Just another WordPress.com site

FanFiction / I Love You

Casts:

–        Kim Jun Su

–        Park Hye Jin

Other Casts:

–        Lee Hyuk Jae (EunHyuk)

–        Kim Jae Joong

Author: mjjejelips

–a

“Ibu, aku pergi ke rumah EunHyuk dulu, ya!” pamitku setengah berteriak karena ibuku sedang memasak untuk makan malam di dapur.

“ya! asal kau jangan pulang malam!” balasnya juga setengah berteriak.

“baiklah!” ujarku sambil melangkah kedalam garasi.

 

Sore ini, aku ada janji akan ke rumah sahabatku, EunHyuk, pukul 4.15 p.m. Kukeluarkan sepeda biru kesayanganku dari dalam garasi, lalu segera mengendarainya menuju rumah EunHyuk.Rumah EunHyuk dengan rumahku jaraknya cukup dekat. Rumah EunHyuk hanya berada di perumahan sebelah. Sambil mengendarai sepedaku, aku menyanyikan lagu Balloons milik grup favoritku, DBSK.

 

Jinagabeorin eorin sijeoren

Pungseonul tago naraganeun yeppeun kkumdo kkueotji

Noran pungseoni haneureul nalmyeon

Nae maeumedo areundaun gieokdeuri saeng-

 

Tunggu. Sepertinya aku kenal dengan gadis itu. Tidak, aku tidak kenal dengannya. Hanya sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya? Ah, ya, diakangadis yang membeli eskrim kemarin. Tapi sedang apa ia disini? Kenapa tangannya menutup mukanya yang menunduk? Apakah ia menangis?

Akhirnya, aku memberanikan diriku untuk mendekati gadis itu. Kuparkirkan sepedaku itu di pinggir jalan. Aku berjalan pelan mendekatinya, berusaha agar tidak membuatnya terkejut. Kuambil saputanganku di saku celanaku yang selalu kubawa setiap hari. Aku menyodorkan saputanganku di hadapannya. Mengetahuiku memberikan saputangan padanya, ia menatapku. OMO~ ia benar sedang menangis. Wajahnya kelihatan basah karna airmatanya itu.

 

Aku tersenyum kepadanya, “pakailah! aku tahu, kau pasti membutuhkannya sekarang,”

Diambilnya saputanganku, lalu ia membersihkan wajahnya menggunakan itu.

Aku kemudian duduk di sampingnya, “kau kenapa menangis sendirian disini? apa kau ada masalah? kau bisa cerita kepadaku kalau kau mau – tapi kalau kau tidak mau, yasudah. aku bukannya ingin tau masalah orang, hanya kalau kau menceritakan masalahmu, kau bisa sedikit lebih lega,”

“tidak, aku hanya ada sedikit masalah tadi. tak usah mengkhawatirkanku,” jawabnya lalu menatap wajahku, “hey, bukankah kau yang kemarin membeli eskrim sebanyak 5buah?” tebaknya.

Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

“tapi untuk apa kau kesini?”

“tidak, aku tadi sebenarnya akan pergi ke rumah temanku, namun saat melihatmua menangis sendirian di sini, kuputuskan untuk mendekatimu,”

“memangnya, dimana rumahmu?”

“rumahku di–” belum selesai aku menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku segera mengangkat teleponku setelah melihat nama yang tertera di screen ponselku.

“halo?” sapaku.

“ah, maaf EunHyuk-ah. sebentar, tunggu aku 5menit lagi,” ucapku lalu mematikan telepon.

“ada apa?” tanyanya setelah aku memasukkan kembali ponselku kedalam sakuku.

“maaf, aku harus pergi sekarang,” ucapku sambil naik ke sepedaku, “daah~”

Kulihat, ia juga melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum.

 

Kukayuh sepedaku cepat menuju rumah EunHyuk. Aku harus sudah sampai rumahnya kurang dari 5menit.

 

“hai, EunHyuk -ah!” ucapku saat melihatnya tengah duduk sambil membaca majalah di teras rumahnya.

