Just another WordPress.com site

Fan Fiction / ITS ALL BECAUSE CASSIOPEIA

Casts:

–        Kim Jae Joong as DBSK/JYJ Jae Joong

–        Jung Hye Mi as Hye Mi/Cassiopeia

Author: mjjejelips

 

*nb: all P.O.V are JaeJoong’s

 

–a

08.30 a.m KST

Aku terbangun dari tidurku ketika merasakan rasa sakit di kepalaku. Semalam aku telah minum lebih dari 4 botol soju berukuran besar, yah.. karena aku masih sedikit stress mengenai keputusanku dan Yoo Chun serta Jun Su untuk keluar dari SM Entertainment dan mengajukan gugatan kami. Bukan karena apa.. tapi karena aku masih memikirkan Yun Ho dan Chang Min. Bagaimana caranya kami (JYJ) bisa kembali bersama dengan mereka sebagai Dong Bang Shin Ki tanpa harus kembali ke SM Entertainment?

Kupijat pelan kepalaku sambil berjalan perlahan keluar kamar. Baruntung hari ini aku tidak ada jadwal sama sekali. Andai kalau hari ini jadwalku padat, mungkin aku bisa benar-benar gila. Kulangkahkan kakiku dengan malas menuju ke ruang tengah, tempat dimana semalam aku menghabiskan malam dengan meminum soju. Tempat itu masih berantakan, yah.. itu karena semalam aku tidak sempat membereskannya. Dengan malas aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang bau ini.

Butuh waktu hampir 1 jam bagiku untuk mandi pagi ini, tentu saja karena aku sedang sangat malas pagi ini. Selesai mandi, aku berjalan ke balkon dengan keadaan topless untuk menjemur handuk. Saat sedang menjemur handuk, tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan sebuah jeritan seorang wanita. Segera kutolehkan kepalaku ke arah suara jeritan tadi. Kini aku mendapati seorang gadis yang sedang berdiri di balkon apartment-nya yang terletak tepat didepan apartment-ku dan tengah menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya

 

“KYAAA~~!!!!” jeritnya lagi.

“WAE? KENAPA KAU TERIAK BEGITU?!” tanyaku dengan sedikit berteriak agar dia bisa mendengarku.

Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah menurunkan sebelah telapak tangannya dan menunjukku. Mataku mengikuti arah kemana ia menunjuk. Dan ternyata ia menunjuk dadaku yang tidak tertutupi sehelai benangpun ini. Aku tertawa kecil sambil kembali menatapnya.

“CEPAT PAKAI PAKAIANMU!!” ujarnya lagi –masih dengan berteriak—

Masih dengan tertawa, aku berjalan masuk ke dalam apartment dan memakai pakaianku. Setelah memakai pakaianku dan sedikit merapikan rambutku, aku berjalan ke balkon. Sesampainya di balkon, perasaan kecewa tiba-tiba datang kepadaku. Gadis tadi sudah tidak ada di balkonnya. Perasaan bosan kembali datang. Aku bersandar pada balkonku sambil menyanyi dengan pelan. Tiba-tiba saja aku mendengar namaku dipanggil seseorang dari bawah. Segera kutengok ke bawah, dan perasaan senang menghampiriku. Gadis itu kini tengah berada di bawah sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke tanah. Mungkin ia menyuruhku datang kesana sekarang. Segera saja aku masuk dan mengambil jaketku, lalu turun ke bawah –tempat dimana gadis itu menungguku—

Sesampainya di bawah, aku menemukan gadis itu sedang duduk di sebuah kursi sambil kakinya memainkan sebuah kaleng bekas minuman. Kini ia memakai kacamata dan jaket. Yah pasti ia juga tidak mau mati kedinginan pagi ini, sama sepertiku. Aku berjalan kearahnya dan menyapanya, “hai!”

Ia menoleh menatapku, dan seketika matanya berbinar-binar ketika melihatku, “hei, kau DBSK Hero JaeJoong kan? aigoo~ aku tak menyangka kalau kau ternyata tinggal di depan apartment-ku. kenalkan namaku Cassiopeia, kau bisa memanggilku Cassie. kau tahu? aku adalah penggemar beratmu..” cerocosnya panjang lebar.

Aku hanya tersenyum tipis menatapnya, “terimakasih sudah menjadi penggemarku. tapi itu dulu..”

Ia menatapku bingung sambil memiringkan kepalanya, “apa yang kau maksud dengan ‘dulu’?”

“dulu aku memang DBSK Hero JaeJoong, namun tidak lagi sekarang..”

“YA! apa maksudmu? bagaimanapun juga di mata Cassiopeia di dunia ini, DBSK tetaplah LIMA … ” ujarnya dengan sedikit penekanan pada kata ‘lima’ “dan kau juga tetap sebagai member DBSK, bukan JYJ! termasuk juga YooChun dan JunSu. mereka sama-sama member DBSK, sama sepertimu dan HoMin. kau harus tahu itu!” ujarnya marah sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.

“sudahlah lupakan saja tadi..” ucapku mengalihkan pembicaraan, “tadi kau bilang namamu Cassiopeia?”

“memang,” jawabnya tanpa menoleh padaku.

“Cassiopeia pasti bukan nama aslimu, kan? beritahu aku nama aslimu!”

“kau tidak perlu tahu nama asliku. cukup panggil aku Cassiopeia atau Cassie,” ujarnya datar, “sudahlah aku mau kembali ke apartment-ku sekarang. aku tidak mau mati kedinginan disini hanya karena mengobrol dengan orang menyebalkan sepertimu,” ucapnya lalu berjalan meninggalkanku.

Apa tadi yang ia katakan? Orang menyebalkan? Aku?

Buru-buru aku menggenggam tangannya menahannya berjalan kembali ke apartment-nya, “kumohon temani aku.. aku sedang sangat kesepian sekarang, dan kau adalah orang yang membuatku harus turun kesini, padahal sebenarnya aku sedang sangat malas hari ini. jadi sekarang kau harus bertanggung jawab!” ucapku.

Ia berhenti berjalan dan menatapku, “bertanggung jawab? untuk apa aku harus bertanggung jawab?!”

