Just another WordPress.com site

[Fanfiction] In Your Arms

edit-minsica

Author: @zerliinda
Casts: TVXQ Shim Changmin and SNSD Jung Jessica
Length: oneshot

==============================================================================================

Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Jessica hanya menangis di kamarnya. Ini sering dilakukannya semenjak beberapa tahun yang lalu. Momen-momen bersama orang yang dicintainya seakan berputar di kepalanya seperti rekaman sebuah film dokumenter. Semuanya. Tidak ada hal yang dilewatkan oleh Jessica.
Jessica sebenarnya bukan orang yang suka menangis. Tapi keadaannyalah yang memaksanya menjadi seperti itu. Ditinggalkan oleh seorang kekasih yang sangat dicintainya, itu jelas membuatnya tak bisa menahan airmatanya setiap ia teringat kembali oleh momen-momen yang diciptakan oleh mereka berdua.

“Oppa mau membicarakan apa? Kedengarannya serius sekali sampai mengajakku kesini?” tanya Jessica pada lelaki jangkung yang sekarang duduk tepat di hadapannya.
Terlihat Changmin menghela nafasnya sejenak. “Saat pertama kali Oppa melihatmu di halte, entah kenapa sejak saat itu Oppa jadi susah tidur. Yang ada di pikiran Oppa hanyalah kau, Sica. Oppa juga tidak tau kenapa. Tapi sekarang Oppa tau apa artinya itu…” Sekali lagi Changmin menghela nafasnya. “Saranghae. Maukah kau menjadi kekasihku, Sica?”
Jessica terlihat terkejut dengan pernyataan Changmin barusan. Ia tidak menyangka kalau cintanya pada lelaki jangkung ini ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. “Nado saranghae, Oppa.” Jessica tersenyum.
“Jinjja? Apakah aku tidak salah dengar? Kau menerimaku, Sica?”
Jessica hanya mengangguk sambil tersenyum manis. “Gomawo, jagi.” ucap Changmin senang.

Jessica kembali meneteskan air matanya. Samar-samar ia mendengar lagu milik Krissy dan Ericka yang berjudul In Your Arms yang mengalun dari ruang tengah apartmentnya.

Remember those nights, we stayed up just laughing on the phone
Remember that time you said that “I would never let you go”
Remember that time when I said that we could never ever be
But I know it’s a lie because deep down inside

Refleks, ingatan Jessica kembali lagi ke masa lalu. Saat dimana ia dan kekasihnya itu masih bersama.

“Yaa Oppa?” panggil Jessica saat mereka tengah berjalan menuju apartment jessica.
“Ne, jagi?”
“Nanti malam menginap di apartmentku ya? Katanya sih nanti malam ada film bagus, aku ingin nonton dan ditemani Oppa~ mau ya?” pinta Jessica manja.
“Hmm… baiklah. Tapi nanti jangan lupa imbalannya ya~” Changmin mengedipkan sebelah matanya sambil menyeringai mesum.
Seakan menyadari apa yang dimaksut Changmin, Jessica langsung berteriak kesal. “Yah! Dasar byun!” Jessica memukul lengan kekasihnya itu.
“Aww aww. Ampun jagi, ampuun!” merasa bahwa Jessica tidak akan berhenti memukulnya, Changmin langsung memeluk Jessica. “Kalau kau terus memukul Oppa, Oppa akan menciummu sekarang.”
Jessica merasakan panas di pipinya. Ia hanya diam di pelukan Changmin yang hangat itu. Mereka melanjutkan perjalanan ke apartment Jessica sambil bergandengan tangan.

“Oppa?” panggil Jessica sambil menyandarkan kepalanya di bahu Changmin.
“Hmm?”
“Kalau misalnya tiba-tiba aku berubah menjadi jelek, gemuk, dan tidak menarik lagi, apa Oppa masih mencintaiku?”
“Mmm tergantung~”
“Tergantung apa?”
“Tergantung sejelek mana penampilanmu~”
Jessica menegakkan badannya. “Yaa apa maksut Oppa?!” tanya Jessica kesal.
Changmin terkekeh geli melihat ekspresi kesal pada wajah Jessica yang entah kenapa membuatnya terlihat lucu. Changmin menyandarkan kepala Jessica lagi di bahunya. “Tidak tidak, Oppa hanya bercanda, jagi. Oppa tidak akan meninggalkanmu walaupun kau berubah sejelek apapun.” jawab Changmin lembut sambil mengelus pelan rambut Jessica.
“Benarkah?” jessica melihat ke arah Changmin. Changmin hanya mengangguk.
“Oppa janji tidak akan pernah meninggalkanmu.” ucap Changmin lagi.
“Makasih Oppa. Hehehe.”
Suasana menjadi hening seketika. Mereka kembali melanjutkan menonton film.
Changmin merasakan hembusan nafas lembut Jessica. Ia menoleh ke arah Jessica, dan mendapatinya telah tertidur pulas di bahu Changmin. Changmin hanya tersenyum melihatnya. Perlahan ia mengangkat tubuh Jessica dan kemudian membawanya ke kamarnya. Ia menyelimuti tubuh Jessica lalu mengecup lembut keningnya. “Goodnight, princess.”

