumayan lah—setidaknya itu kata Yunho. Kalau untuk tugas Yunho, hmm sepertinya dia melakukan tugasnya dengan baik. Terlihat bagaimana rapinya rumahku sekarang.

Kami berdua sama-sama duduk di sofa ruang tamu. “Yeah cukup melelahkan juga ya ternyata. Aku berkunjung ke rumah teman lama dari temanku, kemudian temanku itu meninggalkanku berdua denganmu di rumahmu, dan setelah itu aku malah bekerja membereskan rumahmu ini. Astaga.” Kata Yunho.

“Hei, yang membuat rumah ini berantakan kan juga kau. Kalau tadi kau tidak memulainya, rumah ini pasti masih dalam keadaan baik.”

“Iyaiya aku minta maaf.” Ucap Yunho. “Ohya, kalau boleh tau, Changmin itu siapamu? Pacarmu? Atau kakakmu? Dan kau tinggal berdua saja dengannya? Dimana orangtuamu?”

“Pacar? Hahaha tentu saja bukan. Yah walaupun banyak yang mengira kami berdua berpacaran, karena kami akrab sekali, tapi kami hanya sebatas sahabat. Kami bersahabat sejak kami masih sangat kecil. Dan yah yang kau lihat sekarang, kami tinggal berdua di rumah ini. Kami mendapat beasiswa berkuliah di Seoul—sebenarnya kami ini tinggal di Daegu—yasudah akhirnya kami memutuskan untuk tinggal bersama di Seoul. Lagipula orangtua kami juga tidak mempermasalahkan hal itu.” Jelasku.

“Ooh.” Sahutnya singkat.

“Yun!” “Yeon!” kami memanggil bersamaan dan itu langsung membuat kami tertawa. “Kau duluan saja lah.” Lagi-lagi kami mengucapkannya secara bersamaan. Hei, ada apa ini.

“Ladies first.” Yunho mempersilakanku sambil tersenyum.

“Aku minta maaf.” Sesalku. Yunho hanya menatapku heran. Seolah-olah matanya berkata, minta-maaf-untuk-apa-?

“Aku minta maaf karena aku salah menilaimu. Dulu aku selalu beranggapan kalau seorang Jung Yunho adalah seseorang yang sangat sombong dan menyebalkan. Bahkan dulu aku sempat memasukan namamu ke dalam daftar orang yang kubenci. Aku minta maaf, Yun.”

“Tapi semuanya sekarang berubah. Aku tak lagi menganggapmu sombong dan menyebalkan. Dan aku juga sudah mencoret namamu dari daftar orang yang kubenci.”—sekarang aku telah memsukan namamu menjadi orang yang kusayangi setelah orangtuaku, kakaku, dan Changmin, lanjutku dalam hati.

Bukannya marah atau apa, Yunho malah tersenyum. Senyum yang sangat kusuka. Senyum itu membuatnya semakin terlihat tampan dan mempesona. “Kau tidak perlu meminta maaf akan hal itu. Aku sudah terbiasa.” Jawab Yunho. “Memang banyak orang yang belum mengenalku, menganggapku adalah sosok yang sombong, menyebalkan, dan susah bergaul. Padahal, kalau kau ingin tahu, dulu aku tidak seperti ini. Dulu aku anak yang ramah dan menyenangkan, tapi semua itu berubah semenjak kematian ibuku.”

“Aku sangat dekat dengan ibuku. Dibandingkan dengan ayahku, aku lebih dekat dengan ibuku. Aku sering cerita kepadanya tentang teman-temanku ataupun kejadian-kejadian di sekolah, tak jarang juga aku sering curhat kepadanya kalau aku sedang ada masalah. Dan yah mungkin juga aku dekat dengan ibuku karena pekerjaan ayahku yang membuatnya cukup sering pergi ke luar negeri, dan jarang ada di rumah. Itulah sebabnya kenapa aku begitu dekat dengan ibuku. Kumohon kau mau memaklumiku, Yeonnie-ah.” Ucap Yunho. Kesedihan tampak jelas di matanya. Pasti ia merasa sangat sedih karena harus kembali mengingat ibunya. Aku sedikit kasihan padanya.

“Tentu aku akan memaklumimu.” Jawabku sambil tersenyum padanya. “Nah, sekarang giliranmu. Kau tadi mau mengatakan apa?”

Yunho terlihat terkejut kemudian menggaruk kepalanya salting. “Err..” ia masih menggaruk kepalanya salting. “Aku boleh meminta nomor ponselmu?”

“Tentu saja.” Kemudian aku menyebutkan serentetan angka, dan Yunho mencatatnya di ponselnya.

“Terimakasih.” Ucapnya sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. “Err… Yeon-ah!” panggilnya lagi.

“Ya?”

“A-aku…” belum selesai Yunho bicara, pintu rumahku tiba-tiba dibuka, dan munculah sosok tubuh jangkung dan teman lamanya.

“Yunho-ah, kau sudah selesai belum pacarannya? Kalau sudah, ayo kita pulang. Ini sudah mau sore.” Begitu Yoochun berkata seperti itu. Wajahku dan Yunho langsung memerah seketika.

“Aku tidak pacaran ya Chun.” Sanggah Yunho sambil menyembunyikan wajahnya yang sekarang sudah semerah tomat. Kemudian ia berdiri dan menyusul Yoochun yang berada di depan pintu. Aku mengikutinya dari belakang. “Kami berdua pulang dulu. Terimakasih Changmin-ah, senang berkenalan denganmu.” Ucap Yunho. “Terutama kau. Yeonnie-ah.” Ia tersenyum padaku. Astaga senyumnya tadi indah sekali ya Tuhan.

“Kau tadi ngapain saja dengan Yunho?” tanya Changmin dengan wajah mesumnya, setelah menutup pintu.

“YA! Pikiranmu ini mesum sekali sih! Aku tadi hanya membat ro—“ belum selesai aku menjawab pertanyaannya. Ia sudah berlari duluan ke arah dapur. Sudah bisa ditebak apa yang dilakukannya. Ya tepat sekali. Ia memakan roti yang kubuat tadi.

“Roti buatanmu ini enak sekali, Yeonnie-ah.” Ucap Changmin. Mulutnya penuh terisi roti.

“Ish kau ini. Telan dulu rotinya, baru kau bicara. Dasar kebiasaan.” Ujarku. “Umm aku ke kamar dulu ya. Ohya, sisakan beberapa roti untukku, jangan kau habiskan ya.”

Sesampainya di kamar, aku langsung tiduran di kasurku. Sambil memainkan ponsel di tanganku, pikiranku kembali tertuju pada Yunho. Sudah beberapa hari ini pikiranku full hanya terisi oleh Yunho, Yunho, dan Yunho. Astaga apakah aku sudah gila, sampai-sampai memikirkannya terus-terusan?

Pipiku bersemu merah saat mengingat kembali cara Yunho memanggilku. Yeonnie-ah. Memang sih seluruh orang yang sudah dekat denganku pasti akan memanggilku seperti itu. Tapi entah kenapa tadi rasanya waktu Yunho menyebutkan nama itu terkesan spesial.

Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Ada pesan masuk.

Hei Yeonnie-ah! Kau belum tidur kan? Maaf sebelumnya mengganggumu malam-malam begini. Aku hanya sekedar mau mengingatkan kalau besok aku akan menjemputmu ke café sekitar jam 4, oke? Kau bisa kan? Umm.. mungkin setelah itu aku akan mengajakmu jalan-jalan dulu sebelum pulang. Kuharap kau mau. Selamat malam ^^

 

– Yunho

 

Aku hanya tersenyum membaca pesan dari Yunho barusan.

“Aku pasti bisa kok Yun. Selamat malam juga, pangeran

tampanku.” Ucapku.

Kemudian aku meletakkan ponselku di meja kecil sebelah kasurku, lalu mulai memejamkan mataku.

[TOMORROW]

Sejak jam setengah 4 aku sudah bersiap diri. Kata Yunho semalam, ia akan menjemputku sekitar pukul 4.

“Yaa Yeonnie-ah. Kau ini sebenarnya kenapa sih? Daritadi mondar-mandir terus. Pusing aku melihatnya. Tak bisakah kau duduk menunggu dengan tenang? Atau jangan-jangan kau nervous ya karena mau diajak kencan sama Yunho? Hahaha.” Tawa Changmin, lalu mengambil kue yang ada di toples.

“Terserah kau lah, Min, mau bilang apa. Aku sedang tidak dalam mood yang baik.” Ucapku lalu melanjutkan acara ‘mondar-mandir’-ku.

Tak berapa lama setelahnya, bel rumah berbunyi. Itu pasti Yunho, ujarku senang dalam hati.

“Hei!” sapaku ketika membukakan pintu untuknya. Tak bisa kupungkiri, malam ini ia begitu tampan. Dengan pakaian biru muda bermotif kotak-kotak, ditutupi dengan jas berwarna biru tua. Ditambah lagi celana panjangnya yang berwarna hitam, ia semakin terlihat mempesona.

Yunho tidak menjawab sapaanku. Ia hanya diam sambil memandangiku dari atas sampai bawah. “Yunho? Kau kenapa? Ada yang salah denganku malam ini?” tanyaku sambil mengibaskan tanganku di depan wajahnya.

Neomu yeppeo.” Gumamnya, namun dapat terdengar jelas olehku. Berani taruhan, pasti sekarang wajahku semerah tomat begitu Yunho memujiku barusan.

Ia langsung tersadar dan menatapku. “Ayo!” ia mengulurkan tangan kanannya padaku. Bak seorang putri, aku menyambut uluran tangan pangeran tampanku itu.

Ups, apa aku barusan menyebutnya ‘pangeran tampanku’? Hahaha ternyata aku sudah sukses terpesona olehnya.

Di mobil kami hanya terdiam. Yunho sibuk menyetir, sementara aku terus saja memainkan jari-jariku di atas pahaku. Tak lama setelahnya, kami berdua sampai di sebuah café yang penampilan luarnya agak aneh. Kurang menarik. Aku sedikit tidak yakin dengan tempat itu, tapi Yunho terus memaksaku untuk turun.

“Tenanglah. Luarnya memang kurang menarik, tapi kau belum tau bagaimana dalamnya kan? Ayo!” Yunho menggandengku masuk ke dalam bangunan yang ia sebut ‘café’ itu.

Begitu kami memasuki bangunan tersebut, aku langsung terdiam memandangi bangunan café itu. Ternyata bagian dalamnya sangat berkebalikan dengan penampilan luarnya. Bagian dalamnya terlihat begitu indah. Tidak sia-sia aku menuruti ucapan Yunho tadi.

“Ayo! Kita ke bagian belakang saja!” ajak Yunho, masih tetap menggandeng tanganku.

Aku terdiam. Pipiku bersemu merah ketika melihat ke tanganku yang sedang digandeng Yunho. “Ups maaf.” Seketika itu juga ia langsung melepaskan gandengannya dan menggaruk kepalanya salting. Hihihi ia terlihat imut kalau sedang salting begitu.

Kami berdua berjalan beriringan menuju ke tempat yang di maksud Yunho.  Tak berapa lama, kami langsung menempati tempat yang agak sepi. Setelah memesan minuman, Yunho mulai mengajaku ngobrol.