“karena kau sudah membuatku kesini. padahal aku sedang malas melakukan apapun hari ini. jadi kau harus bertanggung jawab,” jawabku santai.

“WHAT??!! ini juga salahmu! kenapa kau tadi tidak memakai pakaianmu?!” tanyanya marah.

“ah sudahlah aku malas membahasnya. cepat ikut aku!” kutarik tangannya tanpa mempedulikan ocehannya.

“YA! lepaskan tanganku! kau mau membawaku kemana?!!” ujarnya kesal.

“ck.. kau diam saja Cassie-ah.. tenang saja, aku tidak akan membawamu ke suatu tempat yang mengerikan. kau pasti akan senang setelah ini,” ucapku lalu tersenyum jahil.

“MWO?! aish terserah kau sajalah. tapi bisakah kau mengendurkan sedikit genggamanmu pada tanganku?” ujarnya yang langsung membuatku tersadar dan langsung mengendurkan sedikit genggamanku.

–.

Hari ini aku dan seorang gadis yang baru kukenal pagi ini yang mengaku bernama Cassiopeia pergi menuju salah satu Mall yang cukup terkenal di Seoul. Tentu saja aku menyamar. Dengan menggunakan jaket, topi, beserta kacamata hitam, aku dan Cassiopeia pergi ke Mall menggunakan bus umum.

“sebenarnya kau mau membawaku kemana sih?” ujarnya kesal begitu kami masuk ke dalam bus yang tidak terlalu ramai.

“mall,”

“MWO?!  MALL?! kau serius?! kau tidak takut kalau nanti muncul skandal antara kau dan aku?” tanyanya.

“tenang saja, aku sudah menggunakan penyamaranku. jadi berdoa saja agar tidak ada yang mengetahui kita. kalau memang ada yang mengetahui dan membuat skandal itu pun aku tak masalah,” jawabku santai.

Ia melotot ke arahku, “kau bisa berkata seperti itu karena kau sudah terbiasa dengan skandal-skandal macam itu. tapi bagaimana denganku? aku tak ingin hidupku nanti diganggu oleh wartawan-wartawan menyebalkan,”

Aku tertawa kecil mendengar celotehannya, “kau tinggal berdoa agar tidak ada yang mengetahui kita,” ujarku, “kita sudah sampai. ayo turun!” ucapku lalu menggandeng tangannya turun.

Setelah turun dari bus, aku menggandeng tangan Cassie masuk ke dalam Mall. Seperti biasa, jika aku sudah ada di dalam Mall, aku pasti akan langsung pergi menuju ke toko pakaian. Aku mengajak Cassie masuk ke salah satu toko pakaian. Aku memilih beberapa pakaian untukku, sedangkan Cassie hanya duduk di kursi yang terletak tak jauh dari tempatku memilih pakaian saat ini. Aku berjalan menghampirinya dan menanyakan sesuatu padanya.

“hei, menurutmu bagus yang berwarna abu-abu atau hitam?” tanyaku sambil menunjukkan kedua kaos yang kupilih.

“abu-abu. kau lebih cocok menggunakan yang itu,” jawabnya malas.

“hm sepertinya kau benar. oke, aku akan mencobanya dulu. kau tunggu disini, oke?” ujarku lalu segera pergi menuju fitting room.

“kau pintar sekali memilihkan warna, Cassie-ah! kau tahu, kaos tadi sangat cocok untuk kupakai. sebagai balasannya, apa kau mau membeli baju? biar aku yang membelikannya untukmu,” ujarku setelah keluar dari fitting room dan menghampirinya.

“tidak usahlah. ayo pergi!” ujarnya malas lalu beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkanku sebelum aku menahannya lagi.

“YA! kau ini jutek sekali padaku sih?! kau ini benar-benar penggemarku atau bukan? kau tidak seperti seorang penggemar. biasanya seorang penggemar akan langsung merasa senang apabila ia diajak oleh idolanya pergi, apalagi dibelikan baju. kau ini kenapa aneh sekali?!” ujarku kesal.

“aku memang penggemar beratmu, tapi aku tidak seperti yang kau pikirkan itu. kau tahu, gara-gara siapa yang membuat mood-ku berubah menjadi seperti ini?” tanyanya. Aku hanya memiringkan kepalaku, tidak mengerti akan maksudnya, “ini semua gara-gara kau!”

“MWO?! aku?! bagaimana bisa?!”

“awalnya tadi aku sangat senang ketika kau menyapaku dan mengetahui bahwa kau ternyata tinggal di depan apartment-ku. tapi begitu kau bilang kalau kau bukan lagi member DBSK.. kau tahu? itu cukup membuat hatiku sakit. bagaimana bisa seorang idola berkata seperti itu di depan penggemarnya? itu membuatku kecewa padamu. kau tahu?”

“jadi karena itu daritadi kau bersikap jutek padaku?!”

“aku tidak perlu menjawabnya. kau tentu tahu itu,”

“baiklah kalau kau masih tetap marah padaku, kau bisa tinggalkan aku sekarang, dan pergi menenangkan dirimu. pergilah!” ujarku lalu sedikit memaksakan untuk tersenyum.

“oke selamat tinggal,” ucapnya lalu pergi meninggalkanku.

Aku duduk di tempat yang ia duduki tadi sambil kembali memikirkan ucapannya barusan, “maafkan aku. maaf. itu semua juga bukan mauku. kumohon jangan pernah kecewa padaku. aku tahu itu. aku tahu semua Cassiopeia ataupun Bigeast sangat sedih ketika mendengar hal itu. bukan, bukan hanya kalian saja. namun aku, Yoo Chun dan Jun Su juga sangat sedih dengan ini semua. dan sekarang kami juga tak bisa apa-apa lagi. kumohon maafkan aku,” ucapku lirih.

Kukembalikan kaos tadi ketempatnya semula. Entah kenapa tiba-tiba saja mood-ku hari ini menjadi buruk lagi. Bukan. Sangat buruk, maksudku. Segera aku keluar dari Mall, dan mencegat taksi lalu pulang ke apartment-ku. Setelah sampai dan membayar, aku turun dan segera masuk ke dalam apartment-ku. Kuambil segelas air putih lalu meminumnya. Kududukkan badanku di sofa putihku dengan malas.