“YA! kau ini kenapa lama sekali, huh? bukankah rumahmu hanya berada di sebelah perumahanku?” tanyanya tanpa membalas sapaanku sambil menutup majalah yang ia baca tadi.

“iya. aku minta maaf sudah membuatmu menunggu lama. tadi aku bertemu temanku di jalan. maaf,” ucapku berbohong.

“ah, yasudahlah. yang penting kau sudah sampai. ayo masuk!” ajaknya lalu masuk dan aku hanya mengikutinya dari belakang, “aku tadi membeli kaset game terbaru. maka dari itu, aku mengundangmu ke rumahku untuk menemaniku memainkan game itu. kau tentu mau,kan?” tanyanya dan dengan cepat kujawab dengan sebuah anggukan kepala.

“wow! Hyukkie-ah, ini bukankah game yang paling baru?” tanyaku ketika melihat kaset game-nya di kamar EunHyuk.

“hm, itu memang kaset game yang paling baru. aku sudah mengatakannya tadi,kan?” jawabnya, “sudahlah, ayo main!” ajaknya.

Kemudian, kami bermain bersama di dalam kamar EunHyuk. Sesekali kami beristirahat sambil meminum jus jeruk yang dibuatkan oleh pembantu di rumah EunHyuk.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 p.m. Itu tandanya aku harus pulang sekarang, kalau tidak ibu pasti akan memarahiku lagi seperti kemarin, saat aku pulang dari rumah JaeJoong hyung, sepupuku.

“mm, Hyukkie-ah, sepertinya sudah malam. aku harus pulang sekarang,” ucapku padanya.

“memang kenapa kalau sudah malam? kau takut pulang sendiri? kalau kau takut, akan kuantar, tenanglah!” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv.

“bukan, bukan itu. tadi Ibuku berpesan padaku agar tidak pulang malam karena kami akan makan malam bersama dengan kakakku, JaeJoong, yang baru saja pulang dari Jepang,”

Ia mem-pause game-nya, lalu menatapku, “kalau kau mau pulang sekarang, pulang saja. sekalian, titipkan salamku pada JaeJoong hyung dan orang tuamu,”

Aku berdiri dari dudukku, dan EunHyuk mengikutiku, “aku pulang dulu, ya,” pamitku.

“ya, hati-hati di jalan, Su-ie,” jawabnya.

Aku berjalan keluar dari kamar EunHyuk menuju pintu. Segera kunaiki sepedaku, dan pulang ke rumah. Setelah memasukkan sepedaku di garasi, aku segera berjalan masuk.

“aku pulang!” ucapku setelah memasuki rumah. Kulepas sepatuku, dan berjalan menuju kamarku yang terletak di lantai dua.

Kurebahkan sebentar tubuhku ini di kasurku sebelum JaeJoong hyung masuk ke dalam kamarku dan menyuruhku turun untuk makan malam. Aku berjalan di belakang JaeJoong hyung mengikutinya menuruni tangga. Orang tua kami ternyata sudah menunggu di meja makan. Aku dan JaeJoong hyung segera duduk di kursi yang berada di depan orang tua kami. Kami semua mulai makan malam bersama. Ayah dan Ibu juga terus-terusan menanyai JaeJoong hyung mengenai kuliahnya di Jepang saat kami sedang makan. Karena aku yang paling sedikit bicara saat makan malam tadi, aku selesai duluan daripada yang lain. Setelah menaruh piring di dapur, aku menaiki tangga menuju kamarku untuk istirahat. Baru 10menit aku merebahkan tubuhku di kasur, tiba-tiba saja JaeJoong hyung masuk ke dalam kamarku tanpa permisi. Inilah yang sedikit aku tidak suka darinya. Ia selalu saja masuk ke kamarku tanpa permisi. Sebenarnya aku ingin mengunci kamarku agar ia tak lagi masuk ke kamarku tanpa permisi, tapi sebuah kejadian saat aku kecil membuatku tak berani mengunci kamarku lagi sejak saat itu.

