Just another WordPress.com site

[Fanfiction] Cafe to Love

poster-cafetolove

TITLE: CAFE TO LOVE
ONESHOT STORY
AUTHOR: @ZERLIINDA

Waktu tepat menunjukkan pukul 2 siang, tanda kalau sekolah telah usai. Changmin segera merapikan buku-bukunya yang berserakan di meja dan lacinya, lalu memasukkannya ke dalam loker. Wajah Changmin begitu gembira setelah keluar dari ruang kelasnya. Ia langsung berlari menuju ke parkiran, dimana sepeda birunya yang imut diletakkan.
Changmin bergegas pergi meninggalkan halaman parkiran sekolah. Begitu keluar dari gerbang, ia membelokkan sepedanya ke kiri. Seharusnya ia berbelok ke kanan, ke arah rumahnya, tapi ada sebab kenapa ia membelokkan sepedanya ke arah yang berlawanan dari arah rumahnya.
Karena ia takut pulang ke rumah? Bukan, untuk apa Changmin takut pulang ke rumahnya. Atau karena ia ingin bermain dengan teman-temannya? Bukan juga. Ia lebih memilih belajar atau tidur siang, daripada bermain tidak jelas dengan teman-temannya. Satu alasannya, karena seorang perempuan.
Ya, sudah tiga minggu terakhir Changmin selalu pergi ke cafe yang terletak di dekat perpustakaan kota. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang perempuan sedang duduk sendirian di dalam cafe itu. Perempuan tadi duduk membelakangi jendela cafe, jadi Changmin tidak bisa melihat bagaimana wajah perempuan itu. Yang ia tahu pasti bahwa rambut perempuan tadi panjang berwarna hitam kecoklatan.
Entah apa yang terjadi pada dirinya, ia nekat masuk ke cafe itu dan membeli secangkir kopi hanya untuk melihat perempuan tadi. Hari ini ia sebenarnya tidak begitu yakin untuk pergi lagi ke cafe, karena sudah hampir seminggu ia tidak melihat perempuan itu.
Setelah memarkirkan sepedanya, ia segera masuk ke dalam cafe tersebut. Ia membeli secangkir vanilla latte. Diedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe. Dan apa yang ia cari selama hampir seminggu ini akhirnya ia dapati. Perempuan itu. Ia duduk di pojok ruangan. Sendirian, seperti biasanya.
Dengan gugup, Changmin berjalan menuju ke tempat perempuan itu.
“Maaf Nona, apa boleh aku duduk di kursi ini?” tanya Changmin hati-hati.
Perempuan tadi mengangkat kepalanya, hal yang mungkin tidak pernah ia lakukan. Deg. Changmin terpaku melihat wajah perempuan ini. Wajahnya begitu cantik, pipinya tirus, kelopak matanya yang lumayan besar.
“Silahkan,” –dan suaranyapun sangat lembut.
Suara dari perempuan tadi akhirnya menyadarkan Changmin ke dunia nyata, setelah tadi ia sempat terbang ke langit. Changmin menggumamkan kata ‘terimakasih’ sambil menarik kursi yang ada di hadapan perempuan tadi.
Setelah Changmin duduk, suasana diantara keduanya menjadi canggung. Changmin bingung harus bagaimana, sementara perempuan di hadapannya sibuk dengan laptopnya.
“Maaf kalau boleh tahu, Nona sedang apa?” tanya Changmin gugup.
“Ya?” tanya perempuan tadi yang sepertinya tidak mendengar apa yang dikatakan Changmin. Mungkin ia terlalu sibuk dengan kegiatannya.
“Kalau boleh aku tahu, Nona sedang apa? Kelihatannya serius sekali?” Changmin mengulang pertanyaannya. Kali ini ia tidak segugup tadi.
“Oh. Aku hanya sedang menulis cerita. Kau mau membacanya?” tawar perempuan itu.
“Eh?” Changmin terkejut. “Bo…boleh kah?”
“Tentu saja. Kebetulan ceritanya sudah selesai. Ini, bacalah!” ia membalikkan laptopnya ka arah Changmin. “Judulnya, Cafe to Love.”
Changmin membaca kalimat demi kalimat yang tertera di layar laptop. Karena ia sering membaca buku, jadi ia dapat membacanya dengan cepat. Ia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk membaca tulisan sebanyak 17 lembar.
Disitu diceritakan ada seorang laki-laki yang awalnya sangat benci untuk menghabiskan waktu luangnya untuk bermain—apalagi untuk pergi ke cafe—menjadi suka mengunjungi cafe karena ia bertemu secara tidak sengaja dengan seorang perempuan yang selalu ia lihat. Perempuan itu selalu duduk sendirian sambil menikmati kopi dan menulis sesuatu di notebooknya. Hingga suatu hari laki-laki itu memberanikan dirinya untuk bertemu dengan perempuan itu.