“seharusnya tadi aku tidak bersikap seperti ini di depan seorang Cassiopeia, apalagi tadi ia adalah penggemarku. aigoo~” runtukku sambil memukul kepalaku pelan. Sekilas mataku menangkap sebuah figura foto yang kupajang diatas televisi. Sebuah foto kami berlima saat sedang di Saipan, “Yun Ho.. Chang Min.. Yoo Chun.. Jun Su.. maafkan aku kalau aku telah mengecewakan Cassiopeia kita.. maafkan aku. aku juga sebenarnya tidak berniat mengatakan hal itu. aku juga sebenarnya masih ingin menganggap diriku sebagai member DBSK dan anggota DBSK masih lima. namun ini semua sudah terjadi. ini semua tidak bisa dikembalikan seperti semula. aku memang merindukan kalian, tapi maafkan aku..” aku tak bisa lagi menahan airmataku. Airmataku langsung tumpah begitu saja saat aku kembali mengingat kenangan kami berlima.

Aku tahu kalau aku ini sedikit munafik. Dari luar aku memang terlihat dingin dan tidak mudah menangis, namun sebenarnya aku adalah orang yang gampang menangis. Apalagi setelah kami bertiga (JYJ) memutuskan untuk berpisah dengan kedua sahabat kami. Kami bukannya membenci Yun Ho dan Chang Min. Bukan seperti itu. Kami hanya ingin membawa mereka turut keluar dari agensi jahannam itu. Kami berlima telah merancanakan ini sejak awal.

 

FLASHBACK

@ DBSK’s Dorm , 09.00 P.M KST

“Yun, kau yakin kita akan melakukan semua ini?” tanyaku tak yakin pada sosok leader di hadapanku ini, Jung Yun Ho.

“tentu saja. kau dulu pernah bilang padaku kan, kalau kau sudah tak tahan lagi berada di agensi ini. yang lainnya pun juga sudah mengeluhkan itu padaku beberapa waktu yang lalu. bagaimana?” tanyanya sambil tersenyum.

“tapi aku tidak bisa berpisah denganmu dan juga Chang Min. bukan hanya aku, Yoo Chun dan Jun Su pun juga sama. mana mungkin mereka mau meninggalkan kalian berdua tetap di agensi jahannam ini sementara kami bertiga keluar dari sini. pasti setelah itu Cassiopeia akan sangat sedih, Yun,”

“iya aku tahu itu semua. namun pikirkan hal positifnya, kalau kau, ah bukan maksudku kau dan YooSu memenangkan gugatan kalian, kalian tentu bisa membawa kami turut keluar dari agensi ini. kemudian kita dapat bersama lagi sebagai DBSK,”

“aku tahu itu. tapi bagaimana kalau pada akhirnya kita tidak bisa bersama lagi? aku tidak mau berpisah denganmu dan Chang Min, Yun-ah,”

“Joongie.. kita coba dulu. kita nggak boleh punya pemikiran kayak gitu. kita harus terus berfikir positif. jadi bagaimana sekarang? kita akan tetap diperlakukan sebagai budak di agensi jahannam ini atau kita berpisah dulu untuk sementara, lalu kita bisa bersama lagi dan kembali menjadi DBSK?”

“umm..” aku menatapnya ragu sebelum akhirnya sebuah jawaban keluar dari mulutku, “baiklah kalau begitu, kita akan berpisah sementara, lalu kita bersama lagi dan menjadi DBSK,”

Yun Ho tersenyum lebar menatapku, “baiklah kalau begitu..”

END OF FLASHBACK

 

05.00 P.M KST

Kini aku tengah berada di balkon apartment-ku sambil menulis di selembar kertas. Rencananya aku ingin mengajaknya ke apartment-ku dan meminta maaf padanya. Aku tahu kalau aku mengajak seorang wanita ke dalam apartment akan menimbulkan skandal, tapi masa bodoh dengan hal itu. Aku tetap ingin mengundangnya kesini dan meminta maaf atas ucapanku tadi pagi.

Hai. Kau masih marah padaku, Cassie-ah? Kuharap tidak. Uhm.. aku ingin mengundangmu ke apartment-ku. Kau mau kan? Kuharap kau tidak keberatan. Yasudah sekian dulu suratku ini. Kutunggu di apartment-ku nanti malam ya ^^

Salam,

Kim Jae Joong

Aku tersenyum tipis begitu aku selesai menulis surat ini. Kulipat surat ini dan memasukkannya di sebuah amplop. Selesai itu, aku memakai jaket abu-abuku beserta kacamata hitam, lalu keluar apartment sambil membawa surat tadi.

Setelah mendapatkan sedikit informasi mengenai letak apartment Cassiopeia, aku segera pergi kesana. Sesampainya di depan pintu apartment-nya, aku meletakkan surat tadi tepat di bawah pintunya, dan kemudian segera pergi dari sana.

Sebelum kembali ke apartment, aku pergi sebentar ke mini market yang terletak tak jauh dari apartment. Disana aku membeli beberapa makanan kecil dan minuman. Setelah mengambil beberapa makan kecil dan minuman, aku membayarnya lalu pergi meninggalkan mini market. Dalam perjalananku kembali ke apartment, aku memakan eskrim coklat yang kubeli di mini market tadi.

Aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah sampai di apartmnt dan meletakkan belanjaanku tadi di meja makan. Selesai mandi aku pergi ke dapur untuk memasak. Menuku sore ini adalah Bibimbap, makanan kesukaan Chang Min. Aigoo~ aku hampir saja menangis saat mengingat Chang Min selalu merengek minta dibuatkan Bibimbap olehku.

Tidak butuh waktu lama, Bibimbap buatanku telah siap. Kuletakkan Bibimbap itu di meja makan. Aku berjalan ke ruang tengah untuk menonton TV. Kusandarkan tubuhku di sofa putihku. Baru saja aku akan terlelap ketika tiba-tiba bel apartment-ku berbunyi, “siapa?” tanyaku sambil beranjak dari sofa. Kulihat sebentar jam dinding yang ada di atas TV, “OMO!! sudah jam 6? aigoo~ cepat sekali..” segera aku mengganti pakaianku dengan kaos putih bergaris abu-abu dan celana panjang putih, baru kemudian aku membukakan pintu untuk Cassiopeia.