“Yeonnie-ah!” panggilnya. Aku langsung mendongakan kepalaku, menatapnya. “Kau terlihat sangat cantik malam ini.” ia langsung tersenyum setelah selesai mengucapkan kalimatnya.

Pasti sekarang wajahku sudah memerah seperti tomat, mendengar ia memujiku lagi. “Dan kaupun juga terlihat super tampan malam ini, Yunho-ah.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Ah, biasa saja kok. Hehe.” Lagi-lagi ia menggaruk kepalanya salting. Yunho-ah, tolong berhenti melakukan itu di hadapanku, atau kau akan membuatku kehilangan nafas, jeritku dalam hati.

Aku menggumamkan ‘terima kasih’ pada pelayan yang baru saja meletakkan minuman kami di meja. “Kau sering ke sini?” tanyaku.

“Umm cukup sering. Aku biasa ke sini kalau aku sedang bosan di rumah. Biasanya aku selalu sendirian ke sini, kau adalah wanita pertama yang kuajak ke café ini.”

Aku meminum perlahan kopi pesananku tadi. Yah walaupun masih panas, namun rasa nikmat itu tetap ada ketika aku meminumnya. Ketika aku meletakkan kembali gelas itu di atas meja, aku sadar kalau kopi tadi meninggalkan bekasnya di sekitar bibirku. Itu memang kebiasaanku kalau meminum kopi ataupun susu.

Tiba-tiba saja Yunho mengambil sapu tangannya dari saku, lalu membersihkan mulutku yang belepotan kopi itu. Aku hanya bisa diam ketika diperlakukan seperti itu.

“Kau tadi lucu sekali saat wajahmu belepotan kopi.” Yunho tersenyum jahil.

Kami terus mengobrol, sampai minuman kami habis. Dan saat itu kami baru menyadari kalau kami sudah hampir satu jam berada di café. Yunho buru-buru mengajaku kembali ke mobil. Katanya sih setelah ini aku akan dibawa ke suatu tempat. Tapi Yunho tak mau memberitahukan tempat apa itu.

“Sebelum sampai di tempat yang kumaksud, kau mau mengabulkan permintaanku?” tanya Yunho. Dari raut wajahnya, terlihat jelas kalau ia butuh jawaban ‘mau’. Dan tanpa ragu lagi, aku menganggukan kepalaku. “Terimakasih.”

Ia mengeluarkan sesuatu dari dashboard mobilnya. Aku memandanginya sebentar. “Itu saputangan kan? Kau mau apa?” tanyaku. Ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku, lalu mulai menutup mataku dengan saputangan tadi.

Aku bingung dengan sikapnya ini. Untuk apa ia menutup mataku seperti ini. Baru saja aku mau bertanya, tapi Yunho sudah berkata duluan. “Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Percayalah.” Ucap Yunho lalu tersenyum dan mulai menutup mataku dengan saputangannya.

Sekitar dua puluh menit setelahnya, mobil Yunho berhenti. Kurasa kami sudah sampai. Yunho terlebih dulu keluar dari mobil, lalu baru membukakan pintu untuku. Karena tau aku tidak bisa melihat apapun, Yunho menggandeng tanganku dan membawaku entah kemana.

“Sampai!” seru Yunho. Menit berikutnya ia mulai melepaskan sapu tangannya yang ada di mataku.

Begitu sapu tangan itu dilepas, aku terdiam memandang pemandangan yang ada di depan mataku sekarang. Takjub. Tempat ini begitu indah malam ini. Ini adalah taman, tempat dimana pertama kali kami bertemu.

Tempat ini yang biasanya hanya sebuah taman kecil biasa, sekarang disulap menjadi tempat yang menurutku sangat romantis. Disini terdapat beberapa lilin kecil yang membentuk tanda love berukuran besar. Tepat ditengah lilin terdapat sebuah bangku taman, yang di atasnya ada sebuah boneka beruang.

Tiba-tiba saja sebuah tangan menariku ke tengah lilin-lilin tersebut. “Kau menyukai ini?” tanya Yunho.

“Suka. Ini sangat indah, kau tahu. Apa ini semua kau yang membuat?” tanyaku dan dijawab anggukan kepala olehnya. “Kau romantis sekali.”

Yunho tersenyum mendengar jawabanku. Mungkin ia puas, karena kerja kerasnya tidak sia-sia. Setelah itu, Yunho langsung bersimpuh di hadapanku. Refleks aku langsung menutup mulut dengan kedua tanganku—terkejut dengan apa yang dilakukannya.

Ia menarik kedua tanganku dan menggenggamnya erat. “Would you be my wife?” ia melepaskan satu tanganku untuk mengambil sesuatu di sakunya. Aku terkesiap setelah menyadari kalau itu adalah cincin. Astaga se-serius inikah ia padaku?

“A-aku…” aku benar-benar bingung sekarang. Kukira awalnya ia hanya ingin menjadikanku sebagai pacarnya. Tapi nyatanya lebih dari itu. Bukannya aku ingin menolak, tapi aku hanya takut.

“Aku tau, kau pasti mengira awalnya aku hanya ingin menjadikanmu pacarku kan?” tepat sekali. “Iya, memang begitu rencana awalku. Tapi begitu aku menceritakanmu pada ayahku, Beliau tidak ingin kita berpacaran. Namun Beliau ingin kita segera menikah.”

“Tapi Yeonnie-ah, apa kalau aku memintamu menjadi pacarku, kau akan menerimaku?” tanyanya lagi.

Aku terdiam sejenak sebelum menjawab. “Mungkin ini memang keputusan yang terlalu cepat. Tapi sebelumnya aku juga sudah cukup mengenalmu Yunho-ah.” Jawabku.

“Aku mau menjadi istrimu.” Jawabku. Aku yakin pasti sekarang wajahku sudah memerah.

Dimasukkannya cincin itu di jari manisku, lalu ia segera berdiri dan memelukku erat. “Terimakasih.” Bisiknya lembut.

Kami berpelukan kurang lebih tiga menit. Setelah itu, Yunho mengendurkan pelukannya sehingga ada jarak diantara kami. Ia mengangkat daguku dengan telunjuknya, dan ia juga mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Lalu, cup. Ia menciumku dengan lembut.

– FIN –


DRABBLE/NADO SARANGHAE (YAOI)

Pairing: Jonghyun-Key

Malam itu seluruh anggota SHINee sedang tertidur lelap karena kelelahan akibat konser tour yang mereka gelar. Kecuali satu orang, Key, sang rapper fashionista SHINee. Ia masih terjaga hingga saat ini. Kini ia sedang duduk di balkon asrama SHINee, menikmati suasana Korea pada saat malam hari. Hingga sebuah suara menyadarkannya..
“Key..” suara orang itu. Suara yang sangat familiar bagi Key. Key segera menoleh menatap lelaki yang memanggilnya tadi, sedang berdiri meminum cokelat panas. Ia tersenyum pada Jonghyun, “ya hyung? hyung kenapa sudah larut malam begini belum tidur?” tanya Key. “seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu Key. kenapa kau belum tidur sampai jam segini? ini kan sudah hampir tengah malam.. kau tidak lelah?” tanya Jonghyun sambil berjalan mendekati pagar balkon asrama. “a..aku hanya belum bisa tidur saja. hehe..” jawab Key sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Salting. “hyung kenapa belum tidur juga?”
“entahlah aku juga tidak tahu. mungkin aku terkena insomnia. haha..” tawa Jonghyun lalu kembali menyandar di pagar balkon. Key terus saja menatap wajahnya yang tampan itu. Key memang menyukai sosok laki-laki itu, namun hinggat saat ini ia masih takut untuk mengatakannya. Ia takut kalau nanti hyung-nya itu akan benci padanya. Key juga selama ini sudah mencoba untuk melupakan Jonghyun. Namun hasilnya? Ia masih tetap mencintai laki-laki itu. “Key?!” ujar Jonghyun sambil mengibas-ngibaskan tangannya itu di depan wajah Key. Key yang tadi sempat melamun, langsung tersadar. “eh? ya hyung? ada apa? mau kumasakkan sesuatu?”
“bukan bukan.. hanya saja tadi kau melamun. sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Jonghyun. “tidak..” jawab Key menggelengkan kepalanya pelan. Lama mereka terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
‘mungkin aku harus mengatakannya sekarang. kau harus berani Kim Ki Bum!!’ ujar Key dalam hati.
“hyung!” “Key” ujar mereka hampir bersamaan. “hyung dulu deh..” ucap Key. “emm.. enggak, kau duluan saja Key..” jawab Jonghyun. Key menghela nafasnya sebelum mengatakannya, “gimana perasaan hyung kalau hyung tahu ternyata dongsaeng kesayangan hyung itu gay alias penyuka sesama. apalagi dia menyukai hyung sendiri?” tanya Key. Jonghyun mengernyitkan dahinya sebentar ketika mendengar pertanyaan Key itu. “hyung bingung ya? yasudah lupakan saja,” ucap Key lalu mengalihkan pandangannya dari Jonghyun ke gedung yang terletak di sebelah asrama mereka.
“Key.. apa kau menyukaiku?” tanya Jonghyun yang sontak membuat Key terkejut. “ke..kenapa hyung bertanya seperti itu?” tanya Key gugup. “jawab aku! kau menyukaiku, Kibum-ah?” tanya Jonghyun lagi.
Key sudah tak bisa menyembunyikannya lagi. Ini semua harus terbongkar. “iya, aku menyukai hyung,” jawab Key lalu menunduk. Jonghyun terdiam. “kalau hyung merasa jijik atau benci padaku, aku akan terima itu. aku memang tidak pantas mencintai hyung. hyung kan..mmpfhh..” ucapan Key terhenti ketika secara tiba-tiba sebuah bibir menekan lembut bibir tipis milik Key. Mereka berciuman tanpa nafsu. Jonghyun memberikan cinta di setiap ciumannya. Setelah dirasa cukup, Jonghyun melepaskan ciumannya.
“nado saranghae, Kibum-ah,” ujar Jonghyun lalu tersenyum.
FIN

*bonus pict JJONGKEY :3


DRABBLE/PLEASE DON’T GO HYUNG (YAOI)

Pairing: Yoochun-Changmin

Malam itu disaat seluruh member TVXQ sedang tertidur lelap di kamar mereka masing-masing, Yoochun, salah satu member TVXQ terbangun dari tidurnya ketika merasa tenggorokannya sangat kering. Ia berjalan menuju ke dapur dorm untuk mengambil minum, tapi belum sampai di dapur, langkah Yoochun terhenti di depan sebuah kamar. Kamar milik Changmin, anggota termuda di dalam grup sekaligus kekasih Yoochun.

“HYUUUUUUNG!!!!! HYUUUUUNG!!! hiks.. hiks..” teriak Changmin yang langsung saja membuat Yoochun segera masuk ke dalam untuk memastikan bahwa kekasihnya itu dalam keadaan baik-baik saja. “Changmin-ah! gwaenchana?!” tanya Yoochun begitu ia masuk ke dalam kamar Changmin.

“hyung.. jangan pergi.. kumohon hyung.. Yoochun hyung… hiks..” seru Changmin lagi. Kini terlihat jelas kalau wajahnya sudah basah akan airmatanya. Yoochun segera duduk di sebelah Changmin dan memeluk tubuh kekasihnya itu. “hyung ga akan pergi, Minnie. hyung ga akan ninggalin Minnie..” ucap Yoochun di telinga Changmin.