JaeJoong hyung berjalan ke arahku yang sedang tiduran lalu ia ikut berbaring di sebelahku, “besok kau libur,kan?”

“hm. ada apa memangnya?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari langit-langit kamarku.

“mau menemaniku jalan-jalan ke mall? aku ingin membeli baju baru,”

“tidak mau,” tolakku.

“YA! kenapa tidak mau?” tanyanya sambil mengubah posisinya menjadi duduk dan menatapku.

“hyung ini kalau sudah membeli baju di mall, pasti akan sangat lama. dan aku tidak suka disuruh menunggu lama-lama,” jawabku.

“huh, baiklah, kali ini hyung tidak akan lama. hyung janji, paling lama hanya satu jam. oke?”

“janji?” tanyaku manatap wajah hyung-ku yang cantik sekaligus tampan itu.

Ia tersenyum, “janji,”

“baiklah. akan kutemani besok. sekarang aku mau tidur dulu,”

“mm, JunSu-aa~~” panggil JaeJoong hyung.

“ya hyung? ada apa lagi?”

“hyung boleh tidur disini ga? hyung malas tidur di kamar hyung. boleh ya?”

“hm.. terserah hyung saja lah,”

“makasih, JunSu-aa~ JunSu imut deh,” ujarnya.

“ah, terserah. aku mau tidur dulu hyung. selamat malam!” ujarku lalu menarik selimut.

 

JaeJoong hyung beranjak mematikan lampu, kemudian kembali tiduran di sebelahku. Tak lama, aku sudah mendengar degkuran halus dari kakakku ini. dia pasti kelelahan, pikirku. Kupejamkan mataku, dan sebentar saja aku sudah tertidur.

 

 

@ mall

“ya, hyung, cepatlah sedikit! aku sudah bosan disini!” ujarku kesal pada JaeJoong hyung. Masalahnya, kami sudah berada disini selama lebih dari dua jam. Ia telah berbohong padaku. Awas saja, kalau 10menit lagi JaeJoong hyung belum akan beranjak dari tempat ini, aku tidak akan mau menemaninya belanja baju lagi, ujarku dalam hati.

“hyung, cepatlah!” ujarku lagi.

“iya, iya. yasudah, ayo ke kasir!” ajaknya sambil membawa baju-baju yang dibelinya.

Kami berdua berjalan menuju kasir. Aku senang karena kami sudah akan membayar semua ini, namun kesenanganku tidak bertahan lama. Memang, yang antri disitu tidak terlalu banyak, namun barang-barang yang mereka beli sangatlah banyak. Ya, mungkin ini karena disini sedang ada sale besar-besaran. Aku semakin lemas karena hanya kasir ini yang antriannya tidak terlalu banyak. Aku berjalan malas mengikuti hyung-ku mengantri.

Setelah menunggu selama hampir setengah jam, akhirnya tiba giliran kami membayar. Sesudah membayar, aku mengikuti JaeJoong hyung berjalan keluar dari took baju.

“bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang? kau tentu sudah lapar,kan?” tanya JaeJoong hyung.

“hm, baiklah. aku juga sudah lapar,” jawabku.

Kami berjalan menuju salah satu rumahmakan yang terletak di lantai atas. Setelah mendapatkan tempat duduk yang kosong, kami duduk di situ dan memesan makanan.

“ohya hyung, kemarin EunHyuk menitipkan salam untukmu. kemarin karena kelelahan, aku lupa menyampaikannya padamu,” ucapku setelah pelayan tadi pergi meninggalkan kami berdua.

“oh, oke,” jawabnya singkat, “ohya, mulai sekarang hyung tidak akan kembali ke Jepang lagi,”

“heh? kenapa memangnya? kuliah hyung sudah selesai?” tanyaku.

“sudah. lagipula hyung juga sudah mendapatkan pekerjaan diSeoul,” jawabnya sambil tersenyum padaku.

Tepat saat ia menjawab pertanyaanku, pesanan kami datang.