“kau sudah datang? masuklah!” ujarku sambil tersenyum manis pada sosok gadis cantik di depanku ini.

Ia menatapku sebentar, “wae? ada yang salah denganku?” tanyaku bingung. Ia hanya menggeleng menjawab pertanyaanku, “ayo masuk!” ucapku lalu menarik tangannya masuk ke dalam apartment-ku.

Setelah melepas sepatunya, ia berdiri sejenak untuk memperhatikan seluruh isi apartment-ku, “bagaimana? kau tentu senang bukan, bisa bermain ke apartment idolamu?” tanyaku ketika melihat Cassie sedang memerhatikan isi apartment-ku, “tidak. biasa saja,” jawabnya lalu melangkahkan kakinya mendekatiku.

“ish kau ini benar-benar jutek ya?! padahal awalnya aku mengira kalau kau adalah seorang gadis yang ceria, bukannya jutek seperti sekarang ini,” ujarku kesal.

“sekarang katakan padaku, untuk apa kau mengundangku kesini?” tanyanya lalu duduk di sofa putihku.

“aku ingin minta maaf padamu tentang perkataanku tadi pagi yang menyebabkan mood-mu berubah. aku benar-benar minta maaf, Cassie-ah,”

“tenanglah aku sudah memaafkanmu sejak tadi. aku tahu kau pasti juga sangat sedih dengan ini semua. bukan hanya kau, Yoo Chun dan Jun Su pasti juga sedih dengan ini. aku tahu kalian bertiga pasti berat meninggalkan HoMin,” ucapnya lalu menghampiriku dan tersenyum manis padaku, “kalian bertiga pasti akan bisa membawa HoMin keluar dari agensi jahannam itu. aku percaya itu. bukan hanya aku, tapi seluruh Cassiopeia dan Bigeast pun juga percaya pada kalian berlima. kalian berlima adalah ‘faith’ kami. kami tidak akan dengan mudah begitu saja melupakan kalian berlima, meskipun kalian berlima sudah tidak bersama seperti dulu. kami tetap Cassiopeia dan Bigeast yang akan mendukung kalian berlima sampai akhir,”

Aku tersenyum dan memeluknya, “terimakasih Cassie-ah. terimakasih sudah percaya pada kami. kami berlima pasti akan kembali seperti dulu lagi. menyanyi, tertawa, menari, dan menangis bersama-sama,”

Ia membalas pelukanku, “kau seharusnya tidak berterimakasih padaku, tapi pada Cassiopeia dan Bigeast. mereka telah mempercayai kalian. kami semua akan tetap mendukung kalian, meskipun kalian sudah terbagi menjadi dua sekarang,” jawabnya dan lagi-lagi diakhiri dengan senyuman.

Baru kusadari saat Cassie menatap wajahku, senyumnya begitu manis dan matanya yang coklat itu begitu indah, “kau sudah makan?” tanyaku dan dijawab dengan gelengan kepala, “kalau begitu, ayo makan! aku memasak Bibimbap sore ini, kau pasti akan menyukai masakanku. ayo!” ajakku sambil menarik tangannya menuju meja makan, dimana disitu sudah ada Bibimbap.

“OMO!! aromanya lezat sekali.. aigoo~ aku jadi tidak sabar untuk memakannya sekarang. boleh aku makan sekarang?” tanyanya sambil menatap mataku. aigoo~ ternyata anak ini selain cantik, ia juga sangat manis, “tentu saja. makanlah yang banyak, tidak usah malu-malu,” jawabku.

Kami berdua makan malam bersama di apartment-ku dengan menu Bibimbap buatanku. Selesai makan, kami mengobrol di balkon apartment-ku sambil memakan makanan ringan yang kubeli tadi, serta beberapa minuman.

“jadi kapan kalian bertiga akan mengikuti persidangan melawan SM Entertainment?” tanya Cassie sambil menatapku yang tengah memandang lurus ke arah langit malam, “besok. besok kami baru akan memulai persidangannya. doakan kami bisa memenangkan lawsuit ini, Cassie-ah~” ucapku sambil menatap mata coklatnya yang indah.
“tanpa kau mintapun, aku beserta Cassiopeia atau Bigeast yang lain pasti akan mendoakan agar kalian bisa memenangkan lawsuit ini,” ucapnya lalu tersenyum manis, “gomawo~” ucapku lirih.

Ia mengambil minumannya dan meminumnya, sedangkan aku kembali menatap kosong langit malam, “Cassie-ah..”

“mm? ada apa?” sahutnya cepat begitu aku memanggilnya. Kualihkan pandanganku menuju kearahnya, “maukah kau menjadi adikku?” tanyaku lembut, “aku sangat menginginkanmu menjadi adikku. yah walaupun bukan adik kandung, tapi aku akan tetap menganggapmu sebagai adikku. kau tak mau kan besok atau kapan muncul skandal kita berdua?”

“umm..” gumamnya, “baiklah aku mau,” jawabnya pada akhirnya, “gomawo dongsaeng-ah.. sekarang kau telah menjadi Cassiopeia-ku sekaligus adikku,” ujarku senang.

Kemudian kami melanjutkan obrolan kami hingga larut malam. Karena kasihan melihatnya yang tertidur di kursi balkon apartment-ku, aku menggendongnya dan meletakkannya di kasurku. Kututupi tubuhnya menggunakan selimutku, “selamat tidur, dongsaeng. mimpi indah,” ucapku lalu mengecup dahinya kemudian meninggalkannya sendirian di kamarku menuju ruang tengah untuk tidur disana.

–.

Aku terbangun ketika merasakan cahaya matahari pagi menyeruak masuk ke dalam apartment-ku. Aku cukup terkejut ketika mendapati selimut yang kupakaikan untuk Cassie kemarin, sekarang aku yang memakainya. Apa kemarin aku mengambilnya dari Cassie saat tertidur ya? Ah itu sangat tidak mungkin, Jae Joong babo! Atau jangan-jangan Cassie sudah pulang?

Segera aku pergi ke kamarku untuk memastikan kalau Cassie masih tertidur disana. Tapi ternyata benar dugaanku kalau ia sudah pulang ke apartment-nya. Kulihat sekilas di meja yang terletak disudut ruangan, disana terdapat secarik kertas putih. Segera aku mengambilnya dan membacanya.