Changmin yang merasa dirinya sedang dipeluk oleh seseorang, segera bangun dari tidurnya. Changmin langsung menangis di pelukan Yoochun saat itu juga, “hyung.. kumohon kau jangan pernah pergi meninggalkanku.. hyung tidak akan meninggalkanku kan?” isak Changmin. “uljjima.. hyung berjanji kalau hyung tidak akan pernah meninggalkanmu.. uljjimayo..” bisik Yoochun lembut di telinga Changmin sambil mengusap pelan punggung kekasihnya itu.

Setelah merasa tangisan Changmin sedikit reda, Yoochun melepaskan pelukannya. Ditatapnya dalam kedua mata kekasihnya itu yang sembab akibat menangis tadi. Ia tersenyum. Senyum yang mematikan seluruh orang yang melihatnya. Didekatkannya perlahan wajahnya ke Changmin hingga mereka dapat merasakan hembusan nafas satu sama lain. Chu~ kini bibir mereka telah menempel satu sama lain. Bibir Yoochun menekan lembut bibir Changmin. Mereka berciuman hangat malam itu, tanpa ada nafsu sedikitpun. Setelah dirasa cukup, Yoochun melepaskan ciumannya, “kau sudah merasa tenang sekarang?” tanya Yoochun sambil tersenyum hangat. Changmin hanya mengangguk sambil masih terisak.

Yoochun kembali memeluk Changmin dan berbisik di telinga kekasihnya itu. “dengarkan hyung! hyung tidak akan pergi meninggalkan Minnie sampai kapanpun juga. hyung sayang Minnie, Minnie juga sayang sama hyung. paham?” bisik Yoochun lembut. “ne~” jawab Changmin sambil menganggukkan kepalanya dalam pelukan Yoochun.

FIN

===

*author note: gimana gimanaa? aneh yaaa? ini fanfic yaoi pertama author.. mana pairingnya Yoo-Min lagi. pairing yang sangat amaaaaat jaraaaang. habis kalo bikin YunJae pasti ntar bawaannya kepengen bikin yang NC -___- makanya author bikin YooMin. wkwk XDD

*bonus pict YooMin @ MKMF 2008:


Fan Fiction / ITS ALL BECAUSE CASSIOPEIA

Casts:

–        Kim Jae Joong as DBSK/JYJ Jae Joong

–        Jung Hye Mi as Hye Mi/Cassiopeia

Author: mjjejelips

 

*nb: all P.O.V are JaeJoong’s

 

–a

08.30 a.m KST

Aku terbangun dari tidurku ketika merasakan rasa sakit di kepalaku. Semalam aku telah minum lebih dari 4 botol soju berukuran besar, yah.. karena aku masih sedikit stress mengenai keputusanku dan Yoo Chun serta Jun Su untuk keluar dari SM Entertainment dan mengajukan gugatan kami. Bukan karena apa.. tapi karena aku masih memikirkan Yun Ho dan Chang Min. Bagaimana caranya kami (JYJ) bisa kembali bersama dengan mereka sebagai Dong Bang Shin Ki tanpa harus kembali ke SM Entertainment?

Kupijat pelan kepalaku sambil berjalan perlahan keluar kamar. Baruntung hari ini aku tidak ada jadwal sama sekali. Andai kalau hari ini jadwalku padat, mungkin aku bisa benar-benar gila. Kulangkahkan kakiku dengan malas menuju ke ruang tengah, tempat dimana semalam aku menghabiskan malam dengan meminum soju. Tempat itu masih berantakan, yah.. itu karena semalam aku tidak sempat membereskannya. Dengan malas aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang bau ini.

Butuh waktu hampir 1 jam bagiku untuk mandi pagi ini, tentu saja karena aku sedang sangat malas pagi ini. Selesai mandi, aku berjalan ke balkon dengan keadaan topless untuk menjemur handuk. Saat sedang menjemur handuk, tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan sebuah jeritan seorang wanita. Segera kutolehkan kepalaku ke arah suara jeritan tadi. Kini aku mendapati seorang gadis yang sedang berdiri di balkon apartment-nya yang terletak tepat didepan apartment-ku dan tengah menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya

 

“KYAAA~~!!!!” jeritnya lagi.

“WAE? KENAPA KAU TERIAK BEGITU?!” tanyaku dengan sedikit berteriak agar dia bisa mendengarku.

Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah menurunkan sebelah telapak tangannya dan menunjukku. Mataku mengikuti arah kemana ia menunjuk. Dan ternyata ia menunjuk dadaku yang tidak tertutupi sehelai benangpun ini. Aku tertawa kecil sambil kembali menatapnya.

“CEPAT PAKAI PAKAIANMU!!” ujarnya lagi –masih dengan berteriak—

Masih dengan tertawa, aku berjalan masuk ke dalam apartment dan memakai pakaianku. Setelah memakai pakaianku dan sedikit merapikan rambutku, aku berjalan ke balkon. Sesampainya di balkon, perasaan kecewa tiba-tiba datang kepadaku. Gadis tadi sudah tidak ada di balkonnya. Perasaan bosan kembali datang. Aku bersandar pada balkonku sambil menyanyi dengan pelan. Tiba-tiba saja aku mendengar namaku dipanggil seseorang dari bawah. Segera kutengok ke bawah, dan perasaan senang menghampiriku. Gadis itu kini tengah berada di bawah sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke tanah. Mungkin ia menyuruhku datang kesana sekarang. Segera saja aku masuk dan mengambil jaketku, lalu turun ke bawah –tempat dimana gadis itu menungguku—

Sesampainya di bawah, aku menemukan gadis itu sedang duduk di sebuah kursi sambil kakinya memainkan sebuah kaleng bekas minuman. Kini ia memakai kacamata dan jaket. Yah pasti ia juga tidak mau mati kedinginan pagi ini, sama sepertiku. Aku berjalan kearahnya dan menyapanya, “hai!”

Ia menoleh menatapku, dan seketika matanya berbinar-binar ketika melihatku, “hei, kau DBSK Hero JaeJoong kan? aigoo~ aku tak menyangka kalau kau ternyata tinggal di depan apartment-ku. kenalkan namaku Cassiopeia, kau bisa memanggilku Cassie. kau tahu? aku adalah penggemar beratmu..” cerocosnya panjang lebar.

Aku hanya tersenyum tipis menatapnya, “terimakasih sudah menjadi penggemarku. tapi itu dulu..”

Ia menatapku bingung sambil memiringkan kepalanya, “apa yang kau maksud dengan ‘dulu’?”

“dulu aku memang DBSK Hero JaeJoong, namun tidak lagi sekarang..”

“YA! apa maksudmu? bagaimanapun juga di mata Cassiopeia di dunia ini, DBSK tetaplah LIMA … ” ujarnya dengan sedikit penekanan pada kata ‘lima’ “dan kau juga tetap sebagai member DBSK, bukan JYJ! termasuk juga YooChun dan JunSu. mereka sama-sama member DBSK, sama sepertimu dan HoMin. kau harus tahu itu!” ujarnya marah sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.

“sudahlah lupakan saja tadi..” ucapku mengalihkan pembicaraan, “tadi kau bilang namamu Cassiopeia?”

“memang,” jawabnya tanpa menoleh padaku.

“Cassiopeia pasti bukan nama aslimu, kan? beritahu aku nama aslimu!”

“kau tidak perlu tahu nama asliku. cukup panggil aku Cassiopeia atau Cassie,” ujarnya datar, “sudahlah aku mau kembali ke apartment-ku sekarang. aku tidak mau mati kedinginan disini hanya karena mengobrol dengan orang menyebalkan sepertimu,” ucapnya lalu berjalan meninggalkanku.

Apa tadi yang ia katakan? Orang menyebalkan? Aku?

Buru-buru aku menggenggam tangannya menahannya berjalan kembali ke apartment-nya, “kumohon temani aku.. aku sedang sangat kesepian sekarang, dan kau adalah orang yang membuatku harus turun kesini, padahal sebenarnya aku sedang sangat malas hari ini. jadi sekarang kau harus bertanggung jawab!” ucapku.

Ia berhenti berjalan dan menatapku, “bertanggung jawab? untuk apa aku harus bertanggung jawab?!”

“karena kau sudah membuatku kesini. padahal aku sedang malas melakukan apapun hari ini. jadi kau harus bertanggung jawab,” jawabku santai.

“WHAT??!! ini juga salahmu! kenapa kau tadi tidak memakai pakaianmu?!” tanyanya marah.

“ah sudahlah aku malas membahasnya. cepat ikut aku!” kutarik tangannya tanpa mempedulikan ocehannya.

“YA! lepaskan tanganku! kau mau membawaku kemana?!!” ujarnya kesal.

“ck.. kau diam saja Cassie-ah.. tenang saja, aku tidak akan membawamu ke suatu tempat yang mengerikan. kau pasti akan senang setelah ini,” ucapku lalu tersenyum jahil.

“MWO?! aish terserah kau sajalah. tapi bisakah kau mengendurkan sedikit genggamanmu pada tanganku?” ujarnya yang langsung membuatku tersadar dan langsung mengendurkan sedikit genggamanku.

–.

Hari ini aku dan seorang gadis yang baru kukenal pagi ini yang mengaku bernama Cassiopeia pergi menuju salah satu Mall yang cukup terkenal di Seoul. Tentu saja aku menyamar. Dengan menggunakan jaket, topi, beserta kacamata hitam, aku dan Cassiopeia pergi ke Mall menggunakan bus umum.

“sebenarnya kau mau membawaku kemana sih?” ujarnya kesal begitu kami masuk ke dalam bus yang tidak terlalu ramai.

“mall,”

“MWO?!  MALL?! kau serius?! kau tidak takut kalau nanti muncul skandal antara kau dan aku?” tanyanya.

“tenang saja, aku sudah menggunakan penyamaranku. jadi berdoa saja agar tidak ada yang mengetahui kita. kalau memang ada yang mengetahui dan membuat skandal itu pun aku tak masalah,” jawabku santai.

Ia melotot ke arahku, “kau bisa berkata seperti itu karena kau sudah terbiasa dengan skandal-skandal macam itu. tapi bagaimana denganku? aku tak ingin hidupku nanti diganggu oleh wartawan-wartawan menyebalkan,”

Aku tertawa kecil mendengar celotehannya, “kau tinggal berdoa agar tidak ada yang mengetahui kita,” ujarku, “kita sudah sampai. ayo turun!” ucapku lalu menggandeng tangannya turun.

Setelah turun dari bus, aku menggandeng tangan Cassie masuk ke dalam Mall. Seperti biasa, jika aku sudah ada di dalam Mall, aku pasti akan langsung pergi menuju ke toko pakaian. Aku mengajak Cassie masuk ke salah satu toko pakaian. Aku memilih beberapa pakaian untukku, sedangkan Cassie hanya duduk di kursi yang terletak tak jauh dari tempatku memilih pakaian saat ini. Aku berjalan menghampirinya dan menanyakan sesuatu padanya.

“hei, menurutmu bagus yang berwarna abu-abu atau hitam?” tanyaku sambil menunjukkan kedua kaos yang kupilih.

“abu-abu. kau lebih cocok menggunakan yang itu,” jawabnya malas.