“hyung sudah mendapat pekerjaan? pekerjaan apa hyung?” tanyaku lalu memakan makananku.

“model,” jawabnya lalu melanjutkan makannya.

“jinjjayo?” tanyaku terkejut.

“iya, harus kukatakan berapa kali agar kau percaya, hm? sudahlah, cepat habiskan makanmu,” perintahnya.

Kami pun melanjutkan makan siang kami. Setelah menghabiskan semua makanan, JaeJoong hyung membayarnya. Saat kami sedang berjalan menuju mobil, tiba-tiba saja ponselku berbunyi.

“halo?” sapaku saat mengangkat telepon.

“siapa gadis itu, Bu?”

“ah, ya ya baiklah. kami akan segera pulang sekarang,” ujarku mengakhiri telepon.

“ada apa?” tanya JaeJoong hyung begitu aku memasukkan ponselku ke dalam saku celanaku.

“Ibu menyuruh kita pulang sekarang, hyung. ada seorang gadis yang menungguku di rumah,” jawabku.

“naaah, ketauan.. kau sudah punya pacar, yaa? kenapa kau tidak kenalkan pada hyung-mu ini, hm?”

“YA! hyung jangan berkata sembarangan! aku ini belum punya pacar, hyung,”

“alaah, kau tak usah berbohong padaku. mengaku sajaa~” godanya.

“ah, terserahlah. ayo pulang sekarang!” ujarku kesal.

“iyaa, adikku yang imuut~” jawabnya lalu menghidupkan mesin mobil, dan menjalankannya menuju rumah kami.

“kami pulang!” ucapku dan JaeJoong hyung hampir bersamaan.

Saat itu juga, aku melihat gadis yang kemarin sedang duduk di sofa ruang tamu. Kuhampiri gadis itu, sementara JaeJoong hyung langsung masuk ke dalam.

“annyeong haseyo~” ucapnya sambil membungkuk padaku, tentunya aku juga membalasnya.

“kau kenapa bisa disini? bukannya aku kemarin tidak jadi memberi tau padamu letak rumahku?” tanyaku bingung, lalu duduk di sebelahnya dan ia mengikutiku.

“kemarin kau memang tidak memberi tau padaku dimana rumahmu, tapi di saputangan yang kau berikan kemarin itu ada namamu. dengan namamu itu, aku jadi bisa tau dimana rumahmu,” jelasnya.

“oh,”

“ah ya, ini saputanganmu, JunSu,” ucapnya sambil menyodorkan saputanganku.

“terimakasih. tapi ngomong-ngomong, siapa namamu?”

“Park HyeJin. panggil saja aku, HyeJin,”

“hm, baiklah. karena kau telah mengembalikan saputanganku, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? nanti kau akan kutraktir eskrim, deh. bagaimana?” usulku.

Ia hanya tersenyum lalu mengangguk cepat.

“Ibu, aku pergi dulu ya!” pamitku setengah berteriak.

“yaa,” jawabnya.

Kami berduapun keluar dari rumah, dan jalan-jalan di sekitar rumahku. Selama kami jalan-jalan, kami mengobrol banyak hal. Mulai dari rumahnya, sekolahnya, sampai hobinya. Aku sepertinya merasa cocok dengannya. Kami membeli dua buah eskrim, satu untuknya dan satu lagi untukku. Kami berdua makan eskrim di taman yang terletak di depan toko eskrim tadi, kami berdua kembali mengobrol. Ia juga sering membuatku tertawa dengan tingkahnya yang lucu. Menyadari hari semakin sore, kami memutuskan untuk kembali ke rumahku.

“mm, JunSu, aku pulang dulu ya. tolong pamitkan pada bibi, dan keluargamu yang lain. daah~” ucapnya lalu pergi menggunakan skuter pink-nya.

Setelah ia pergi, aku berjalan masuk ke dalam rumah. Bukannya pergi mandi, aku melainkan langsung berjalan menuju kamarku.

“naah, ketahuan. tadi itu pasti pacarmu. iya,kan?” ujar JaeJoong hyung yang sedang membaca komik di kasurku begitu aku masuk ke dalam rumah.