Hei kalau kau sudah membaca surat ini, berarti kau sudah bangun dan aku sudah kembali ke apartment-ku. Maafkan aku kalau semalam aku membuatmu tidur di ruang tengah tanpa menggunakan selimut. Pasti kau kedinginan kan? Maka dari itu, aku memakaikanmu selimut. Maaf juga kalau aku pulang tanpa pamit. Ohya, semoga persidangan nanti berjalan lancar ^^

Cassiopeia

Selesai membacanya, aku melipat kembali surat itu dan meletakkannya ke tempat semula, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diriku sekaligus bersiap untuk sidang pertama kami.

–.

1,5 years later

Sudah satu setengah tahun ini aku dan Cassiopeia bermain bersama-sama. Aku telah menganggapnya sebagai adik perempuanku, begitu pula dengannya. Ia telah menganggapku sebagai kakak laki-lakinya. Kami berdua sering curhat mengenai masalah kami masing-masing. Aku juga tak jarang curhat padanya kalau aku sangat merindukan HoMin.

Ohya hasil sidangku yang kemarin-kemarin cukup membuatku serta YooSu dan para Cassiopeia senang. Meskipun itu bukanlah hasil akhir persidangan, namun entah mengapa aku yakin sekali kalau kami bisa membawa HoMin keluar dari SM Entertainment.

“hei!” sapa seorang gadis cantik secara tiba-tiba sambil menepuk pundakku, “ah kau Cassie-ah. ada apa?” tanyaku. Sampai sekarang, Cassie masih belum mau memberitahukan nama aslinya padaku, entah karena apa. Selama ini aku juga belum pernah masuk kedalam apartment-nya.

“tidak aku hanya bosan di apartment. hehe.. eum kau punya makanan? aku sangat lapar~~” ujarnya sambil menatapku manja dan memegangi perutnya. Aku tertawa melihatnya sambil menggeleng-gelengkan kepalaku, “kau ini.. yasudah ayo kita masak sop ayam bersama-sama!” ajakku sambil menarik tangannya menuju ke dapur.

Kami berdua pun memasak sop ayam bersama-sama di dapur apartment-ku. Bukannya serius memasak, kami terus saja bercanada saat memasak. Akibatnya yah masakan ini jadinya sedikit lebih lama. Selesai memasak, aku menaruh mangkuk besar yang berisi sop ayam itu ke meja makan. Kemudian kami duduk di kursi meja makan dan bersiap untuk memakan sop ayam buatan kami itu.

“bagaimana rasanya? enak tidak?” tanyaku saat melihat Cassie mulai makan, “enak. rasanya sangat enak,” jawabnya, “tentu saja.. siapa dulu yang membuatnya?! aku kan memang jago masak. hahaha,” pujiku pada diriku sendiri, “yee ini juga tak hanya kau yang memasaknya.. aku kan juga ikut membantu. jadi ini juga merupakan masakanku,” ujarnya lalu mem-pout-kan bibirnya, “YA! kau kenapa mem-pout-kan bibirmu? kau mau mengikuti, huh?” tanyaku kesal, “memangnya hanya kau saja yang boleh pouting?” tanyanya balik, “tidak juga sih.. hehe,” cengirku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, “huh.. dasar aneh~”

“sudah larut malam, sebaiknya aku pulang sekarang. besok kau akan menjalani sidang kalian yang terakhir kan?” tanya Cassie setelah kami selesai menghabiskan makan malam kami, “mm.. tidurlah yang nyenyak dan jangan lupa juga doakan kami agar kami bisa memenangkan persidangannya,” ujarku sambil tersenyum dan mengelus lembut rambutnya, “iya tentu saja aku akan mendoakan kalian. aku pulang dulu. sampai besok!” ucapnya lalu memelukku, baru kemudian keluar dari apartment-ku dan pulang.

–.

02.30 P.M KST

Persidangan terakhir kami baru selesai satu jam yang lalu. Sepertinya Tuhan mendengarkan do’a kami berlima, pasalnya kami bertiga memenangkan persidangan ini dan kami bisa kembali berlima lagi seperti dulu. Tapi kami masih belum tahu apakah kami akan kembali ke agensi itu lagi atau HoMin yang akan keluar dari sana.

Sekarang aku tengah menunggu Cassie di restoran Jepang dekat apartment kami. Tadi aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, namun tidak ada jawaban darinya. Karena lelah aku akhirnya mengiriminya pesan singkat. Namun sampai sekarang Cassie belum juga menampakkan batang hidungnya di hadapanku, padahal aku telah menunggu selama lebih dari setengah jam.

Kulirik lagi jam tangan yang berada di tangan kiriku, “aigoo~ kemana Cassie? kenapa dia lama sekali. tidak biasanya dia seperti ini, biasanya dia kan selalu on time..” keluhku. Semenit kemudian tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Segera kuambil ponselku dari saku celanaku, menatap screen ponsel dan membaca siapa penelponnya, baru kemudian aku mengangkatnya, “Cassie?! YA! kau kemana saja, huh? kau tahu aku sudah menunggumu selama lebih dari setengah jam? hei jawab aku! kau dimana sekarang?” cerocosku panjang lebar.

“halo?” ucap seorang gadis, namun kupikir ia bukanlah Cassie. Dapat kuketahui dari suaranya, gadis ini bukanlah Cassie, “halo? Cassie?!” tanyaku, “Cassie? ini bukanlah Cassie, ponsel ini milik Jung Hye Mi. aku adalah temannya. benarkah anda Kim Jae Joong?” tanyanya. Aku sedikit bingung dengan yang ia maksud ‘Jung Hye Mi’. Siapa Jung Hye Mi itu? Apa Jung Hye Mi itu nama asli Cassiopeia? “iya, ini benar dengan Kim Jae Joong. ada apa menghubungi saya? dimana Jung Hye Mi?” tanyaku.