“hm sepertinya kau benar. oke, aku akan mencobanya dulu. kau tunggu disini, oke?” ujarku lalu segera pergi menuju fitting room.

“kau pintar sekali memilihkan warna, Cassie-ah! kau tahu, kaos tadi sangat cocok untuk kupakai. sebagai balasannya, apa kau mau membeli baju? biar aku yang membelikannya untukmu,” ujarku setelah keluar dari fitting room dan menghampirinya.

“tidak usahlah. ayo pergi!” ujarnya malas lalu beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkanku sebelum aku menahannya lagi.

“YA! kau ini jutek sekali padaku sih?! kau ini benar-benar penggemarku atau bukan? kau tidak seperti seorang penggemar. biasanya seorang penggemar akan langsung merasa senang apabila ia diajak oleh idolanya pergi, apalagi dibelikan baju. kau ini kenapa aneh sekali?!” ujarku kesal.

“aku memang penggemar beratmu, tapi aku tidak seperti yang kau pikirkan itu. kau tahu, gara-gara siapa yang membuat mood-ku berubah menjadi seperti ini?” tanyanya. Aku hanya memiringkan kepalaku, tidak mengerti akan maksudnya, “ini semua gara-gara kau!”

“MWO?! aku?! bagaimana bisa?!”

“awalnya tadi aku sangat senang ketika kau menyapaku dan mengetahui bahwa kau ternyata tinggal di depan apartment-ku. tapi begitu kau bilang kalau kau bukan lagi member DBSK.. kau tahu? itu cukup membuat hatiku sakit. bagaimana bisa seorang idola berkata seperti itu di depan penggemarnya? itu membuatku kecewa padamu. kau tahu?”

“jadi karena itu daritadi kau bersikap jutek padaku?!”

“aku tidak perlu menjawabnya. kau tentu tahu itu,”

“baiklah kalau kau masih tetap marah padaku, kau bisa tinggalkan aku sekarang, dan pergi menenangkan dirimu. pergilah!” ujarku lalu sedikit memaksakan untuk tersenyum.

“oke selamat tinggal,” ucapnya lalu pergi meninggalkanku.

Aku duduk di tempat yang ia duduki tadi sambil kembali memikirkan ucapannya barusan, “maafkan aku. maaf. itu semua juga bukan mauku. kumohon jangan pernah kecewa padaku. aku tahu itu. aku tahu semua Cassiopeia ataupun Bigeast sangat sedih ketika mendengar hal itu. bukan, bukan hanya kalian saja. namun aku, Yoo Chun dan Jun Su juga sangat sedih dengan ini semua. dan sekarang kami juga tak bisa apa-apa lagi. kumohon maafkan aku,” ucapku lirih.

Kukembalikan kaos tadi ketempatnya semula. Entah kenapa tiba-tiba saja mood-ku hari ini menjadi buruk lagi. Bukan. Sangat buruk, maksudku. Segera aku keluar dari Mall, dan mencegat taksi lalu pulang ke apartment-ku. Setelah sampai dan membayar, aku turun dan segera masuk ke dalam apartment-ku. Kuambil segelas air putih lalu meminumnya. Kududukkan badanku di sofa putihku dengan malas.

“seharusnya tadi aku tidak bersikap seperti ini di depan seorang Cassiopeia, apalagi tadi ia adalah penggemarku. aigoo~” runtukku sambil memukul kepalaku pelan. Sekilas mataku menangkap sebuah figura foto yang kupajang diatas televisi. Sebuah foto kami berlima saat sedang di Saipan, “Yun Ho.. Chang Min.. Yoo Chun.. Jun Su.. maafkan aku kalau aku telah mengecewakan Cassiopeia kita.. maafkan aku. aku juga sebenarnya tidak berniat mengatakan hal itu. aku juga sebenarnya masih ingin menganggap diriku sebagai member DBSK dan anggota DBSK masih lima. namun ini semua sudah terjadi. ini semua tidak bisa dikembalikan seperti semula. aku memang merindukan kalian, tapi maafkan aku..” aku tak bisa lagi menahan airmataku. Airmataku langsung tumpah begitu saja saat aku kembali mengingat kenangan kami berlima.

Aku tahu kalau aku ini sedikit munafik. Dari luar aku memang terlihat dingin dan tidak mudah menangis, namun sebenarnya aku adalah orang yang gampang menangis. Apalagi setelah kami bertiga (JYJ) memutuskan untuk berpisah dengan kedua sahabat kami. Kami bukannya membenci Yun Ho dan Chang Min. Bukan seperti itu. Kami hanya ingin membawa mereka turut keluar dari agensi jahannam itu. Kami berlima telah merancanakan ini sejak awal.

 

FLASHBACK

@ DBSK’s Dorm , 09.00 P.M KST

“Yun, kau yakin kita akan melakukan semua ini?” tanyaku tak yakin pada sosok leader di hadapanku ini, Jung Yun Ho.

“tentu saja. kau dulu pernah bilang padaku kan, kalau kau sudah tak tahan lagi berada di agensi ini. yang lainnya pun juga sudah mengeluhkan itu padaku beberapa waktu yang lalu. bagaimana?” tanyanya sambil tersenyum.

“tapi aku tidak bisa berpisah denganmu dan juga Chang Min. bukan hanya aku, Yoo Chun dan Jun Su pun juga sama. mana mungkin mereka mau meninggalkan kalian berdua tetap di agensi jahannam ini sementara kami bertiga keluar dari sini. pasti setelah itu Cassiopeia akan sangat sedih, Yun,”

“iya aku tahu itu semua. namun pikirkan hal positifnya, kalau kau, ah bukan maksudku kau dan YooSu memenangkan gugatan kalian, kalian tentu bisa membawa kami turut keluar dari agensi ini. kemudian kita dapat bersama lagi sebagai DBSK,”

“aku tahu itu. tapi bagaimana kalau pada akhirnya kita tidak bisa bersama lagi? aku tidak mau berpisah denganmu dan Chang Min, Yun-ah,”

“Joongie.. kita coba dulu. kita nggak boleh punya pemikiran kayak gitu. kita harus terus berfikir positif. jadi bagaimana sekarang? kita akan tetap diperlakukan sebagai budak di agensi jahannam ini atau kita berpisah dulu untuk sementara, lalu kita bisa bersama lagi dan kembali menjadi DBSK?”

“umm..” aku menatapnya ragu sebelum akhirnya sebuah jawaban keluar dari mulutku, “baiklah kalau begitu, kita akan berpisah sementara, lalu kita bersama lagi dan menjadi DBSK,”

Yun Ho tersenyum lebar menatapku, “baiklah kalau begitu..”

END OF FLASHBACK

 

05.00 P.M KST

Kini aku tengah berada di balkon apartment-ku sambil menulis di selembar kertas. Rencananya aku ingin mengajaknya ke apartment-ku dan meminta maaf padanya. Aku tahu kalau aku mengajak seorang wanita ke dalam apartment akan menimbulkan skandal, tapi masa bodoh dengan hal itu. Aku tetap ingin mengundangnya kesini dan meminta maaf atas ucapanku tadi pagi.

Hai. Kau masih marah padaku, Cassie-ah? Kuharap tidak. Uhm.. aku ingin mengundangmu ke apartment-ku. Kau mau kan? Kuharap kau tidak keberatan. Yasudah sekian dulu suratku ini. Kutunggu di apartment-ku nanti malam ya ^^

Salam,

Kim Jae Joong

Aku tersenyum tipis begitu aku selesai menulis surat ini. Kulipat surat ini dan memasukkannya di sebuah amplop. Selesai itu, aku memakai jaket abu-abuku beserta kacamata hitam, lalu keluar apartment sambil membawa surat tadi.

Setelah mendapatkan sedikit informasi mengenai letak apartment Cassiopeia, aku segera pergi kesana. Sesampainya di depan pintu apartment-nya, aku meletakkan surat tadi tepat di bawah pintunya, dan kemudian segera pergi dari sana.

Sebelum kembali ke apartment, aku pergi sebentar ke mini market yang terletak tak jauh dari apartment. Disana aku membeli beberapa makanan kecil dan minuman. Setelah mengambil beberapa makan kecil dan minuman, aku membayarnya lalu pergi meninggalkan mini market. Dalam perjalananku kembali ke apartment, aku memakan eskrim coklat yang kubeli di mini market tadi.

Aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah sampai di apartmnt dan meletakkan belanjaanku tadi di meja makan. Selesai mandi aku pergi ke dapur untuk memasak. Menuku sore ini adalah Bibimbap, makanan kesukaan Chang Min. Aigoo~ aku hampir saja menangis saat mengingat Chang Min selalu merengek minta dibuatkan Bibimbap olehku.

Tidak butuh waktu lama, Bibimbap buatanku telah siap. Kuletakkan Bibimbap itu di meja makan. Aku berjalan ke ruang tengah untuk menonton TV. Kusandarkan tubuhku di sofa putihku. Baru saja aku akan terlelap ketika tiba-tiba bel apartment-ku berbunyi, “siapa?” tanyaku sambil beranjak dari sofa. Kulihat sebentar jam dinding yang ada di atas TV, “OMO!! sudah jam 6? aigoo~ cepat sekali..” segera aku mengganti pakaianku dengan kaos putih bergaris abu-abu dan celana panjang putih, baru kemudian aku membukakan pintu untuk Cassiopeia.

“kau sudah datang? masuklah!” ujarku sambil tersenyum manis pada sosok gadis cantik di depanku ini.

Ia menatapku sebentar, “wae? ada yang salah denganku?” tanyaku bingung. Ia hanya menggeleng menjawab pertanyaanku, “ayo masuk!” ucapku lalu menarik tangannya masuk ke dalam apartment-ku.

Setelah melepas sepatunya, ia berdiri sejenak untuk memperhatikan seluruh isi apartment-ku, “bagaimana? kau tentu senang bukan, bisa bermain ke apartment idolamu?” tanyaku ketika melihat Cassie sedang memerhatikan isi apartment-ku, “tidak. biasa saja,” jawabnya lalu melangkahkan kakinya mendekatiku.

“ish kau ini benar-benar jutek ya?! padahal awalnya aku mengira kalau kau adalah seorang gadis yang ceria, bukannya jutek seperti sekarang ini,” ujarku kesal.

“sekarang katakan padaku, untuk apa kau mengundangku kesini?” tanyanya lalu duduk di sofa putihku.

“aku ingin minta maaf padamu tentang perkataanku tadi pagi yang menyebabkan mood-mu berubah. aku benar-benar minta maaf, Cassie-ah,”

“tenanglah aku sudah memaafkanmu sejak tadi. aku tahu kau pasti juga sangat sedih dengan ini semua. bukan hanya kau, Yoo Chun dan Jun Su pasti juga sedih dengan ini. aku tahu kalian bertiga pasti berat meninggalkan HoMin,” ucapnya lalu menghampiriku dan tersenyum manis padaku, “kalian bertiga pasti akan bisa membawa HoMin keluar dari agensi jahannam itu. aku percaya itu. bukan hanya aku, tapi seluruh Cassiopeia dan Bigeast pun juga percaya pada kalian berlima. kalian berlima adalah ‘faith’ kami. kami tidak akan dengan mudah begitu saja melupakan kalian berlima, meskipun kalian berlima sudah tidak bersama seperti dulu. kami tetap Cassiopeia dan Bigeast yang akan mendukung kalian berlima sampai akhir,”

Aku tersenyum dan memeluknya, “terimakasih Cassie-ah. terimakasih sudah percaya pada kami. kami berlima pasti akan kembali seperti dulu lagi. menyanyi, tertawa, menari, dan menangis bersama-sama,”

Ia membalas pelukanku, “kau seharusnya tidak berterimakasih padaku, tapi pada Cassiopeia dan Bigeast. mereka telah mempercayai kalian. kami semua akan tetap mendukung kalian, meskipun kalian sudah terbagi menjadi dua sekarang,” jawabnya dan lagi-lagi diakhiri dengan senyuman.