“YA! hyung kenapa bisa ada disini?” tanyaku balik.

“hyung malas berada di kamar hyung. ayolah, kau mengaku saja kalau tadi itu pacarmu. iya,kan?”

“sudah kukatakan kalau gadis tadi itu bukanlah pacarku. aku saja beru mengenalnya,”

“kalau baru mengenalnya kenapa bisa saputanganmu ada padanya?”

DEG. Harus kujawab apa ini?

Aku diam tidak menjawab pertanyaannya, melainkan mengambil baju di lemari, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Selesai mandi, aku turun ke bawah untuk makan malam bersama. Makan malam kali ini adalah makan malam yang paling tidak kuinginkan. Masalahnya, JaeJoong hyung selalu saja menggodaku tentang HyeJin. Dan parahnya, ayah dan ibu bukannya menghentikan hyungku, tapi malah ikutan menggodaku. Selesai makan malam, aku langsung membawa piring kotorku ke dapur, lalu bergegas naik ke lantai atas. Kurebahkan tubuhku yang sangat capek ini di kasur. Sambil memainkan ponselku, aku menimbang-nimbang sesuatu. Beranikah aku untuk mengajaknya jalan-jalan? Setelah 5 menit berpikir, akhirnya kubernikan untuk memencet nomor teleponnya.

“halo?” sapanya, “siapa ini?”

“a..aku JunSu, HyeJin-ah,” jawabku sedikit gugup.

“ah ya, JunSu. ada apa? kenapa malam-malam menelponku?”

“tidak. mm, apa yang sedang kau lakukan sekarang?” tanyaku basa-basi, berusaha agar tidak gugup.

“aku sedang mengeringkan rambutku. ada apa?”

“ah, tidak. besok kau ada waktu?”

“mm, ada. kenapa?”

“mm..” aku bingung mau mengatakan apa padanya. Tidak mungkinkan, kalau aku mengajaknya berkencan. Kamikanbaru saja berkenalan, “maukah kau besok menemaniku jalan-jalan lagi?” tanyaku pada akhirnya.

“mm.. boleh. kapan? dimana?” tanyanya.

Aku bersorak dalam hatiku. Kemudian kuberitau dia kapan dan dimananya.

“baiklah,”

“yasudah, aku tidur dulu, HyeJin-ah. malam~” ucapku mengakhiri telepon.

“malam, JunSu~” balasnya.

 

Setelah telepon berakhir, kuletakkan ponselku di meja yang terletak tepat di sebelahku. Aku benar-benar tak sabar menunggu hari esok. Kupejamkan kedua mataku, mencoba untuk tidur. Dan sebentar saja, aku sudah berada di alam mimpi.

 

 

2 months later

Sudah 2 bulan sejak pertemuan kami saat itu. Sudah 2 bulan juga, aku dan HyeJin bersahabat. Selama 2 bulan ini, kami melakukan semua hal bersama-sama. Dan selama 2 bulan ini juga, aku sudah menyimpan rasa sukaku padanya.

Hari ini, aku berniat menjemput HyeJin di rumahnya untuk pergi jalan-jalan ke mall. Rencananya, aku mau menyatakan perasaanku padanya nanti pada saat kami makan malam bersama.

Sesampainya di rumah HyeJin, aku segera turun dari mobilku dan berjalan kedepan pintu rumahnya. Kemarin aku memang tidak memberi taunya kalau hari ini aku akan mengajaknya jalan-jalan sekaligus makan malam, karena aku ingin memberinya kejutan. Hari ini, tepat tanggal 15 Desember, aku berulangtahun.

TOK.. TOK..TOK..

ceklek~

“ah, nak JunSu. ada perlu apa?” tanya seorang wanita, yang sudah cukup akrab denganku. Ia adalah ibu-nya HyeJin.

“selamat pagi, Bi. aku mau mencari HyeJin, aku ingin mengajaknya pergi. HyeJin ada tidak, Bi?” tanyaku sopan.