“maaf kalau mengganggu. karena kulihat anda lah yang dihubungi terakhir kali oleh Hye Mi sebelum aku. maka sebaiknya aku memberitahu sebenarnya…” ucapnya pelan, “Jung Hye Mi.. dia…” ucapnya dengan suara sedikit pelan. Perasaanku sedikit tidak enak saat mendengar nama Hye Mi disebut, “WAE? ADA APA DENGAN HYEMI? CEPAT KATAKAN!!” ujarku keras yang tentu saja membut seluruh pengunjung restoran menoleh kearahku, “Jung Hye Mi.. dia.. baru saja mengalami kecelakaan mobil dan sekarang dia sedang berada di rumah sakit,” ucapnya pelan, “MWO?! dimana rumah sakitnya?”

Setelah mengetahui dimana Cassiopeia atau Hye Mi berada, aku segera keluar dari restoran itu dan segera pergi ke rumah sakit menggunakan mobilku.

“dimana Hye Mi?” tanyaku setelah sampai di UGD rumah sakit tersebut. Seorang gadis yang tak kalah cantik dari Hye Mi, membalikkan tubuhnya dan menatapku sebentar lalu membungkuk, “apa kabar?” aku tersenyum tipis lalu balas membungkuk, “dimana Hye Mi?” tanyaku khawatir. Ia tersenyum tipis lalu mengajakku duduk.

“bagaimana kejadiannya?” tanyaku lagi. Aku benar-benar khawatir pada Cassie sekarang, “tadi Hye Mi aku suruh untuk datang ke rumahku untuk membantuku mengerjakan soal-soal latihan ujianku lusa, dan Hye Mi menyanggupinya. ia pergi ke rumahku menggunakan mobilnya. karena lama sekali, aku memutuskan untuk menghubungi Hye Mi, namun tidak diangkat, mungkin ia sedang dalam perjalanan. yasudah aku kembali mengerjakan soal-soal tadi. baru saja aku akan membaca soalnya, tiba-tiba ponselku berdering. kulihat di screen ponselku, ternyata itu dari Hye Mi. segera kuangkat telepon itu dan menanyakan mengapa ia lama sekali, namun aku terkejut ketika yang menjawab adalah seorang lelaki yang mengaku kalau ia adalah seorang polisi. dan kemudian ia mengatakan padaku kalau Hye Mi megalami kecelakaan mobil dan ada di rumah sakit. aku pun juga baru sampai disini beberapa menit yang lalu,” ucapnya.

Aku hanya termenung diam menatap kosong ke arah lantai. Lama kami terdiam, sampai akhirnya sebuah suara dari arah UGD membuat kami berdua menoleh. Aku segera berlari ke arah dokter yang baru saja keluar dari UGD, “dimana keluarga dari nona Jung?” tanya dokter itu, “tidak ada dok. saya kakak angkatnya dan gadis ini adalah temannya,” jawabku. Dokter tadi menatapku dan gadis tadi bergantian, “mm.. Tuan mari ikut saya!” ujarnya lalu berjalan dan aku mengikutinya di belakangnya.

Kami duduk berhadapan setelah sampai di ruangannya. Sedetik kemudian barulah dokter Park mengeluarkan suara, “kecelakaan tadi diakibatkan karena penyakitnya kambuh lagi,” ujarnya, “penyakit? penyakir apa Dok?” tanyaku tidak mengerti, “jadi anda tidak tahu kalau Nona Jung mengidap penyakit kanker otak stadium akhir?” tanya dokter Park. Mataku membelalak sesaat karena tak percaya dan tubuhku juga langsung melemas seketika, “tidak. ia tidak pernah memberitahu saya mengenai penyakitnya itu,” jawabku pelan.

Dokter Park menghembuskan nafasnya pelan, “sepertinya saat dijalan tadi penyakitnya kambuh. dan mungkin karena itu juga ia tidak sadar kalau ada sebuah truk barang melaju kencang dari arah sebaliknya. Nona Jung segera menyadari hal itu dan langsung membalikkan setirnya dan akhirnya menabrak pembatas jalan. itu saya ketahui dari polisi. saat dibawa ke rumah sakit sudah banyak darah yang keluar dari kepalanya, belum lagi tangan dan kakinya yang juga terluka. kalau terlambat sedikit saja, mungkin ia sudah tidak bisa ditolong lagi,” ujar Dokter Park yang membuat tubuhku menjadi sangat down sekarang.

Aku mengucapkan terimakasih baru kemudian menyeret kakiku keluar ruangan Dokter Park. Kupijat pelan kepalaku. Kepalaku sangat pusing mendengar penjelasan Dokter Park tadi, apalagi saat mengetahui kalau Hye Mi terkena penyakit Kanker Otak. Aku menemukan gadis tadi sedang menungguku di depan ruang UGD, “anda tidak apa-apa?” tanyanya kawatir. Aku hanya tersenyum tipis padanya, “Hye Mi ada di dalam?” menggeleng, “dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap,” jawabnya, “tapi sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bisa menemani anda bertemu dengan Hye Mi, karena aku masih harus belajar untuk ujianku. maaf sebelumnya,” ucapnya lalu membungkuk padaku kemudian pergi meninggalkanku.

Aku masuk ke dalam salah satu ruang rawat inap yang sudah diberitahu gadis tadi. Hatiku mencelos ketika melihat keadaan Cassiopeia-ku terbaring lemah di atas ranjang putih dengan banyak perban di tubuhnya. Kuambil sebuah kursi yang tak jauh dari situ dan duduk di sebelah kanan Cassie. Kugenggam tangannya erat, “Cassie-ah kenapa kau sangat jahat padaku, huh? kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau mengidap penyakit mengerikan macam itu? seharusnya hari ini kita bersenang-senang karena idolamu sekarang telah bersatu lagi. kenapa kau malah harus terbaring di ranjang putih ini?!” tanyaku pelan. Aku sudah tidak kuat lagi untuk menahan airmataku, kutumpahkan semua airmataku di tangan putih Cassie.

–.

08.00 A.M KST

Sekarang aku sedang meminum secangkir kopi hangat di taman rumah sakit ini. Sampai pagi ini Cassie belum juga sadar dari komanya. Entah apa yang harus kulakukan sekarang ini. Selesai meminum kopi, aku berjalan kembali menuju kamar tempat dimana Cassie di rawat.