Baru kusadari saat Cassie menatap wajahku, senyumnya begitu manis dan matanya yang coklat itu begitu indah, “kau sudah makan?” tanyaku dan dijawab dengan gelengan kepala, “kalau begitu, ayo makan! aku memasak Bibimbap sore ini, kau pasti akan menyukai masakanku. ayo!” ajakku sambil menarik tangannya menuju meja makan, dimana disitu sudah ada Bibimbap.

“OMO!! aromanya lezat sekali.. aigoo~ aku jadi tidak sabar untuk memakannya sekarang. boleh aku makan sekarang?” tanyanya sambil menatap mataku. aigoo~ ternyata anak ini selain cantik, ia juga sangat manis, “tentu saja. makanlah yang banyak, tidak usah malu-malu,” jawabku.

Kami berdua makan malam bersama di apartment-ku dengan menu Bibimbap buatanku. Selesai makan, kami mengobrol di balkon apartment-ku sambil memakan makanan ringan yang kubeli tadi, serta beberapa minuman.

“jadi kapan kalian bertiga akan mengikuti persidangan melawan SM Entertainment?” tanya Cassie sambil menatapku yang tengah memandang lurus ke arah langit malam, “besok. besok kami baru akan memulai persidangannya. doakan kami bisa memenangkan lawsuit ini, Cassie-ah~” ucapku sambil menatap mata coklatnya yang indah.
“tanpa kau mintapun, aku beserta Cassiopeia atau Bigeast yang lain pasti akan mendoakan agar kalian bisa memenangkan lawsuit ini,” ucapnya lalu tersenyum manis, “gomawo~” ucapku lirih.

Ia mengambil minumannya dan meminumnya, sedangkan aku kembali menatap kosong langit malam, “Cassie-ah..”

“mm? ada apa?” sahutnya cepat begitu aku memanggilnya. Kualihkan pandanganku menuju kearahnya, “maukah kau menjadi adikku?” tanyaku lembut, “aku sangat menginginkanmu menjadi adikku. yah walaupun bukan adik kandung, tapi aku akan tetap menganggapmu sebagai adikku. kau tak mau kan besok atau kapan muncul skandal kita berdua?”

“umm..” gumamnya, “baiklah aku mau,” jawabnya pada akhirnya, “gomawo dongsaeng-ah.. sekarang kau telah menjadi Cassiopeia-ku sekaligus adikku,” ujarku senang.

Kemudian kami melanjutkan obrolan kami hingga larut malam. Karena kasihan melihatnya yang tertidur di kursi balkon apartment-ku, aku menggendongnya dan meletakkannya di kasurku. Kututupi tubuhnya menggunakan selimutku, “selamat tidur, dongsaeng. mimpi indah,” ucapku lalu mengecup dahinya kemudian meninggalkannya sendirian di kamarku menuju ruang tengah untuk tidur disana.

–.

Aku terbangun ketika merasakan cahaya matahari pagi menyeruak masuk ke dalam apartment-ku. Aku cukup terkejut ketika mendapati selimut yang kupakaikan untuk Cassie kemarin, sekarang aku yang memakainya. Apa kemarin aku mengambilnya dari Cassie saat tertidur ya? Ah itu sangat tidak mungkin, Jae Joong babo! Atau jangan-jangan Cassie sudah pulang?

Segera aku pergi ke kamarku untuk memastikan kalau Cassie masih tertidur disana. Tapi ternyata benar dugaanku kalau ia sudah pulang ke apartment-nya. Kulihat sekilas di meja yang terletak disudut ruangan, disana terdapat secarik kertas putih. Segera aku mengambilnya dan membacanya.

Hei kalau kau sudah membaca surat ini, berarti kau sudah bangun dan aku sudah kembali ke apartment-ku. Maafkan aku kalau semalam aku membuatmu tidur di ruang tengah tanpa menggunakan selimut. Pasti kau kedinginan kan? Maka dari itu, aku memakaikanmu selimut. Maaf juga kalau aku pulang tanpa pamit. Ohya, semoga persidangan nanti berjalan lancar ^^

Cassiopeia

Selesai membacanya, aku melipat kembali surat itu dan meletakkannya ke tempat semula, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diriku sekaligus bersiap untuk sidang pertama kami.

–.

1,5 years later

Sudah satu setengah tahun ini aku dan Cassiopeia bermain bersama-sama. Aku telah menganggapnya sebagai adik perempuanku, begitu pula dengannya. Ia telah menganggapku sebagai kakak laki-lakinya. Kami berdua sering curhat mengenai masalah kami masing-masing. Aku juga tak jarang curhat padanya kalau aku sangat merindukan HoMin.

Ohya hasil sidangku yang kemarin-kemarin cukup membuatku serta YooSu dan para Cassiopeia senang. Meskipun itu bukanlah hasil akhir persidangan, namun entah mengapa aku yakin sekali kalau kami bisa membawa HoMin keluar dari SM Entertainment.

“hei!” sapa seorang gadis cantik secara tiba-tiba sambil menepuk pundakku, “ah kau Cassie-ah. ada apa?” tanyaku. Sampai sekarang, Cassie masih belum mau memberitahukan nama aslinya padaku, entah karena apa. Selama ini aku juga belum pernah masuk kedalam apartment-nya.

“tidak aku hanya bosan di apartment. hehe.. eum kau punya makanan? aku sangat lapar~~” ujarnya sambil menatapku manja dan memegangi perutnya. Aku tertawa melihatnya sambil menggeleng-gelengkan kepalaku, “kau ini.. yasudah ayo kita masak sop ayam bersama-sama!” ajakku sambil menarik tangannya menuju ke dapur.

Kami berdua pun memasak sop ayam bersama-sama di dapur apartment-ku. Bukannya serius memasak, kami terus saja bercanada saat memasak. Akibatnya yah masakan ini jadinya sedikit lebih lama. Selesai memasak, aku menaruh mangkuk besar yang berisi sop ayam itu ke meja makan. Kemudian kami duduk di kursi meja makan dan bersiap untuk memakan sop ayam buatan kami itu.

“bagaimana rasanya? enak tidak?” tanyaku saat melihat Cassie mulai makan, “enak. rasanya sangat enak,” jawabnya, “tentu saja.. siapa dulu yang membuatnya?! aku kan memang jago masak. hahaha,” pujiku pada diriku sendiri, “yee ini juga tak hanya kau yang memasaknya.. aku kan juga ikut membantu. jadi ini juga merupakan masakanku,” ujarnya lalu mem-pout-kan bibirnya, “YA! kau kenapa mem-pout-kan bibirmu? kau mau mengikuti, huh?” tanyaku kesal, “memangnya hanya kau saja yang boleh pouting?” tanyanya balik, “tidak juga sih.. hehe,” cengirku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, “huh.. dasar aneh~”

“sudah larut malam, sebaiknya aku pulang sekarang. besok kau akan menjalani sidang kalian yang terakhir kan?” tanya Cassie setelah kami selesai menghabiskan makan malam kami, “mm.. tidurlah yang nyenyak dan jangan lupa juga doakan kami agar kami bisa memenangkan persidangannya,” ujarku sambil tersenyum dan mengelus lembut rambutnya, “iya tentu saja aku akan mendoakan kalian. aku pulang dulu. sampai besok!” ucapnya lalu memelukku, baru kemudian keluar dari apartment-ku dan pulang.

–.

02.30 P.M KST

Persidangan terakhir kami baru selesai satu jam yang lalu. Sepertinya Tuhan mendengarkan do’a kami berlima, pasalnya kami bertiga memenangkan persidangan ini dan kami bisa kembali berlima lagi seperti dulu. Tapi kami masih belum tahu apakah kami akan kembali ke agensi itu lagi atau HoMin yang akan keluar dari sana.

Sekarang aku tengah menunggu Cassie di restoran Jepang dekat apartment kami. Tadi aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, namun tidak ada jawaban darinya. Karena lelah aku akhirnya mengiriminya pesan singkat. Namun sampai sekarang Cassie belum juga menampakkan batang hidungnya di hadapanku, padahal aku telah menunggu selama lebih dari setengah jam.

Kulirik lagi jam tangan yang berada di tangan kiriku, “aigoo~ kemana Cassie? kenapa dia lama sekali. tidak biasanya dia seperti ini, biasanya dia kan selalu on time..” keluhku. Semenit kemudian tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Segera kuambil ponselku dari saku celanaku, menatap screen ponsel dan membaca siapa penelponnya, baru kemudian aku mengangkatnya, “Cassie?! YA! kau kemana saja, huh? kau tahu aku sudah menunggumu selama lebih dari setengah jam? hei jawab aku! kau dimana sekarang?” cerocosku panjang lebar.

“halo?” ucap seorang gadis, namun kupikir ia bukanlah Cassie. Dapat kuketahui dari suaranya, gadis ini bukanlah Cassie, “halo? Cassie?!” tanyaku, “Cassie? ini bukanlah Cassie, ponsel ini milik Jung Hye Mi. aku adalah temannya. benarkah anda Kim Jae Joong?” tanyanya. Aku sedikit bingung dengan yang ia maksud ‘Jung Hye Mi’. Siapa Jung Hye Mi itu? Apa Jung Hye Mi itu nama asli Cassiopeia? “iya, ini benar dengan Kim Jae Joong. ada apa menghubungi saya? dimana Jung Hye Mi?” tanyaku.

“maaf kalau mengganggu. karena kulihat anda lah yang dihubungi terakhir kali oleh Hye Mi sebelum aku. maka sebaiknya aku memberitahu sebenarnya…” ucapnya pelan, “Jung Hye Mi.. dia…” ucapnya dengan suara sedikit pelan. Perasaanku sedikit tidak enak saat mendengar nama Hye Mi disebut, “WAE? ADA APA DENGAN HYEMI? CEPAT KATAKAN!!” ujarku keras yang tentu saja membut seluruh pengunjung restoran menoleh kearahku, “Jung Hye Mi.. dia.. baru saja mengalami kecelakaan mobil dan sekarang dia sedang berada di rumah sakit,” ucapnya pelan, “MWO?! dimana rumah sakitnya?”

Setelah mengetahui dimana Cassiopeia atau Hye Mi berada, aku segera keluar dari restoran itu dan segera pergi ke rumah sakit menggunakan mobilku.

“dimana Hye Mi?” tanyaku setelah sampai di UGD rumah sakit tersebut. Seorang gadis yang tak kalah cantik dari Hye Mi, membalikkan tubuhnya dan menatapku sebentar lalu membungkuk, “apa kabar?” aku tersenyum tipis lalu balas membungkuk, “dimana Hye Mi?” tanyaku khawatir. Ia tersenyum tipis lalu mengajakku duduk.