+++
Sore ini jessica hanya duduk sambil memeluk lututnya di sofa yang menghadap ke jendela. Saat ini diluar sedang hujan deras. Dan tentu saja udaranya menjadi sangat dingin. Lagi-lagi Jessica teringat oleh lelaki itu. Saat itu, dimana mereka memulai kisah manis mereka.

“Ah, sial! Aku kelupaan tidak membawa payung hari ini!” umpat jessica.
Hari ini hujan deras kembali mengguyur kota Seoul. Itu memaksa Jessica harus tertahan di halte bus. Ia harus berusaha bertahan di halte ini atau kalau tidak mencari tumpangan payung.
Jessica melirik jam yang melingkar manis di tangan kirinya. 4.30 p.m. Sudah 45 menit Jessica menunggu di halte ini, tapi hujannya juga tak kunjung reda. Baru saja ia akan nekat hujan-hujanan, tetapi sebuah suara menghentikannya.
“Butuh tumpangan payung, nona?” tanya seorang lelaki.
Jessica membalikkan badannya menatap sosok lelaki tadi. Badannya tegap, tinggi, wajahnya juga tampan. “I-iya.”
“Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Ayo!” ajaknya.
Jessica sempat melamun sebentar ketika memandang wajah tampannya itu. “Nona?” lelaki tadi mengibaskan tangannya di depan wajah jessica, dan itu sukses membuat Jessica tersadar dari lamunannya.
“E-eh. Baiklah.” Jessica berjalan mendekat ke arah lelaki tadi. Jadilah mereka pulang bersama.
“Shim Changmin. Kau bisa memanggil Changmin.”
“Jung jessica. Kau bisa memanggilku Sica. Senang berkenalan denganmu Changmin-ah.”
“Nado.” ia tersenyum.
“Mmm sudah sampai rumahku. Kau mau mampir dulu?”
“Tidak usah, Sica. Aku langsung pulang saja.”
“Oh yasudah. Terimakasih ya.” ucap Jessica lalu berjalan menuju teras rumahnya.
“Sama-sama. Aku pulang dulu. Annyeong~”

+++

Jessica memutuskan untuk kembali ke apartmentnya setelah menghabiskan waktunya di pantai. Begitu ia akan beranjak dari tempatnya, seorang lelaki yang tengah berdiri membuatnya berhenti melangkah.
“Op-Oppa?!” tanya Jessica memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar kekasihnya yang sudah lama dirindukannya.
“Ne, Sica. Ini Oppa.” lelaki tadi tersenyum. Senyum itu, senyum yang sangat Jessica suka. “Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya dengan penuh harap. Jessica hanya mengangguk kemudian kembali duduk di tempatnya yang tadi.
“Oppa minta maaf.” ucapnya lalu menunduk.
“Untuk?”
“Maafkan Oppa sudah meninggalkanmu. Oppa sebenarnya tidak bermaksut meninggalkanmu. Oppa hanya menuruti perintah Appa untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Dan waktu itu… Oppa tidak sempat berpamitan padamu. Maaf, Sica.”
Tanpa terasa, air mata Jessica kembali menetes. Changmin—lelaki tadi yang mendengar sebuah isakan, langsung menoleh ke arah Jessica.
“jagi, kau kenapa? Kenapa kau malah menangis? Oppa minta maaf, jagi.” Changmin yang tidak tahan melihat Jessica, langsung memeluk tubuh kecil perempuan itu.
“Aku merindukanmu Oppa, sangat.” isak Jessica dalam pelukan Changmin.
Changmin membelai lembut rambut Jessica. “Nado. Sudahlah, jangan menangis lagi, ne?”
Changmin melepaskan pelukannya. Ia menatap dalam kedua mata Jessica. Tanpa terasa jarak antara mereka semakin lama semakin dekat. Dan, cup. Sebuah kecupan hangat menghapus jarak diantara mereka.
“Oppa, berjanjilah kalau kau tidak akan meninggalkanku lagi seperti kemarin. Oppa tau? Aku hampir gila karena mengira bahwa Oppa sudah tidak ada.” ucap Jessica
“Ne, Oppa janji jagi. Maafkan Oppa ya?” pinta Changmin.
Jessica hanya mengangguk sambil tersenyum.

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s