“loh? nak JunSu belum diberi tahu oleh HyeJin? HyeJinkansudah pergi ke Jepang pagi-pagi sekali. ah, pasti karena tadi terlalu terburu-buru, ia tidak sempat mengabarimu,”

“ke Jepang?” tanyaku meyakinkannya.

Ia hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.

“pesawatnya berangkat jam berapa, Bi?”

“kalau tidak salah pukul 10. ada apa?”

“ah, tidak, Bi. yasudah, saya pamit dulu. permisi,” pamitku padanya sambil membungkuk, lalu sedikit berlari menuju mobil.

kalau pukul 10, berarti aku masih punya waktu 30menit lagi untuk menyusulnya ke bandara, ujarku dalam hati.

Segera kujalankan cepat mobilku menuju bandara yang letaknya lumayan jauh dari bandara. Sesampainya di bandara, aku segera memarkirkan mobilku, lalu berlari masuk ke dalam.  Kuharap HyeJin belum berangkat. Kulihat, ada sebuah pesawat yang baru saja lepas landas. Mudah-mudahan saja itu bukan pesawat yang dinaiki HyeJin.

“permisi, kalau boleh tau, pesawat yang akan berangkat pagi ini, sudah berangkat atau belum?” tanyaku pada seorang pegawai di bandara ini.

“pesawat yang baru saja lepas landas barusan, adalah pesawat yang menuju Jepang pagi ini,” jawabnya.

Tubuhku langsung lemas seketika. Bodoh, kenapa tidak daridulu saja aku mengatakan yang seujujurnya pada HyeJin?

Aku berjalan malas menuju tempat mobilku kuparkirkan. Dengan malas, aku menyetir mobilku pulang ke rumah.

 

 

1 months later

Sudah 1 bulan semenjak kepergian HyeJin ke Jepang. Dan selama itu juga, HyeJin tak memberikan kabar apapun padaku.

Pagi ini, aku ingin pergi jalan-jalan bersama EunHyuk. Saat keluar dari rumah, aku menemukan sebuah amplop hijau dan boneka lumba-lumba yang lucu tergeletak di kursi teras rumahku. Saat kubaca, ternyata itu untukku. Aku duduk di kursi teras, sambil membuka amplop itu. Dan ternyata, di dalam amplop itu ada sebuahsurat. Segera kubaca isisuratitu.

 

Untuk JunSu-ku yang imut,

JunSu-ah, bagaimana kabarmu sekarang? Bagaimana dengan JaeJoong oppa, paman, dan bibi? Apa mereka semua baik-baik saja? Yah, kuharap begitu.

Maaf, dulu aku meninggalkanmu tanpa pamit. Aku sedang terburu-buru saat itu. Aku pergi ke Jepang, untuk melanjutkan kuliahku yang sempat tertunda tahun lalu. Kau pasti bingung, kan? Oke, akan kujelaskan semua ini. Sebenarnya, umur kita sama dan seharusnya juga saat ini aku masih sma, sama sepertimu. Namun, saat sd, aku mengikuti kelas akselerasi. Dan itulah yang membuatku sudah kuliah sekarang.

Ohya, aku lupa mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Selamat ulang tahun, JunSu-ah. Aku juga memberimu hadiah berupa boneka lumba-lumba yang kukirim bersama dengan surat ini. Awalnya, aku bingung mau memberimu hadiah apa, namun begitu aku ingat kalau suaramu itu mirip lumba-lumba, jadilah aku memberimu hadiah boneka lumba-lumba. ehehe ^^ walaupun aku sudah terlambat mengucapkannya dan memberimu hadiah, kau mau menerimanya, kan?

Singkat saja, sebenarnya maksutku menulis surat ini adalah aku ingin mengucapkan sesuatu padamu.Entah kenapa aku terlalu percaya diri dengan apa yang mau kuungkapkan padamu. Terserah, kau mau menerimaku atau tidak.

JunSu-ah, aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi pacarku. Maukah kau?

Salam hangat, HyeJin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s