“bagaimana kejadiannya?” tanyaku lagi. Aku benar-benar khawatir pada Cassie sekarang, “tadi Hye Mi aku suruh untuk datang ke rumahku untuk membantuku mengerjakan soal-soal latihan ujianku lusa, dan Hye Mi menyanggupinya. ia pergi ke rumahku menggunakan mobilnya. karena lama sekali, aku memutuskan untuk menghubungi Hye Mi, namun tidak diangkat, mungkin ia sedang dalam perjalanan. yasudah aku kembali mengerjakan soal-soal tadi. baru saja aku akan membaca soalnya, tiba-tiba ponselku berdering. kulihat di screen ponselku, ternyata itu dari Hye Mi. segera kuangkat telepon itu dan menanyakan mengapa ia lama sekali, namun aku terkejut ketika yang menjawab adalah seorang lelaki yang mengaku kalau ia adalah seorang polisi. dan kemudian ia mengatakan padaku kalau Hye Mi megalami kecelakaan mobil dan ada di rumah sakit. aku pun juga baru sampai disini beberapa menit yang lalu,” ucapnya.

Aku hanya termenung diam menatap kosong ke arah lantai. Lama kami terdiam, sampai akhirnya sebuah suara dari arah UGD membuat kami berdua menoleh. Aku segera berlari ke arah dokter yang baru saja keluar dari UGD, “dimana keluarga dari nona Jung?” tanya dokter itu, “tidak ada dok. saya kakak angkatnya dan gadis ini adalah temannya,” jawabku. Dokter tadi menatapku dan gadis tadi bergantian, “mm.. Tuan mari ikut saya!” ujarnya lalu berjalan dan aku mengikutinya di belakangnya.

Kami duduk berhadapan setelah sampai di ruangannya. Sedetik kemudian barulah dokter Park mengeluarkan suara, “kecelakaan tadi diakibatkan karena penyakitnya kambuh lagi,” ujarnya, “penyakit? penyakir apa Dok?” tanyaku tidak mengerti, “jadi anda tidak tahu kalau Nona Jung mengidap penyakit kanker otak stadium akhir?” tanya dokter Park. Mataku membelalak sesaat karena tak percaya dan tubuhku juga langsung melemas seketika, “tidak. ia tidak pernah memberitahu saya mengenai penyakitnya itu,” jawabku pelan.

Dokter Park menghembuskan nafasnya pelan, “sepertinya saat dijalan tadi penyakitnya kambuh. dan mungkin karena itu juga ia tidak sadar kalau ada sebuah truk barang melaju kencang dari arah sebaliknya. Nona Jung segera menyadari hal itu dan langsung membalikkan setirnya dan akhirnya menabrak pembatas jalan. itu saya ketahui dari polisi. saat dibawa ke rumah sakit sudah banyak darah yang keluar dari kepalanya, belum lagi tangan dan kakinya yang juga terluka. kalau terlambat sedikit saja, mungkin ia sudah tidak bisa ditolong lagi,” ujar Dokter Park yang membuat tubuhku menjadi sangat down sekarang.

Aku mengucapkan terimakasih baru kemudian menyeret kakiku keluar ruangan Dokter Park. Kupijat pelan kepalaku. Kepalaku sangat pusing mendengar penjelasan Dokter Park tadi, apalagi saat mengetahui kalau Hye Mi terkena penyakit Kanker Otak. Aku menemukan gadis tadi sedang menungguku di depan ruang UGD, “anda tidak apa-apa?” tanyanya kawatir. Aku hanya tersenyum tipis padanya, “Hye Mi ada di dalam?” menggeleng, “dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap,” jawabnya, “tapi sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bisa menemani anda bertemu dengan Hye Mi, karena aku masih harus belajar untuk ujianku. maaf sebelumnya,” ucapnya lalu membungkuk padaku kemudian pergi meninggalkanku.

Aku masuk ke dalam salah satu ruang rawat inap yang sudah diberitahu gadis tadi. Hatiku mencelos ketika melihat keadaan Cassiopeia-ku terbaring lemah di atas ranjang putih dengan banyak perban di tubuhnya. Kuambil sebuah kursi yang tak jauh dari situ dan duduk di sebelah kanan Cassie. Kugenggam tangannya erat, “Cassie-ah kenapa kau sangat jahat padaku, huh? kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau mengidap penyakit mengerikan macam itu? seharusnya hari ini kita bersenang-senang karena idolamu sekarang telah bersatu lagi. kenapa kau malah harus terbaring di ranjang putih ini?!” tanyaku pelan. Aku sudah tidak kuat lagi untuk menahan airmataku, kutumpahkan semua airmataku di tangan putih Cassie.

–.

08.00 A.M KST

Sekarang aku sedang meminum secangkir kopi hangat di taman rumah sakit ini. Sampai pagi ini Cassie belum juga sadar dari komanya. Entah apa yang harus kulakukan sekarang ini. Selesai meminum kopi, aku berjalan kembali menuju kamar tempat dimana Cassie di rawat.

Kembali aku melihat keadaan Cassie yang sangat tidak ingin kulihat itu. Begitu aku duduk di kursi yang ada di sebelahnya, aku melihat Cassie menggerakkan salah satu jarinya dan samar-samar aku mendengar suaranya, “Cassie!!” seruku senang. Ia mengerjapkan matanya sebentar lalu melihatku, “aku ada dimana?” tanyanya pelan. Terdengar sangat lemah, “kau ada di rumah sakit,” jawabku sambil tersenyum, “kau mau minum? akan kuambilkan. ini,” ucapku sambil memberinya segelas airputih, “gomawo~”

“Jung Hye Mi..” panggilku menggunakan nama aslinya. Ia menoleh dan menatapku bingung, seolah bisa membaca pikirannya aku pun kembali berkata, “tidak penting untuk siapa yang telah memberitahuku nama aslimu, Hye Mi-ah,” jawabku.

“katakan padaku, Jung Hye Mi.. sejak kapan kau mengidap penyakit mengerikan ini? katakan padaku!!” ujarku sedikit menaikkan nada bicaraku, “apa yang kau maksud huh? kau marah padaku?!” tanyanya, “hish bagaimana aku tidak marah padamu kalau kau menyembunyikan ini dariku. sejak kapan kau menderita penyakit kanker otak?” tanyaku, kembali menurunkan nada bicaraku.

“sejak aku masih kuliah aku sudah mengidap penyakit ini,” ia menunduk dan… menangis?

“Cassie-ah.. gwaenchana?” tanyaku panik.

“aku tidak apa-apa, oppa. maafkan aku kalau aku tidak menceritakan ini semua padamu, meskipun kau sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. aku tidak ingin memberitahukannya karena aku tidak ingin terlihat lemah di depanmu, aku ingin membuktikan kalau Cassiopeia itu kuat. lagipula kalau aku memberitahukanmu tentang penyakitku, apakah itu akan memberikan pengaruh baik? tidak kan? sekali lagi maafkan aku, oppa..” ucapnya terisak lalu kembali menunduk. Sesaat baru kusadari kalau inilah kali pertama ia memanggilku dengan panggilan ‘oppa’.

Aku tersenyum lalu mengangkat kepalanya dan membersihkan airmatanya, “kali ini oppa memaafkanmu, Cassie-ah. tapi kalau sekali lagi kau menyembunyikan penyakit ini dari oppa, kau akan tau apa akibatnya nanti,”

Ia tersenyum manis, “ne oppa.. tapi ngomong-ngomong bagaimana sidang kalian hari ini? hari ini sidang kalian yang terakhir kan? bagaimana hasilnya?”

“kami menang,” jawabku singkat, “JINJJA?!” tanyanya keras, “umm.. tapi kami masih belum tahu, kami akan kembali menjadi DBSK tetapi juga kembali ke SM Entertainment atau kami akan kembali menjadi DBSK tetapi berada dibawah naungan agensi lain..” jawabku lagi.

“terserah kalian akan kembali ke agensi itu lagi atau tidak, Cassiopeia pasti akan tetap mendukung kalian. chukkae yah~” ujarnya lalu tersenyum manis padaku.

Kemudian kami melanjutkan obrolan kami dengan seru. Namun tak jarang juga Hye Mi memegangi kepalanya yang sakit itu. Aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti itu. Ingin rasanya aku memanggilkan dokter untuknya, namun ia selalu menolak dan beralasan kalau ini hanya pusing biasa.

Sore ini saat kami sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja ponselku berbunyi, ada panggilan masuk. Segera kuambil ponsel itu dari saku celanaku dan melihat siapa yang menelponku, baru kemudian mengangkatnya.

“halo?” sapa orang yang menelponku di seberang sana. Suaranya.. itu merupakan suara yang sangat kurindukan akhir-akhir ini. Ya suara itu milik sosok leader bernama Jung Yun Ho.

“Yun.. Yun Ho?!” tanyaku berusaha meyakinkan diriku kalau yang menelpon ini adalah Jung Yun Ho. “iya ini aku, Jae, Yun Ho. kau sudah lupa ya?” tanyanya dengan suara khasnya.

“ah.. ti.. tidak. ada apa menelponku?” tanyaku, “aku hanya rindu padamu. sudah lama kita tidak bertemu. kau ada dimana sekarang?” tanyanya, “eum.. aku sedang ada di rumah sakit,” jawabku, “MWO?! kau sakit? aigoo~ kenapa tidak bilang padaku? sakit apa k…” pertanyaan Yun Ho langsung kuputus dengan cepat, “bukan aku yang sakit, Yun,”

“ah syukurlah. lalu siapa yang sedang sakit?” tanyanya. “salah satu keluarga kita,” kulirik Cassie yang sekarang sudah tertidur dengan nyenyak. Sejak aku menerima telepon dari Yun Ho tadi, Cassie sudah tertidur. “keluarga kita? siapa Joongie?” tanyanya lagi. “Cassiopeia,” jawabku.

Kami terdiam beberapa saat, hanya terdengar hembusan nafas Yun Ho yang berat. Baru kemudian aku mengeluarkan suara, “sudah dulu ya, Yun. kalau kau mau menjenguk Cassiopeia kita, datanglah kesini besok bersama Chang Min. ohya ajak sekalian Jun Su dan Yoo Chun. oke? daah..” pamitku lalu mematikan telepon tadi.

Aku tersenyum melihat Cassiopeia yang sedang tertidut pulas itu. Kubelai lembut rambutnya yang kecoklatan. Andai saja kau tidak seperti ini, mungkin sekarang kita sedang berpesta, Cassie-ah.

Kuletakkan kepalaku tepat di sebelah tangan putih Cassie sambil tanganku masih tetap menggenggam tangannya. Sedetik kemudian aku sudah tertidur dengan posisi seperti itu.

–.

“ahh.. kepalaku pusing sekali~~” ucap seorang gadis yang suaranya sudah sangat familiar di telingaku. Segera kubuka kedua mataku dan mendongak menatap Cassie yang tengah memijat kepalanya pelan. Raut mukanya terlihat seperti sangat kesakitan, “Cassie-ah gwaenchana? mau kupanggilkan dokter?” tanyaku panik lalu segera beranjak. Tangannya yang sedikit panas itu dengan cepat menggenggam tanganku, “tidak usah oppa. sebentar lagi juga pasti akan sembuh,” ujarnya sambil berusaha tersenyum seolah berusaha meyakinkanku kalau ia baik-baik saja.