Kembali aku melihat keadaan Cassie yang sangat tidak ingin kulihat itu. Begitu aku duduk di kursi yang ada di sebelahnya, aku melihat Cassie menggerakkan salah satu jarinya dan samar-samar aku mendengar suaranya, “Cassie!!” seruku senang. Ia mengerjapkan matanya sebentar lalu melihatku, “aku ada dimana?” tanyanya pelan. Terdengar sangat lemah, “kau ada di rumah sakit,” jawabku sambil tersenyum, “kau mau minum? akan kuambilkan. ini,” ucapku sambil memberinya segelas airputih, “gomawo~”

“Jung Hye Mi..” panggilku menggunakan nama aslinya. Ia menoleh dan menatapku bingung, seolah bisa membaca pikirannya aku pun kembali berkata, “tidak penting untuk siapa yang telah memberitahuku nama aslimu, Hye Mi-ah,” jawabku.

“katakan padaku, Jung Hye Mi.. sejak kapan kau mengidap penyakit mengerikan ini? katakan padaku!!” ujarku sedikit menaikkan nada bicaraku, “apa yang kau maksud huh? kau marah padaku?!” tanyanya, “hish bagaimana aku tidak marah padamu kalau kau menyembunyikan ini dariku. sejak kapan kau menderita penyakit kanker otak?” tanyaku, kembali menurunkan nada bicaraku.

“sejak aku masih kuliah aku sudah mengidap penyakit ini,” ia menunduk dan… menangis?

“Cassie-ah.. gwaenchana?” tanyaku panik.

“aku tidak apa-apa, oppa. maafkan aku kalau aku tidak menceritakan ini semua padamu, meskipun kau sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. aku tidak ingin memberitahukannya karena aku tidak ingin terlihat lemah di depanmu, aku ingin membuktikan kalau Cassiopeia itu kuat. lagipula kalau aku memberitahukanmu tentang penyakitku, apakah itu akan memberikan pengaruh baik? tidak kan? sekali lagi maafkan aku, oppa..” ucapnya terisak lalu kembali menunduk. Sesaat baru kusadari kalau inilah kali pertama ia memanggilku dengan panggilan ‘oppa’.

Aku tersenyum lalu mengangkat kepalanya dan membersihkan airmatanya, “kali ini oppa memaafkanmu, Cassie-ah. tapi kalau sekali lagi kau menyembunyikan penyakit ini dari oppa, kau akan tau apa akibatnya nanti,”

Ia tersenyum manis, “ne oppa.. tapi ngomong-ngomong bagaimana sidang kalian hari ini? hari ini sidang kalian yang terakhir kan? bagaimana hasilnya?”

“kami menang,” jawabku singkat, “JINJJA?!” tanyanya keras, “umm.. tapi kami masih belum tahu, kami akan kembali menjadi DBSK tetapi juga kembali ke SM Entertainment atau kami akan kembali menjadi DBSK tetapi berada dibawah naungan agensi lain..” jawabku lagi.

“terserah kalian akan kembali ke agensi itu lagi atau tidak, Cassiopeia pasti akan tetap mendukung kalian. chukkae yah~” ujarnya lalu tersenyum manis padaku.

Kemudian kami melanjutkan obrolan kami dengan seru. Namun tak jarang juga Hye Mi memegangi kepalanya yang sakit itu. Aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti itu. Ingin rasanya aku memanggilkan dokter untuknya, namun ia selalu menolak dan beralasan kalau ini hanya pusing biasa.

Sore ini saat kami sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja ponselku berbunyi, ada panggilan masuk. Segera kuambil ponsel itu dari saku celanaku dan melihat siapa yang menelponku, baru kemudian mengangkatnya.

“halo?” sapa orang yang menelponku di seberang sana. Suaranya.. itu merupakan suara yang sangat kurindukan akhir-akhir ini. Ya suara itu milik sosok leader bernama Jung Yun Ho.

“Yun.. Yun Ho?!” tanyaku berusaha meyakinkan diriku kalau yang menelpon ini adalah Jung Yun Ho. “iya ini aku, Jae, Yun Ho. kau sudah lupa ya?” tanyanya dengan suara khasnya.

“ah.. ti.. tidak. ada apa menelponku?” tanyaku, “aku hanya rindu padamu. sudah lama kita tidak bertemu. kau ada dimana sekarang?” tanyanya, “eum.. aku sedang ada di rumah sakit,” jawabku, “MWO?! kau sakit? aigoo~ kenapa tidak bilang padaku? sakit apa k…” pertanyaan Yun Ho langsung kuputus dengan cepat, “bukan aku yang sakit, Yun,”

“ah syukurlah. lalu siapa yang sedang sakit?” tanyanya. “salah satu keluarga kita,” kulirik Cassie yang sekarang sudah tertidur dengan nyenyak. Sejak aku menerima telepon dari Yun Ho tadi, Cassie sudah tertidur. “keluarga kita? siapa Joongie?” tanyanya lagi. “Cassiopeia,” jawabku.

Kami terdiam beberapa saat, hanya terdengar hembusan nafas Yun Ho yang berat. Baru kemudian aku mengeluarkan suara, “sudah dulu ya, Yun. kalau kau mau menjenguk Cassiopeia kita, datanglah kesini besok bersama Chang Min. ohya ajak sekalian Jun Su dan Yoo Chun. oke? daah..” pamitku lalu mematikan telepon tadi.

Aku tersenyum melihat Cassiopeia yang sedang tertidut pulas itu. Kubelai lembut rambutnya yang kecoklatan. Andai saja kau tidak seperti ini, mungkin sekarang kita sedang berpesta, Cassie-ah.

Kuletakkan kepalaku tepat di sebelah tangan putih Cassie sambil tanganku masih tetap menggenggam tangannya. Sedetik kemudian aku sudah tertidur dengan posisi seperti itu.

–.

“ahh.. kepalaku pusing sekali~~” ucap seorang gadis yang suaranya sudah sangat familiar di telingaku. Segera kubuka kedua mataku dan mendongak menatap Cassie yang tengah memijat kepalanya pelan. Raut mukanya terlihat seperti sangat kesakitan, “Cassie-ah gwaenchana? mau kupanggilkan dokter?” tanyaku panik lalu segera beranjak. Tangannya yang sedikit panas itu dengan cepat menggenggam tanganku, “tidak usah oppa. sebentar lagi juga pasti akan sembuh,” ujarnya sambil berusaha tersenyum seolah berusaha meyakinkanku kalau ia baik-baik saja.