Setelah selesai, Changmin mendapati perempuan tadi menatapnya penuh harap. Changmin hanya tersenyum melihat itu.
“Bagaimana menurutmu? Ceritanya bagus tidak? Ada kurang apa tidak? Atau ada kata-kata yang salah penulisannya?” perempuan tadi langsung memburu Changmin dengan berbagai pertanyaannya.
Changmin yang melihat itu hanya terkekeh karena ia menganggap wajah perempuan itu lucu saat ia khawatir mengenai ceritanya yang tadi dibaca oleh Changmin.
“Kenapa kau tertawa? Ceritanya jelek ya? Sudah kuduga, seharusnya aku tidak menulis cerita seperti itu.” Wajahnya berubah menjadi kecewa. Changmin jadi tidak enak.
“Bu..bukan seperti itu, Nona.” kata Changmin cepat.
“Lalu?”
“Ceritanya bagus—sangat bagus, malah. Aku sangat suka dengan ceritanya. Alurnya, penggunaan kata-katanya, itu semua sudah tepat menurutku.” Changmin tersenyum ketika mengutarakan pendapatnya tentang cerita tadi.
“Jinjja?” Rasa senang itu terlihat sekali dari wajahnya yang manis. “Terima kasih.” Ia tersenyum lebar, membuat kedua matanya juga ikut tersenyum. Manis sekali.
“Sama-sama.” Changmin ikut tersenyum membalas senyuman dari perempuan tadi. “Kalau boleh tahu, Nona dapat inspirasi cerita ini darimana?”
“Ah itu, entah kenapa sejak aku berkunjung ke cafe ini aku mendapat inspirasi untuk menulis cerita seperti ini. Sepertinya cafe ini sangat cocok untuk tempat kencan atau menemukan kekasih, ya? Banyak teman-temanku yang berpacaran hanya karena tidak sengaja bertemu di cafe, salah satunya cafe ini.” Perempuan itu mengoceh panjang lebar.
Changmin hanya tersenyum mendengarkan sambil matanya terus menatap ke arah perempuan itu. Sepertinya ia benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan perempuan ini.
“Hei!” Changmin langsung tersadar dari lamunannya setelah perempuan tadi mengibaskan tangannya di depan wajah Changmin. “Kau melamun? Atau kau sedang sakit” Perempuan itu menempelkan tangannya ke dahi Changmin, dan itu sukses membuatnya salah tingakah. Changmin buru-buru menjauhkan wajahnya dari tangan perempuan itu.
“A..aku tidak apa-apa, Nona.” Jawab Changmin gugup.
“Oh, syukurlah kalau kau tidak apa-apa.” Perempuan itu kembali tersenyum. “Sudah setengah empat, aku harus pulang sekarang. Aku ada les matematika.” ucapnya sambil bergegas memasukkan laptopnya ke dalam tas dan beranjak dari kursinya.
“Nona?!” Changmin segera berlari kecil mengejar perempuan itu.
Ia berhenti berjalan dan berbalik. “Ya?”
“Boleh tahu, Nona sekarang kelas berapa?” tanya Changmin penasaran.
“Oh, aku sekarang kelas 1 SMA. Ohya, aku Eunra, Kim Eunra.”
“Bagaimana kalau kita belajar matematika bersama? Kebetulan aku juga sama denganmu. Namaku Changmin, Shim Changmin.”
Eunra terlihat berpikir sebentar sebelum kemudian seulas senyum terukir di wajahnya. “Baiklah kalau begitu. Besok pukul 2 siang, aku tunggu kau disini ya.” Changmin mengangguk setuju. Sebuah bis datang dari arah barat, dan saat itu juga Eunra melambaikan tangannya kearah Changmin. “Aku pulang duluan ya. Sampai besok, Changmin~”
Changmin membalas lambaian tangan itu, dan kedua matanya terus melihat bis itu, sampai bis itu hilang dari pandangannya setelah berbelok ke kanan. Ia berjalan menuju parkiran, dan mengambil sepedanya. Hari ini ia pulang dengan perasaan yang sangat senang. Tentu saja karena ia berhasil bertemu dengan perempuan yang telah mencuri perhatiannya sejak beberapa waktu yang lalu. Apalagi ia juga bisa mengajak Eunra untuk berlajar matematika bersama. Nasibnya benar-benar beruntung hari ini.
Ia kembali teringat dengan cerita yang ditulis Eunra. Inti dalam cerita itu sangat mirip dengan apa yang dialami Changmin terhadap Eunra. Semoga saja memang benar.
Ini pasti akan jadi akhir yang menyenangkan, pikirnya yakin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s