“serius?” tanyaku tidak yakin. Ia hanya menjawabku dengan seulas senyuman. “baiklah kalau begitu. ohya, nanti akan ada yang datang menjengukmu Cassie-ah,” ucapku sambil duduk kembali di kursiku tadi. “jinjja? siapa?” aku tersenyum kearahnya sambil melirik lagi jam tangan yang kupakai di tangan sebelah kiriku. Baru saja aku akan menjawab pertanyaan Cassie, terdengar pintu dibukan oleh seseorang. Pasti itu mereka! Aku segera beranjak menemui mereka terlebih dahulu.

“siapa oppa?” tanya Cassie saat aku sedang memeluk Chang Min. Segera kulepaskan pelukanku darinya dan menjawabnya, “sahabat-sahabat oppa, Cassie-ah..” ujarku, “ayo!” kugandeng tangan Chang Min masuk ke dalam ruangan Cassie. “Cassie-ah, ini teman-teman oppa..” ucapku yang membuatnya menoleh menatap kami berlima.

Matanya membelalak kaget melihat kami berlima, “Dong Bang Shin Ki?!” tanyanya tidak percaya. Yun Ho langsung mendekati Cassie yang masih saja menatap kearah kami dengan pandangan tidak percaya, “ne kau benar, gadis cantik. namaku Yun Ho, dan.. siapa namamu?”

“panggil saja aku Cassie, oppa..” ucapnya sambil tersenyum. “Yun, dialah gadis yang sekarang sudah kuangkat menjadi adikku. dia lah yang selalu menjadi teman curhatku. dan Cassie juga lah yang selalu mendukungku selama ini..” ucapku sambil mendekat kearah Yun Ho dan Cassie diikuti YooSuMin.

“Cassie-ah.. sekarang kami sudah berkumpul seperti dulu. katakan apa keinginanmu sekarang! kau ingin kam menyanyi untukmu atau apa? kami pasti akan memberikannya untukmu sekarang juga,” ujar Yoo Chun. Cassie tersenyum dan menjawab, “melihat kalian kembali bersama-sama seperti dulu saja sudah membuatku senang. Jae oppa~” panggilnya. Aku segera menoleh kearahnya, “ya? ada apa?”

“terimakasih untuk semuanya. terimakasih sudah mau menjadi kakak angkatku. terimakasih sudah menjadi teman curhatku. dan terimakasih sudah mau menemaniku di hari-hari terakhirku,” ucap Cassie yang tentu saja membuatku kaget dengan kalimat terakhirnya.

“Cassie.. apa maksutmu?” aku bertanya dengan panik. Aku sangat tidak menginginkan dia untuk pergi sekarang. Cassie mengerjapkan matanya sebentar dan tersenyum lemah padaku, “selamat tinggal~” ucapnya lalu menutup kedua matanya.

Aku yang sudah benar-benar emosi sekarang tidak bisa menahan tangisku dan segera memanggil dokter.

“maaf Nona Jung sudah pergi untuk selamanya,” ucapnya. “GAK MUNGKIN! HYEMI BELUM MATI. DOKTER PASTI BOHONG! TIDAK MUNGKIN HYEMI MENINGGALKANKU SECEPAT INI! DOKTER PASTI SALAH!” teriakku. “Tuan Kim, tenanglah dulu.. Nona Jung sudah pergi sekarang,” ucap Dokter Park lagi. “ENGGAK! DOKTER PASTI SALAH! DOKTER PEMBOHONG! HYEMI GAMUNGKIN MATI NINGGALIN AKU SECEPAT INI!” teriakku lagi. “tenanglah Joongie~ mungkin ini sudah saatnya bagi Cassie untuk pergi,” ucap Yun Ho sambil menepuk pelan pundakku.

Tubuhku menjadi lemas seketika. Kakiku seakan sudah tak bisa menopang tubuhku lagi. Aku terduduk di lantai sambil menangis. Aku masih belum bisa menerima ini semua. Cassie kenapa kau meninggalkanku begitu cepat? ujarku dalam hati.

“saya permisi dulu,” ucap Dokter Park lalu meninggalkan ruangan ini. “terimakasih Dok,” ucap Yun Ho sambil membungkuk. “hyung.. uljjima~” ucap Jun Su dan Chang Min sambil menepuk pelan bahuku. “kalian berempat bisa tolong tinggalkan aku? aku ingin sendiri saat ini,” pintaku. “tapi Jae..” ucap Yun Ho. “kumohon tinggalkan aku sekarang, Yun,” ucapku lagi. “baiklah kalau itu keinginanmu. kalau kau ingin pulang, kau bisa meneleponku dulu. aku akan menjemputmu,” ucapnya lalu beranjak pergi bersama YooSuMin.

Setelah mereka pergi, aku mencoba berdiri meskipun kakiku masih sangat lemas. Aku kembali duduk di kursi yang biasa kududuki. Kutatap wajah Cassie yang pucat itu. Masih ada di wajahnya, seulas senyuman yang tadi sempat ia perlihatkan padaku. Kugenggam tangannya sambil kembali menangis. “Cassie-ah.. kenapa kau tega membuatku sedih seperti ini? kami sudah mengabulkan permintaanmu, tapi kenapa sekarang kau malah pergi? kalau kau pergi, siapa lagi yang akan kujadikan teman curhat hah? kau jahat Cassie-ah!” ujarku kesal sambil masih menangis.

Aneh ya, aku marah-marah pada seseorang yang sudah meninggal sambil menangis. Memang. Haha, Jae Joong baboya!

 

END


FanFiction / Love Bird

Casts:

–        Park Hye Jin

–        Park Yoo Chun as TVXQ Micky YooChun

Other Casts:

–        Onew

Author: mjjejelips

–a

Saturday, 08.00 a.m KST

Pagi ini setelah selesai merapikan tempat tidur dan mencuci mukaku serta menggosok gigi, aku duduk di teras belakang rumah sambil membaca novel yang belum sempat aku selesaikan. Aku ini orangnya suka sekali dengan membaca. Entah itu membaca novel, cerpen, atau fanfiction. Jika fanfiction, biasanya aku sering membaca fanfiction yang menggunakan TVXQ atau salah satu member-nya sebagai tokoh di dalamnya. Terkadang jika aku merasa lelah membaca, aku mengalihkan pandanganku menuju sangkar burung yang menggantung di hadapanku. Burung yang ada di dalam sangkar itu namanya adalah burung love bird. Love bird adalah burung yang mempunyai hobi, yaiu berciuman. Terkadang aku merasa geli melihat kedua burung itu berciuman mesra. hahaha, lucu juga. Kedua burung itu sangat kusayangi karena itu merupakan hadiah dari seseorang yang telah menjadi pangeran di hatiku. Ya, burung itu merupakan hadiah dari kekasihku, YooChun oppa yang juga merupakan member TVXQ, saat aku berulangtahun yang ke 18. Aku tersenyum saat mengingat kembali hari itu.

FLASHBACK

Friday, September 9th

Pagi=pagi sekali aku sudah bangun dari tidurku. Tidak seperti biasanya aku bangun pagi, terutama pasa hari libur seperti ini. Setelah selesai mencuci muka dan menggosok gigi, aku prgi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Ini juga hal yang jarang sekali kulakukan, karena aku terlalu sibuk kuliah. Ditambah lagi banyaknya tugas-tugas yang diberikan oleh dosenku akhir-akhir ini, membuatku jarang memasak. Terkadang saking sibuknya aku, biasanya aku hanya makan roti dengan selai coklat.

Saat aku sedang memasak nasi, tiba-tiba saja ibu memegang pundakku, dan tentu saja perbuatannya itu membuatku terkejut.

“eh, ibu! Ada apa, bu? Ibu sudah bangun?” tanyaku, menoleh sebentar kearah ibu lalu kembali tenggelam dalam acara memasakku.

“iya, ibu sudah bangun baru saja karena mendengar suara ribut di dapur,”

Aku hanya bisa nyengir mendengar jawaban ibu, Pasalnya, tadi saat aku sedang mengambil sesuatu, tak sengaja aku menjatuhkan panci dan membuat suara yang benar-benar berisik. Yah.. untung saja hanya ibu yang bangun. Coba kalau Onew oppa juga bangun, ah pasti dia akan mengomeliku.

“maaf bu, tadi aku tak sengaja menjatuhkan panci. eheheh,”

“sudah tak apa. Kau sedang memasak apa?” tanya ibu.

“aku sedang memasak untuk sarapan kita nanti bu,”

“oh, kalau begitu ibu bantu ya..” ucap ibu sambil bersiap mengambil bahan di kulkas yang terletak tidak jauh dari dapur.

“eh..”  ucapku sambil menahan ibu, “tidak usah bu, lebih baik ibu istirahat lagi saja. Tadi kan aku sudah menganggu tidur ibu,” ucapku sambil mendorongnya keluar dari dapur.

“baik baik ibu pergi,” ucapnya pada akhirnya lalu berjalan meninggalkan dapur.

Setelah ibu pergi, aku kembali melanjutkan acara memasakku. Rencananya aku ingin memasak sop ayam dan ayam goreng untuk sarapan pagi ini. Tak butuh waktu lama, sop ayam dan ayam goreng ala Chef HyeJin telah selesai. hahaha. Aku membawa sarapan yang kubuat tadi dan meletakkannya di meja makan.

“AYAH!! IBU!! ONEW OPPA!! SARAPAN TELAH SIAP!!!” teriakku dari meja makan. Yah.. aku memang harus berteriak karena aku yakin pasti mereka sedang ada di lantai 2 sekarang.

“yaa.. kami datang!!” ucap ayah sambil menuruni tangga diikuti Onew oppa dan Ibu dibelakangnya.

“wah wah.. kau masak apa pagi ini, nak?” tanya ayah ketika sudah sampai di ruang makan sambil melihat masakanku yang kuletakkan di meja makan.

“aku masak sop ayam dan ayam goreng ala Chef HyeJin!! ehehe,”

“AYAAAAAM!!!!!” seru Onew oppa girang saat mengetahui kalau yang kumasak semua itu ada ayamnya. Onew oppa langsung saja duduk di salah satu kursi dan mengambil sop ayam dan ayam goreng lalu memakannya dengan rakus.

“dasar chicken maniac,” gumamku.

“baiklah ayo kita makan! Onew, pelankan makanmu itu. Kau seperti orang yang tidak makan seminggu saja,” ucap ibu memperingatkan Onew oppa.

“HyeJin masakanmu pagi ini benar-benar enak. Ibu, bolehkah aku nambah sepiring lagi?” tanya Onew oppa  pada ibu.

“iya boleh,” jawab ibu, “ibu setuju pada Onew, HyeJin. masakanmu pagi ini memang benar-benar enak,” jawab ibu sambil tersenyum.

Aku yang dipuji oleh 2 orang barusan hanya bisa tersipu malu. Apalagi dengan Onew oppa, kurasa dia benar-benar menyukai masakanku pagi ini. Lihat saja, ia sampai tambah sepiring lagi!