“serius?” tanyaku tidak yakin. Ia hanya menjawabku dengan seulas senyuman. “baiklah kalau begitu. ohya, nanti akan ada yang datang menjengukmu Cassie-ah,” ucapku sambil duduk kembali di kursiku tadi. “jinjja? siapa?” aku tersenyum kearahnya sambil melirik lagi jam tangan yang kupakai di tangan sebelah kiriku. Baru saja aku akan menjawab pertanyaan Cassie, terdengar pintu dibukan oleh seseorang. Pasti itu mereka! Aku segera beranjak menemui mereka terlebih dahulu.

“siapa oppa?” tanya Cassie saat aku sedang memeluk Chang Min. Segera kulepaskan pelukanku darinya dan menjawabnya, “sahabat-sahabat oppa, Cassie-ah..” ujarku, “ayo!” kugandeng tangan Chang Min masuk ke dalam ruangan Cassie. “Cassie-ah, ini teman-teman oppa..” ucapku yang membuatnya menoleh menatap kami berlima.

Matanya membelalak kaget melihat kami berlima, “Dong Bang Shin Ki?!” tanyanya tidak percaya. Yun Ho langsung mendekati Cassie yang masih saja menatap kearah kami dengan pandangan tidak percaya, “ne kau benar, gadis cantik. namaku Yun Ho, dan.. siapa namamu?”

“panggil saja aku Cassie, oppa..” ucapnya sambil tersenyum. “Yun, dialah gadis yang sekarang sudah kuangkat menjadi adikku. dia lah yang selalu menjadi teman curhatku. dan Cassie juga lah yang selalu mendukungku selama ini..” ucapku sambil mendekat kearah Yun Ho dan Cassie diikuti YooSuMin.

“Cassie-ah.. sekarang kami sudah berkumpul seperti dulu. katakan apa keinginanmu sekarang! kau ingin kam menyanyi untukmu atau apa? kami pasti akan memberikannya untukmu sekarang juga,” ujar Yoo Chun. Cassie tersenyum dan menjawab, “melihat kalian kembali bersama-sama seperti dulu saja sudah membuatku senang. Jae oppa~” panggilnya. Aku segera menoleh kearahnya, “ya? ada apa?”

“terimakasih untuk semuanya. terimakasih sudah mau menjadi kakak angkatku. terimakasih sudah menjadi teman curhatku. dan terimakasih sudah mau menemaniku di hari-hari terakhirku,” ucap Cassie yang tentu saja membuatku kaget dengan kalimat terakhirnya.

“Cassie.. apa maksutmu?” aku bertanya dengan panik. Aku sangat tidak menginginkan dia untuk pergi sekarang. Cassie mengerjapkan matanya sebentar dan tersenyum lemah padaku, “selamat tinggal~” ucapnya lalu menutup kedua matanya.

Aku yang sudah benar-benar emosi sekarang tidak bisa menahan tangisku dan segera memanggil dokter.

“maaf Nona Jung sudah pergi untuk selamanya,” ucapnya. “GAK MUNGKIN! HYEMI BELUM MATI. DOKTER PASTI BOHONG! TIDAK MUNGKIN HYEMI MENINGGALKANKU SECEPAT INI! DOKTER PASTI SALAH!” teriakku. “Tuan Kim, tenanglah dulu.. Nona Jung sudah pergi sekarang,” ucap Dokter Park lagi. “ENGGAK! DOKTER PASTI SALAH! DOKTER PEMBOHONG! HYEMI GAMUNGKIN MATI NINGGALIN AKU SECEPAT INI!” teriakku lagi. “tenanglah Joongie~ mungkin ini sudah saatnya bagi Cassie untuk pergi,” ucap Yun Ho sambil menepuk pelan pundakku.

Tubuhku menjadi lemas seketika. Kakiku seakan sudah tak bisa menopang tubuhku lagi. Aku terduduk di lantai sambil menangis. Aku masih belum bisa menerima ini semua. Cassie kenapa kau meninggalkanku begitu cepat? ujarku dalam hati.

“saya permisi dulu,” ucap Dokter Park lalu meninggalkan ruangan ini. “terimakasih Dok,” ucap Yun Ho sambil membungkuk. “hyung.. uljjima~” ucap Jun Su dan Chang Min sambil menepuk pelan bahuku. “kalian berempat bisa tolong tinggalkan aku? aku ingin sendiri saat ini,” pintaku. “tapi Jae..” ucap Yun Ho. “kumohon tinggalkan aku sekarang, Yun,” ucapku lagi. “baiklah kalau itu keinginanmu. kalau kau ingin pulang, kau bisa meneleponku dulu. aku akan menjemputmu,” ucapnya lalu beranjak pergi bersama YooSuMin.

Setelah mereka pergi, aku mencoba berdiri meskipun kakiku masih sangat lemas. Aku kembali duduk di kursi yang biasa kududuki. Kutatap wajah Cassie yang pucat itu. Masih ada di wajahnya, seulas senyuman yang tadi sempat ia perlihatkan padaku. Kugenggam tangannya sambil kembali menangis. “Cassie-ah.. kenapa kau tega membuatku sedih seperti ini? kami sudah mengabulkan permintaanmu, tapi kenapa sekarang kau malah pergi? kalau kau pergi, siapa lagi yang akan kujadikan teman curhat hah? kau jahat Cassie-ah!” ujarku kesal sambil masih menangis.

Aneh ya, aku marah-marah pada seseorang yang sudah meninggal sambil menangis. Memang. Haha, Jae Joong baboya!

 

END

2 responses

  1. dongsaeng-a ~ tanggung jawab !! eonni baca ini kan sambil begadang, mana ceritanya sedih pula.. T^T !!! kalo eonni nangis, makin bengkak mata eonni T^T

    October 22, 2011 at 7:12 pm

    • uuu jangan nangis dong eonn~ minta peluk sama hyunseung tuuh. hehe. makasih udah baca^^

      October 29, 2011 at 3:22 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s