Selesai makan seperti biasa, aku yang membersihkan meja makan. Aku mencuci semua piring kotor pagi ini. Hal ini, sekali lagi, juga jarang kulakukan, terutama pada hari libur seperti ini. Biasanya pada hari libur, selesai makan aku langsung pergi menuju kamarku.

Setelah semuanya selesai, aku pergi menuju kamar mandi yang terletak diantara kamarku dan kamar Onew oppa. Selesai mandi aku masuk ke dalam kamarku. Setelah mengeringkan rambutku sebentar, aku membuka laptop-ku dan mengupdate berita tentang YooChun oppa dan TVXQ. Ya, YooChun oppa, kekasihku, memang seorang member boyband ternama di Korea dan Jepang, TVXQ. Saat aku tengah asyik membaca berita, tiba-tiba saja ponselku bergetar ada pesan masuk.

From: Chunnie oppa

Selamat pagi, putriku 😀

Aku tersenyum membacanya. Pasti ia sudah bangun sekarang dan masih bersantai. Tak lama tanganku mulai mengetik balasan untuk YooChun oppa.

To: Chunnie oppa

Selamat pagi, pangeranku 😀 oppa tidak ada jadwal kah? Biasanya kan jam segini oppa sudah bekerja dengan TVXQ.

Tak butuh waktu lama, YooChun oppa membalas pesanku.

From: Chunnie oppa

Oppa ada jadwal sayang, tapi tidak terlalu padat. Nanti sore mungkin oppa akan ke rumahmu. Sudah lama oppa tak bertemu denganmu, paman, bibi, dan Onew.

Lagi-lagi, jari-jariku dengan cepat mengerik balasan untuk YooChun oppa.

To: Chunnie oppa

Ah baiklah oppa, aku tunggu ^^

Setelah mengirimkan balasanku, aku kembali membaca berita. 5 menit berlalu, dan ponselku sama sekali tidak bergetar. pasti ia sudah berangkat, pikirku. Karena aku sudah selesai membaca berita, aku membuka microsoft word dan mengetik lanjutan novelku. Ya, akhir-akhir ini aku memang tengah mencoba membuat novel. Yah.. mungkin karena kegemaranku membaca novel atau bacaan lainnya, aku jadi ingin mencoba membuat novel. Novelku ini bercerita tentang kehidupan seorang artis yang selalu merasa kesepian dan sangat ingin mempunyai kekasih yang mengerti dirinya, sampai akhirnya ia bertemu dengan wanita itu. Mudah-mudahan saja novelku ini akan berhasil. Doakan saja!

Setelah hampir satu setengah jam aku mengetik lanjutan novelku, aku mematikan laptop-ku dan menutupnya. Kurebahkan tubuhku sebentar di atas kasur sebelum akhirnya aku terlelap.

Aku terbangun pukul 4.00 p.m KST. Begitu bangun, aku langsung pergi menuju kamar mandi. Selesai mandi, aku mendapatkan ponselku bergetar ada pesan masuk. pasti dari YooChun oppa, gumamku. Dan ternyata benar, pesan itu berasal dari YooChun oppa yang mengatakan kalau ia sudah sampai di depan rumahku. Segera saja aku menuruni tangga dengan cepat dan membukakan pintu untuknya.

“OPPA!!!” seruku sambil berlari memeluknya.

“ahaha, sepertinya kau sangat merindukan oppa ya, HyeJin-ah?” tanya YooChun oppa sambil tertawa dan membalas pelukanku.

“tentu saja aku merindukanmu, oppa. Coba ingat, kapan terakhir kali kita bertemu?” tanyaku lalu melepas pelukanku.

“mm.. kalau tidak salah 2minggu yang lalu saat TVXQ comeback. Iya kan?”

“kkeurae. Jadi, wajar saja kalau aku sangat merindukan oppa,” jawabku lalu tersenyum.

“ah, yaya,”

“jadi.. oppa ada perlu apa kemari?” tanyaku.

“mm.. oppa mau memberimu hadiah untuk ulangtahunmu besok. Sebentar, oppa ambilkan dulu di mobil. Kau tunggu disini!“ perintahnya sebelum akhirnya pergi meninggalkanku ke mobilnya.

Aku hanya menatapnya heran. Bagaimana tidak heran, aku kan baru berulang tahun besok, tapi mengapa ia memberiku hadiah hari ini?

“taraa….” ucapnya sambil menunjukkan padaku, sebuah sangkar burung kecil yang di dalamnya ada dua ekor burung yang menurutku sangaaaat lucu.

“aaww lucu sekali oppa.. burung apa ini?”

“burung ini namanya love bird. Kau suka?” tanyanya yang langsung kujawab dengan anggukan cepat.

“nah, ini.. itu hadiah ulangtahun dari oppa. Maaf kalau tidak seberapa,” ucapnya sambil menyerahkannya padaku.

“tidak apa-apa, oppa. aku suka kok. Tapi, kenapa oppa tidak memberikannya padaku besok saat aku berulang tahun?”

“maaf sayang, oppa nanti malam berangkat ke Jepang, oppa ada jadwal disana. Kau mau memaafkan oppa, kan?”

Aku tersenyum, “tentu saja oppa, aku mengerti kok. Oppa kan member TVXQ, jadi pantas oppa sangat sibuk,”

“ah, oppa benar-benar minta maaf padamu, sayang,”

“sst.. oppa tak usah meminta maaf lagi. Ayo masuk ke dalam oppa!” ajakku.

“maaf sayang, oppa tidak bisa. Sebenarnya tadi oppa dilarang meninggalkan apartment oleh manager hyung. tapi karena oppa memaksa, jadi oppa diperbolehkan,” ucapnya.

“mmm…” gumamku tak menatap wajahnya.

“sayang, gwaenchana?” tanyanya sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.

“ah, ne. Aku tidak apa-apa kok oppa. Oppa pulang saja, daripada oppa nanti dimarahin manager lagi,” ucapku pada akhirnya.

“mmh, baiklah. Oppa pulang dulu ya sayang, jaga dirimu baik-baik!” katanya sambil menaiki mobilnya dan mulai menyalakannya, lalu menjalankannya meninggalkan rumahku.

Aku menatap mobilnya terus sampai mobil itu hilang di belokan. Setelah mobil itu hilang dari pandanganku, aku berjalan ke teras belakang dan menggantungkan sangkar burung yang diberikan YooChun oppa barusan. Saat aku sedang duduk melihat burung itu, tiba-tiba saja Onew oppa datang dan membuatku sedikit terkejut.

“aigoo~ burung ini lucu sekali.. burung siapa ini, HyeJin-ah? Seingatku aku tidak pernah membeli burung ini,”

“itu hadiah dari YooChun oppa,” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari kedua burung itu.

“hadiah? Hadiah ulangtahun? Tapi bukankah kau baru berulangtahun besok, HyeJin-ah?” tanyanya bingung, seperti dugaanku.

“memang. Tapi besok dia ada konser di jepang, maka dari itu ia memberiku hadiah sekarang,” jawabku dan lagi-lagi tanpa mengalihkan pandanganku dari burung itu.

“oh, yasudah. Selamat menikmati hadiahmu, dongsaeng-ah. Oppa mau pergi  dulu. Jaga rumah baik-baik ya.. daaah~” ucapnya sambil pergi meninggalkanku sendirian lagi.

“hhh..” aku mendesah pelan sebelum akhirnya berjalan masuk ke kamar.

Sesampainya di kamar kuambil ponselku dan mengetik sebuah pesan.

To: Chunnie oppa

Oppa.. terimakasih atas hadiahmu. Aku sangat menyukainya. Semoga kau sampai di Jepang dengan selamat dan semoga konsermu sukses ^^

Setelah mengetik pesan itu, aku berjalan ke kasurku. Kurebahkan tubuhku sebentar dan kemudian aku sudah terlelap.

Aku terbangun ketika mendapati ponselku bergetar. hm.. sepertinya ada pesan masuk. Segera kunyalakan ponselku dan kubuka pesan yang baru saja kuterima.

From: Chunnie oppa

Saengil chukahamnida .. Saengil chukahamnida .. Saranghaneun Park HyeJin .. Saengil chukahamnida!!

Happy birthday my love :* wish you all the best, darling. I love you :**

FLASHBACK END

 

Saat sedang asyik menatap kedua burung itu, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh suara bel. Aku langsung saja berdiri dan sedikit berlari menuju pintu. Aku memang sedang sendirian di rumah. Orang tuaku sedang pergi mengunjungi nenek dan kakek di Busan sedangkan Onew oppa sedang kuliah. Segera kubukan pintunya dan mataku langsung membelalak kaget melihat siapa yang datang. YooChun oppa. Orang yang sangat kurindukan belakangan ini karena kami jarang bertemu, yah.. tentu saja karena kesibukannya mengadakan konser tur Asia. Aku langsung saja berlari memeluk tubuhnya dengan senang dan YooChun oppa juga membalas pelukanku.

“jadi sayang, kau tak menyuruh kekasihmu ini masuk?” tanyanya.

Kulepas pelukanku, “ehehe, maaf oppa. Yasudah, ayo masuk!” ucapku.

“hmm.. sayang, apa kau sedang sendirian di rumah? Kemana orang tuamu? Onew?” tanya YooChun oppa setelah masuk ke dalam rumahku.

“orangtuaku sedang pergi mengunjungi nenek dan kakek di Busan, kalau Onew oppa sedang kuliah. Oppa mau minum apa?”

“terserah kau saja, sayang. Orange juice juga boleh. Hehehe,”

“yasudah, aku buatkan dulu ya oppa!” ucapku lalu pergi menuju dapur meninggalkan YooChun oppa sendirian di ruang tamu.

Setelah orange juice-nya siap, aku membawanya ke ruang tamu. Loh? Kenapa tidak ada orang di ruang tamu? Kemana YooChun oppa? Tiba-tiba saja aku mendengar sebuah siulan dari teras belakang.  Segera saja aku pergi menuju teras belakang sambil membawa 2 gelas orange juice. Aku melihat YooChun oppa sedang bersiul sambil menatap dari dekat kedua burung yang dihadiahkannya padaku.

“oppa.. oppa sedang apa?” tanyaku setelah meletakkan kedua gelas orange juice itu di meja.

“ini, oppa sedang bermain dengan mereka. Ahaha.. mereka lucu ya?”

“ahaha.. iyaa, mirip oppa. wkwkwk,” tawaku.

“emm.. sayang?”

Aku menoleh menatapnya, “hm?”

YooChun oppa berjalan mendekatiku. Kulihat ia hanya diam sambil mendekatkan wajahnya pada wajahku. Dapat kurasakan hembusan nafasnya yang hangat itu di wajahku. Sampai akhirnya ia membisiki telingaku dengan lembut.

“aku mencintaimu sayang..”

Kemudian ia menarik wajahnya lagi dan lagi-lagi wajahnya berada tepat di depan wajahku. Kulihat wajahnya dengan teliti. Kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya dan hidung kami pun bersentuhan. Kupejamkan kedua mataku, sampai akhirnya bibirnya menekan lembut bibirku. Awalnya aku merasa kaget, namun akhirnya aku bisa membalas ciumannya itu. Kami melakukan itu hampir 3menit. Dan setelah 3menit itu, YooChun oppa menyudahi ciumannya.

“i love you.. forever..” ucapnya lembut dan diakhiri sebuah senyuman manis yang terukir di bibirnya.

END